Luh Ayu Writing

From mind to words

Ngga makan yang hidup March 2, 2010

Filed under: kuliner,Mind — luhayu @ 11:30 am

Ya iyalah, sebagian besar orang yang ‘normal’ pasti makan sesuatu yang udah mati/dibunuh dulu lah ya. Tapi maksud saya nggak makan yang hidup-hidup itu, seperti misalnya: nggak makan daging ayam yang saya sendiri yang membunuhnya, atau saya yang meminta untuk membunuhnya. Misalnya begini: Untuk mendapatkan daging yang yakin segar saya beli ayam hidup, lalu saya sembelih sendiri di rumah. Kalo yang ini ampun-ampun deh, jangan suruh saya. Atau, saya ke pasar tunjuk-tunjuk ayamnya, lalu saya bilang ke yang jual, saya beli yang itu pak tolong disembelihin dan dibersihin. Itu juga saya gak mau. Nggak cuma untuk ayam, untuk semua jenis daging dan binatang laut juga saya gak mau.

Kalau ada pemilik/pelayan restoran yang bilang dengan bangga, semua ikan/udang/kepiting disajikan segar, dimasak hidup-hidup atau ikan dipanen dari empang begitu ada pesanan. Maka saya lebih baik ga jadi makan disana, atau saya pilih menu yang berasal dari hewan yang memang sudah mati. Saya pesan atau tidak saya pesan, dia sudah menemui ajalnya, jadi bukan karena saya yang memesannya untuk membunuhnya. No thanks. Atau lebih baik kalau sudah lapar sekali, saya beli sayurnya aja, kalo ada tahu dan tempe, syukurlah. Apalagi kalau ada sambal, makin nggak masalah kalo saya gak jadi makan daging hari itu.

Intinya saya gak mau jadi penyebab kematian suatu mahluk, meskipun katanya mahluk-mahluk itu tersedia untuk manusia. Masih banyak mahluk yang sudah dibunuh terlebih dahulu, daripada dia mati sia-sia, ya saya gunakan dia untuk kebutuhan saya tapi bukan untuk keinginan saya. Artinya saya makan dia karena saya butuh makan, bukan karena saya ingin makan kepiting saus padang segar, ikan panggang yang gurih yang konon cuma ada di suatu restoran dan demi mendapat kelezatannya, yang terbaik adalah yang dimasak segera setelah dibunuh, atau kalo udang malah yang enak katanya udang mabok, jadi udangnya masih hidup dimasukkan di wajan. Oh please deh.

Oke ini masalah pilihan dan prinsip, setiap orang boleh memilih apa yang mau dimakan. Begitu juga saya :)

 

Ulang Tahun January 22, 2010

Filed under: Mind — luhayu @ 9:27 pm

Sebenarnya saya sendiri tidak pernah mempermasalahkan orang mau merayakan ulang tahunnya atau tidak. Merayakan dengan besar-besaran atau kecil. Merayakan dimana, dengan siapa dan habis berapa,benar-benar bukan urusan saya. Pun juga alasan kenapa ulang tahun mesti dirayakan, atau cukup sekedar diingat saja. Apalagi sampai dihubung-hubungkan dengan tingkat spiritualitas atau tingkat kebaikan seseorang.

Yang membuat saya kemudian berniat membahas tentang ini adalah setelah tak terhitung berapa puluh kali sejak saya ingat bahwa ada yang namanya pesta ulang tahun sampai sekarang ini, saya mendengar ada orang yang memperdebatkan ulang tahun. Waktu kecil saya tahu bahwa ulang tahun pertama saya dirayakan, dan itupun saya tahu karena melihat foto dan diceritakan oleh orang tua saya. Saya lihat di foto itu, ada beberapa teman-teman kecil saya dan tentu saja bapak ibu dan beberapa anggota keluarga yang lain. Dan yang paling luar biasa yang saya lihat dan kenang adalah kue ulang tahun saya. Karena bapak hobi foto-foto, maka kue ulang tahun saya terdiri dari susunan kotak pembungkus film (kodak dan fuji), yang disusun menyerupai piramid, di bagian dasarnya dihias bunga-bunga yang dipetik dari kebun, dan paling atas ada kue keciiiil (saya ngga inget itu kuenya apa, jangan-jangan kue lapis buatan nenek saya yang memang jualan kue-kue basah hehe) plus lilin tentu saja. Kue ultah yang unik kan? Dan bisa dibayangkan bukan kreatifitas bapak saya dan cintanya orang tua saya. Karena jaman dulu itu beli kue tart adalah kemewahan, maka demi anak bisa berulang tahun, bapak mengeluarkan kreatifitasnya. Dan itu salah satu yang sangat saya kagumi dari bapak, bapak sangat kreatif dan nyeni!! Tapiiii dulu pun, sewaktu SD, sewaktu saya bercerita soal ulang tahun saya yang dirayakan itu, sudah ada lho teman saya yang berkomentar tidak setuju. Katanya,”Ngapain ikut-ikutan ngerayain ulang tahun? Itu kan budaya nya toris. Kita orang Bali sudah punya ulang tahun sendiri, kan tiap 6 bulan kita merayakan otonan. Itu lebih penting buat kita orang Bali”. Hmmm waktu itu saya mikir, iya ya saya kan orang Bali dan tiap 6 bulan sudah dibuatkan otonan oleh ibu saya. Dan sayapun ikut-ikut an tidak setuju dengan anak-anak yang berulang tahun ala toris. (Kalo dibali seringkali setiap orang berkulit terang dengan rambut warna-warni disebutnya toris :D )  Namun seiring berjalannya waktu, saya sadar bapak ibu saya tidak sekedar ikut-ikutan, hmmm mungkin iya ada unsur itu, tapi kok ya sekarang saya lebih melihat ke betapa sayangnya bapak dan ibu kepada saya. Dengan segala keterbatasan ingin membuat anaknya bahagia. Karena begitupun yang saya lakukan dan rasakan sekarang, saya senang merayakan ulang tahun saya karena senang melihat anak saya tersenyum dan tertawa dengan kedatangan teman-temannya. Tidak masalah pesta kecil-kecil an, walaupun kadang ingin sih memberikan yang terbaik dari segi harga, tapi ya saya masih rasional kok masih ngukur dengan kemampuan kantong dan kemampuan tenaga, karena saya tidak mau ulang tahun anak saya bikin repot orang banyak. Pengennya sih pake organizer, tsaaah gaya…, tapi ya itu tadi ya ngga cucok lah di kantong.

Bicara masalah biaya. Seriiiiing sekali hal ini diperdebatkan. Kalau ada yang berpesta besar-besaran, langsung dikaitkan dengan empati dan toleransi. Mbok ya uangnya disumbang…. mbok ya ga usah terlalu ditunjukin kalo situ orang kaya…. Lho itu uang mereka toh? Terlepas urusannya dapet dari mana, dan sekali lagi itu juga bukan urusan kita, ya sah-sah aja dia pake uangnya. Masalah disumbangkan, memangnya kita tahu dia berdana atau nggak? Mana tahu dia berpesta 1 M setelah sebelumnya menyumbang 3M tapi ga bilang-bilang. Nanti kalo dia bilang-bilang nyumbang, masih dikomentarin lagi, nyumbang kok gembar-gembor! Trus sering ada yang bilang ga usahlah nunjukin banget kekayaannya atau status sosialnya, hmmm saya ingin bertanya deh sama yang ngomong seperti  itu, kalau dia punya uang sebanyak itu sekali dua kali atau setiap kali ulang tahun, yakin nih nggak bakal pesta-pesta???  Walaupun saya tahu ngga semua orang seperti itu dan masih ada orang-orang yang ‘tidak biasa’ seperti itu. Ya nikmatin aja, biarkan mereka berpesta, kita nikmati gaya berbusana nya, kita nikmati dekorasi pesta nya (ahahaha itu sih saya banget), kita nikmati foto-foto lezat hidangan pestanya yang walaupun cuma foto tapi sanggup bikip hati senang. Iya nggak? kalo saya sih iya hehehe. Trus kalo habis menggelar pesta dan nggak lama kemudian ada berita bahwa yang bersangkutan terlibat tindak pidana entah korupsi atau perusahaannya terancam dipailitkan, ya nggak usah di ‘sukurin loe!!” atau diperpanjang lagi ceritanya. Nambah-nambahin mumet kepala sendiri itu namanya.

Lalu masalah esensi merayakan ulang tahun. Paliiiiing suka kita membahas ini. Mengapa harus berulang tahun? Sebenarnya apa yang ingin ‘dirayakan’ atau tepat nggak sebuah pertambahan umur dirayakan? Padahal bertambah umur berarti semakin berkurang jatah hidup di kehidupan ini, tapi kok dirayakan, gimana sih jeung gimana sih oom? Ada yang bilang untuk mensyukuri diberikan umur sampai sekian tahun, ada yang bilang untuk mengingatkan diri udah makin tua jadi mesti semakin bijaksana ada juga yang bilang kalo nggak ada yang ultah seperti ini susah nih bisa kumpul-kumpul. Apapun alasannya, itu hak pribadi orang lho, nggak usah dihakimi nggak usah dinilai-nilai. Setiap orang berhak bahagia setiap orang berhak meraih rasa bahagianya termasuk dengan cara merayakan ulang tahun sesuai kondisi mereka.

Jadi kesimpulannya, yaaa saya masih nggak ngerti juga sih sebenarnya kenapa ya orang masih suka banyak komentar kalo ada yang merayakan ulang tahun?

 

Bali Nggak Perlu Kasino October 22, 2009

Filed under: bali,Environment,Mind — luhayu @ 3:08 pm

Ketika sedang menghias vihara untuk sebuah acara (seperti biasa saya kebagian merangkai bunga), terjadi pembicaraan berikut:

Ibu A:  “Wah yang baru pulang dari Hongkong, gimana Macau?”

Mas B: “Macau udah banyak berubah….tambah bagus deh. Padahal cuma mengandalkan judi”/

Ibu A: “Iya tuh mestinya Bali seperti Macau, legalkan saja kasino. Bagus deh Bali.”

mas B: “Iya betullll….setuju….”

Saya sih cuma diem aja, padahal saat itu disana cuma bertiga. Saya diam karena saya nggak setuju, tapi saya males berdebat. Apalagi sedang di vihara, dan mereka lupa kali yah Sang Buddha aja menyebutkan ‘Bermata pencaharian yang Benar” sebagai salah satu jalan mencapai kesempurnaan. Tapi apa daya, usaha saya diam karena malas berdebat sepertinya gagal, karena dengan diamnya saya jadinya malah ditanya: “Iya kan Yu…bener kan????” Hmmmmmm hmmmmm saya waktu itu cuma begitu aja, mendengung seperti lebah, karena memang sedang nggak mood berdebat, dan saya juga liat-liat sih mana yang bisa diajak bicara dan mana yang cuma akan berakhir seperti pepesan kosong, jadi buat apa buang-buang energi?

Jadi alasan saya tidak setuju, cukup saya tuliskan disini saja. Ya, saya tidak setuju karena saya ingin Bali itu ya Bali, Bali bukan macau, bukan juga Las Vegas, bukan juga India, Bukan juga Tibet. Tapi Bali ya Bali, yang memiliki keunikan tersendiri, yang sudah selayaknya bangga dengan keunikan yang dia punya, tanpa harus sama dengan daerah lain. Justru karena Bali unik, maka banyak yang berkunjung ke sini bukan? Bahkan banyak yang tidak sekedar berkunjung, tapi kemudian memperoleh pencerahan. Ya di Bali tempatnya, sebuah tempat yang menurut sebuah buku yang pernah saya baca (tapi maaf lupa judul dan yang mengucapkan kalimat ini), bahwa Bali adalah salah satu dari tiga tempat yang aura dan getarannya paling baik dan kondusif untuk bermeditasi. Jadi inginnya saya, yang mau berjudi ya silakan ke macau yang mau mencari ketenangan bathin, datanglah ke Bali. Yang mau dugem, ya silakan dugem, dengan segala resiko ditanggung sendiri tentunya. Bukannya saya sok suci, tapi saya menyadari memang sulit menghilangkan dualitas selama dunia masih ada. Jadi sekarang tinggal kita yang memilih akan ada di sisi mana. Bahagia mana yang akan kita pilih. Begitu aja, dan pokoknya nggak setuju kalo Bali mesti sama dengan tempat lain, apalagi nyamain hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan agama yang kita anut. Katanya umat beragama, tapi kalo udah urusan duit, agamanya ditinggal dulu, begitu kali yaaaa……

BTW, sekarang sedang seru syuting Eat, Pray, Love. Nah kalau bukan karena Bali itu berbeda, si penulis itu nggak akan datang ke Bali untuk menghasilkan karya luar biasa bukan???

 

Sebuah Penerimaan September 16, 2009

Filed under: Mind — luhayu @ 5:20 am

Menerima alias iklas. Gampang diucapkan sulit dipraktekkan, tapi bukannya tidak mungkin.

Ketika mendapat sebuah pelajaran yang seringkali disebut musibah/cobaan/ujian, lebih sering kita mencari faktor penyebab di luar diri. Jarang sekali kita langsung mencari di dalam diri, ada apa dengan saya? Apa yang sudah saya lakukan sehingga ini terjadi?? Lebih sering faktor external yang dicari, dicaci, dihujat, disalahkan. Akibatnya, sulit…sulit sekali menerima sebuah kejadian menjadi hanya sebuah kejadian. Tanpa menghubungkannya dengan hal-hal lain, yang alih-alih bisa menyelesaikan masalah, malah lebih sering menambah masalah.

Tapi ketika kita sampai pada sebuah titik, menyadari bahwa yang terjadi adalah rangkaian proses sebab akibat dari diri kita sendiri, entah mengapa, rasa menerima itu lebih mudah didapat. Menerima bukan berarti pasif semata. Pasif  pada nasib apalagi yang namanya takdir. Karma pun bisa diubah atau direduksi efeknya bukan? Karma buruk berbuah manis ketika timbunan karma baik mencukupi untuk menetralisirnya. Karma baikpun bisa berubah buruk ketika kita lupa menanam sebanyak-banyaknya karma baik, terbuai oleh sisa-sisa karma baik yang rasa-rasanya sudah kita perbuat, ibarat makan nasi basi.

Dan ketika rasa menerima sudah kita genggam, entah kenapa semua masalah tidak lagi terasa seberat sebelumnya. Yang muncul optimisme dan keyakinan bahwa segala sesuatu ada awal dan akhirnya. Akhir dari cerita memang kita tidak pernah tahu, akankah baik atau buruk. Tapi karena sudah menerima, kita siap konskwensinya, ketika akhir yang buruk yang datang, hati lebih siap, kepala tetap tegak menerimanya. Sesakit apapun rasanya. Mungkin akan ada air mata, tapi mudah-mudahan adalah air mata kelegaan.

Memang dalam hidup pelajaran selalu datang. Lulus dalam satu mata ujian, belum tentu akan lebih mudah melalui ujian berikutnya. Tapi bukankan memang demikian hidup yang benar-benar hidup?? Tidak selalu lurus, kadang berbelok. Tidak selalu nyaman, kadang berkerikil. Tapi saya yakin itulah yang menyempurnakan saya, untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Itu harus!!!

 

Yak Anda Beruntung!! June 23, 2009

Filed under: ASI,Baby,Mind — luhayu @ 3:54 pm

Terkadang kita membutuhkan ucapan orang lain untuk menyadari keberuntungan kita

Dulunya saya menganggap kejadian ini biasa-biasa saja. Tapi tadi saya diingat bahwa saya sebenarnya beruntung dalam kejadian itu.

Ceritanya saya ikut sebuah milis kesehatan. Kebetulan hari ini ada yang bertanya soal ASI dan kutipan pertanyaannya seperti ini: “Saya baru melahirkan 3 minggu yang lalu dan berniat sekali memberikan ASI kepada si kecil, tetapi ASI yang ada hanya sedikit sekali. Apakah banyak/sedikitnya ASI itu dipengaruhi oleh faktor keturunan juga? (Menurut mama saya, beliau dulu juga sedikit ASI nya).

Saya juga sudah diberikan suplemen (berupa vitamin) untuk menambah produksi ASI, jumlah ASI memang lebih banyak sedikit, tapi tetap tidak cukup untuk si kecil. Kalau saya menerapkan FC sekarang, apakah masih bisa menambah produksi ASI (mengingat sudah hampir sebulan)? Saya pengen sekali untuk memberikan ASI sepenuhnya atau setidaknya lebih banyak ASI dibandingkan jumlah susu formula kepada si kecil.

Karena merasa berpengalaman alias pernah mengalami hal yang sama, maka saya reply pertanyaan tersebut. Dan kutipan jawaban saya seperti ini:

Hi mbak.

Setahu saya ASI tidak dipengaruhi factor keturunan, tapi sangat dipengaruhi
mindset. Saya mengalaminya.
Sebagian besar lingkungan saya tidak terlalu mendukung pemberian ASI
eksklusive (tapi saya beruntung suami amat sangat mendukung).
Sehingga saya dicekoki terus bahwa ASI saya tidak akan mencukupi, HARUS
‘dibantu’ susu formula. Tapi di hari ke 21, saya ke dokter anak untuk minta
saran mengenai produksi ASI saya, karena saya tidak mau anak saya mendapat
campuran susu formula. Dan Cuma gara-gara si dokter bilang, kamu nggak perlu
khawatir, asal cara menyusui kamu benar dan makananmu baik dan bergizi, kamu
PASTI bisa kasi ASI exclusive, anakmu TIDAK AKAN kekurangan ASI. Percaya
nggak percaya mbak, karena saya begitu yakin dengan kata2 si pak dokter,
sampe di rumah ASI saya lancar dan hari itu juga anak saya nggak perlu susu
formula. Dan tentu saja cara menyusui saya juga diperbaiki sesuai saran
dokternya.
Oh ya kalau dokter kandungan saya bilang, minum supplemen ASI sebenarnya
nggak ngaruh. Mungkin karena minum itu jadi kita pede makanya ASI nya banyak
dan lancar. Dan yang penting selalu disusui supaya sistemnya lancar

Nggak lama kemudian ada reply dari moderator milis tersebut yang bilang begini:

Wah untung mbak Ayu ketemu dokter yg benar

Hmmmm jawaban itu kemudian membuat saya berpikir, apakah benar saya beruntung? Kemudian saya mengingat lagi kejadian lebihd ari setahun yang lalu itu. Saya ke dokter anak untuk konsultasi ASI karena saya tidak mau anak saya mendapat asupan susu formula. Biasanya saya ke dokter P, tapi karena dr.P baru praktek sore hari sementara entah kenapa saya pengennya cepet-cepet aja hari itu ke dokter, maka pergilah saya, suami dan Bodhi ke rumah sakit. Sebelumnya sudah telpon kesana, katanya yang sedang praktek pagi itu dokter H. Saya sempat telpon teman untuk minta komentarnya soal dokter ini, dia sih bilang dokternya gampang ngasi obat, tapi kalo secara ilmu sih ok lah dokternya. Sampai disana seperti yang sudah saya ceritakan dalam isi email di atas, saya hanya dibekali ilmu menyusui yang benar, ditunjukkan cara yang benar dan pulangnya diberi buku kecil tentang menyusui. Tapi karena mikir mumpung ke dokter, saya dan papa nya Bodhi menanyakan juga beberapa hal termasuk nafas Bodhi yang -waktu itu baru berusia 21 hari- berbunyi grok-grok. Sudah cari referensi sih di internet, katanya wajar untuk umur segitu tapi ya mumpung ke dokter pengennya sekalian diliat juga langsung. Nah untuk kasus nafas grok-grok ini saya diberi resep yang lumayan banyak, kalo nggak salah 3 jenis obat deh. Waduh saya ngeri nih ngasi obat-obatan ke anak saya, lagipula sudah dapet referensi yang bilang nggak berbahaya, akhirnya kami ngga tebus obatnya. Hmmm berarti benar ya komen dari teman saya, soal si dr.H ini gampang meresepkan obat. Nah baru deh saya berpikir, wah saya memang beruntung ya tidak diresepkan supplemen ASI justru dibekali ilmu yang benar.

Lalu keberuntungan kedua adalah, setelah dari dokter anak, saya ada jadwal ke dokter kandungan untuk check up bekas operasi caesar. Saat periksa sempat diajak ngobrol sama dokternya, nanya-nanya keadaan baby, trus ada juga nanya soal ASI. Si pak dokter nanya, gimana ASI nya, lancar? Saya jawab, lancar dok… lha memang setelah pulang dari dokter H, Bodhi udah bisa full ASI *saya bercerita sambil tersenyum sumringah* Trus si dokter ngomong, kalo begitu supplemen ASI nggak perlu lagi, sebab dengan begini mekanisme produksi ASI nya sudah jalan. Lha padahal saya nggak ada nanya-nanya soal ASI apalagi bercerita kalo saya minum supplemen ASIxxx. Papanya Bodhi tetep beliin dan saya tetep minum, karena kata iklannya kan untuk menjaga stamina ibu menyusui juga. *huh payah kemakan iklan nih judulnya*. OOOO saya dan suami langsung kompang ber-oooo. Akhirnya sampe di rumah supplemen yang masih ada 1.5 botol nggak diminum lagi, yang penting makanan saya sehat dan enak hehehe. Kalo enak kan jadinya makannya banyak :P Eh tapi nggak dibuang kok supplemennya, disumbangkan ke ibu yang baru melahirkan yang lain, yang memerlukan sugesti tambahan untuk kelancaran ASI nya.

Jadi kesimpulannya, ternyata memang saya beruntung ya ketemu dokter yang benar, dan ada juga dokter yang kebetulan lempeng nggak ngasi resep hahahaha.

 

Dari A ke B kembali ke A June 16, 2009

Filed under: ASI,Environment,Mind — luhayu @ 6:07 am

Cerita 1: Peternak sapi mengeluh karena harga susu sapi terus merosot turun, sementara pemerintah (penguasa??) tetap tidak membatasi impor susu. Di tengah gencarnya iklan susu, iklan ’4 sehat 5 sempurna’ (yang sebenarnya hanya ada di Indonesia dan tidak diakui di dunia), peternak sapi Indonesia justru tidak menikmati berkahnya.

Cerita 2:  Manusia hanya perlu susu sampai umur 2 tahun, itupun kalau bisa dari Air Susu Ibu. Selebihnya karena kemampuan pencernaan manusia untuk memproses susu semakin menurun seiring bertambahnya usia, maka susu menjadi tidak penting lagi, digantikan dengan makanan sehat bergizi seimbang. Ada kelompok gerakan ‘nomilk’  ada kelompok gerakan ‘ayo minum susu seumur hidup’.

Cerita 3: Bagi yang tidak berhubungan langsung dengan peternak sapi (selanjutnya saya sebut petani susu saja ya) mungkin mudah untuk bilang tidak untuk ajakan minum susu. Tapi bagi yang berhubungan langsung, seperti ketua kelompok peternak sapi seluruh Indonesia misalnya (ini jabatan ngarang saya aja),  tentu tidak semudah itu. Di satu sisi dia sedang belajar dan mencoba menerapkan pola hidup sehat, salah satunya dengan tidak mengantungkan kesehatannya pada susu, apalagi mempertaruhkan kesehatannya dan keluarganya karena susu (ingat kasus bakteri sakazaaki, susu bermelamin, susu kalsium tinggi yang justru menyebabkan osteoporosis?). Tapi disisi lain dia harus memperjuangkan nasib para petani dan keluarganya yang makin terpuruk karena tersisih dari perhatian penguasa berwenang, dan bahkan sekarang makin gencar gerakan nomilk, sudah jatuh tertimpa tangga, ibaratnya begitu.

Banyak cara melihat sebuah kondisi, banyak jalan untuk mencari jalan keluar. Jadi tolong jangan sinisi saya yang kelihatannya cenderung pro nomilk. Seperti saya juga tidak akan mensinisi yang suka minum susu. Kalau ada kata-kata yang kelihatannya seperti itu, mohon maaf ya, bukan maksud hati begitu, hanya kebelummampuan saya untuk menyusun kata-kata, yang bisa bikin semua orang happy. Kalau menurut cara berpikir bodoh saya, dulu kan tidak ada peternak sapi, tidak ada pabrik susu, tapi dulu semua orang bertani, berkebun, orang masih bisa hidup. Lalu mengapa bisa berubah dari petani jadi peternak? Kok sanggup berubah? Pasti usaha yang dibutuhkan untuk mengubah itu tidaklah kecil, bahkan sama besarnya dengan sekarang jika kita ingin mengembalikan para peternak jadi petani. Peternak jadi pengangguran? Nggak juga, bisa kan jadi petani? ‘cuma’ prosesnya dibalik aja sekarang. Sama halnya dengan dulu, penduduk Indonesia yang beraneka ragam makanan sumber karbohidratnya, ada yang makan jagung, sagu, ubi, dll.  Tapi kok berhasil menjadi masyarakat pemakan nasi? Walaupun sekarang saat produksi beras tidak mencukupi lagi karena begitu tergantungnya pada beras, jadi kalang kabut impor beras. Sementara akhirnya sagu hanya jadi makanan eksotis, ubi cuma jadi cemilan keripik, dan jagung cuma makanan hiburan. Tentu tidak bisa dilupakan, usaha penguasa waktu itu yang mengkampanyekan bahwa nasi lebih unggul (dia lupa negara yang penduduknya nggak makan nasi masih bisa hidup dan terkadang lebih sejahtera kehidupannya). Entah ada kepentingan politis apa, saya tidak tahu dan males cari tahu. Jadi ketika dulu bisa mengubah dari A menjadi B, kenapa ketika kita mengetahui bahwa ternyata A lebih baik dari B, kita tidak mau mengakui dan belajar kembali (ilmu pengetahuan selalu berkembang lho dan ada banyak peneliti yang selalu belajar dan bekerja untuk menemukan hal-hal baru, walaupun terkadang hal baru yang ditemukan itu sebenarnya sudah dijalani sejak ratusan tahun lamanya). Seringkali, ketika menerima sesuatu yang dianggap keluar jalur umum, walaupun benar, yang muncul adalah penolakan. Bertahan. Pokoknya kekeuh, ngotot. Sulit…nggak mungkin, ngomong sih gampang, prakteknya susah!!! Ya …. memang iya, dimana-mana kalo praktek diomongin doang bukan dikerjain, ya berasanya susah.

Ya memang sih, selalu akan ada pro kontra, selalu ada yang punya pendapat berbeda. Kan katanya perbedaan itu indah, taman bunga makin indah kalau makin banyak jenis dan ragam warna bunganya. Jadi ya saling menghargai aja kali ya, kalau saya nggak mau minum susu, jangan dong saya dianggap sok!! Disinisi itu paling nggak enak, Ah mungkin saya aja yang nggak berbakat jadi pelopor ya, bisanya ngikut aja, tapi saya sih mencoba menerapkan ehipassiko (datang dan lihat). Saya dengar, saya anggap benar, saya coba praktek, ternyata terbukti benar. Tapi terkadang sulit ngontrol ngomongan nih (termasuk dalam tulisan ini), kadang kalau saya terlalu bersemangat karena saya merasa sudah merasakan manfaat sesuatu, saya jadi menggebu-gebu menjelaskan jika ditanya, sampai akhirnya yang saya ajak ngomong jadi merasa digurui atau disalahkan. Padahal maaf…bener-bener nggak sengaja, saya terkadang lupa bahwa yang saya bicarakan ‘out of the box’.

*maksudnya nulis soal susu dan petani susu tapi jadi curhat karena sering disinisin orang hehehe

 

Kintan Event Decoration June 10, 2009

Salah satu event yang di decor oleh Kintan Florist. Yang berminat menyelenggarakan meeting, pameran, pernikahan atau acara apapun di Bali yang memerlukan dekorasi dan bunga, Kintan Florist siap membantu.

Acaranya di Waka Gangga Resort, Tabanan Bali. Sebuah tempat di pinggir pantai Yeh Gangga, yang indaaaah banget.

DSCN8942

DSCF2230

DSCN8904

DSCF2242

 

Jujur Kacang Ijo May 25, 2009

Filed under: Mind — luhayu @ 4:16 pm

Apa hubungannya jujur dengan kacang ijo? Ada!! Setidaknya bagi saya. Selera makan saya (saya tidak mau menyebut kita, karena belum tentu orang lain merasakan hal yang sama) ternyata berhubungan dengan seberapa berani saya jujur pada diri saya sendiri.

Jujur pada diri sendiri itu sebenarnya yang paling susah kan? Mau ngaku diri cakep aja masih sering malu dan takut dibilang narsis, padahal cuma bilang pada diri sendiri lho, orang lain nggak ada yang denger. Padahal dengan mengakui diri sendiri cakep, berarti sudah sayang pada diri sendiri, yaaa tentu diberlakukan pada tempatnya ya. Lalu jujur mengakui kalau diri sendiri sebenarnya tidak menyukai sebuah pekerjaan tapi masih maksa bekerja di bidang itu, sering banget saya temui hal ini. Hmm sebenarnya saya sendiri juga pernah dalam posisi ini. Padahal kita selalu bilang, saya paling nggak suka dibohongi, dan inget nggak dulu jamannya masih sering ngisi diary pas perpisahan sekolah, di kolom hal yang nggak disuka biasanya ditulis “menunggu” dan “dibohongi”. Tapi kenapa ya, kalau nggak suka dibohongi orang lain tapi kok suka membohongi diri sendiri.

Lalu apa nih hubungannya dengan kejujuran dengan bubur kacang ijo? Begini:  buat yang suka atau pernah masak atau minimal pernah liat-liat resep masakan, sering kan ada bumbu magic tambahan, yang bisa bikin makanan nggak enak jadi enak, yak betul MSG atau penyedap rasa atau apapun itu namanya, pokoknya bahan yang cuma perlu ditambahkan seujung sendok makan tapi dengan ajaibnya bisa menimbulkan rasa seperti sapi, rasa seperti ayam, dll. Banyak orang yang nggak pede kalo masak nggak pake bumbu ajaib itu. Nah itu namanya menipu diri sendiri bukan? Udah tahu nggak ada daging sapinya tapi membohongi diri sendiri dengan menambahkan rasa seolah-olah sapi. Jadi MSG selain nggak baik untuk kesehatan fisik nggak baik juga untuk kesehatan mental, bikin gampang krisis pede dan suka bohong, baik kepada diri sendiri maupun orang lain yang ikut menikmati masakan itu hehehe. Krisis pede karena sudah terpatok pada sebuah ukuran rasa enak, padahal enak itu masalah selera dan hanya berhenti di lidah. Setelah sampai di dalam perut, ya nggak ada lagi yang namanya enak nggak enak, diuwel-uwel aja ama usus. Jadi mestinya percaya diri dong bilang, masakan saya enak meskipun tanpa MSG.

Dalam hal lain, yang masih berhubungan dengan organ pencernaan, vegetarian. Nggak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Ini murni apa yang saya rasakan sendiri. Saya memang belum menjadi vegetarian murni, tapi sedang belajar ke arah itu. Dari awal belajar mengurangi makan daging, saya nggak mau dengan sengaja mencari makanan daging pura-pura. Kecuali memang di sebuah acara sudah terhidang makanan itu dan nggak ada pilihan lain selain kelaparan. Bagi saya itu sama dengan saya bohong pada diri saya sendiri. Label saya ‘bukan pemakan daging’  tapi otak dan napsu saya masih pada daging. Kalau bagi saya, mendingan makan aja dagingnya beneran asal memang saya makan daging itu untuk memenuhi kebutuhan saya bukan keinginan saya. Masih lebih jelas saya dapet manfaat protein hewani nya daripada hanya menumpuk gluten dalam badan saya yang notabene indeks glikemik nya tinggi sehingga sulit dicerna tubuh dan akhirnya…jadi sampah di badan saya. Dan yang terpenting hakekat dari vegetarian selain mengurangi pembunuhan terhadap mahluk hidup lain, sekali lagi ini bagi saya, adalah menyederhanakan keinginan sebelum akhirnya meniadakan keinginan.

 

Marketing of fear April 23, 2009

Filed under: Mind — luhayu @ 2:47 am

Ada perasaan sebal dan kecewa melihat iklan sebuah kecap di televisi. Masa anaknya cuma makan kerupuk, pake nasi, plus kecap sebotol gede, dan begitu kecapnya habis si ibu dengan senyum manis nambahin satu botol lagi!!! Kalo background nya di lokasi kumuh atau di lingkungan masyarakat yang kekurangan, mungkin masih wajar. Tapi ini di sebuah dapur berdesign minimalis modern, masa anaknya cuma makan kecap dan kerupuk dikasi aja??

Sering miris nonton TV kita, nggak acaranya nggak iklannya. Makanya mendingan jangan nonton TV. Tapi kok ya sekali-sekalinya iseng nyoba nonton, yang muncul iklan-iklan semacam itu. Belum lagi iklan susu yang pemerannya para ibu dan ayah yang nampak berpendidikan, orang-orang berjas putih (dokter???), yang mendewakan susu serasa nggak makanpun nggak apa-apa, yang penting mau minum susu. Nggak heran deh masyarakat kita yang menganggap TV sebagai sumber informasi terpercaya (kalo udah muncul di TV berarti benar!!) jadi tersesat. Padahal kalau di negara-negara yang hukumnya kuat, iklan susu seperti itu bisa dituntut ke pengadilan dan hukumannya ga main-main. Susu pun nggak cuma susu untuk bayi dan anak, susu untuk orang tua pun dimanipulasi iklannya, seakan-akan cukup dengan minum susu berkalsium tinggi beres urusan osteoporosis. Bahkan plus menakut-nakuti, kalo nggak minum susu itu, divisualisasikan badannya menguap sedikit-demi sedikit, hiiiiy ngeri. Padahal kalau tahu, bukan begitu cara mencegah tubuh menggerogoti kalsium dari tulang. Bergerak, berjemur, makan-makanan alami yang mengandung vitamin D, bukan dengan kalsium sintetis seperti itu. Makanya wajar kan, justru setelah semakin banyak susu semacam itu kok makin banyak orang sakit tulang, bukan karena banyak orang sakit tulang makanya muncul produk susu itu.

Nah ngomongin soal kalsium, betapa makin banyak orang yang takut terpapar matahari saat ini. Alasannya takut hitam. Ya kalo di siang bolong jemuran, ya gosong lah trus bisa kanker kulit. Padahal matahari pagi sebelum jam 8 itu sehat banget buat tubuh. Kalau sekarang ini yang putih dianggap lebih cantik dibanding yang berkulit coklat? Ya iklan lagi, yang membombardir dengan stigma seperti itu. Sama halnya juga dengan model iklan yang baru sekarang ini. Anak yang pendek lebih buruk dari anak yang tinggi. Lalu solusinya? minum susu lagi!! Padahal nggak segampang itu, gimana kalau urusannya sudah dengan genetik? Mau minum susu satu drum sehari ya sama aja.

Jadi sebenarnya kita sedang diapakan sih oleh produsen produk-produk itu? Yup, kita sedang ditakut-takuti. Demi meraih keuntungan tinggi dan demi memenangkan persaingan dagang, segala cara ditempuh. Salah satunya dengan memanfaatkan rasa takut yang dipunyai nyaris semua manusia. Takut mati, takut sakit, takut jelek, takut miskin. Tapi kadang saking takutnya jadi nggak mikir rasional. Memang bisa ngomong, “makanya jangan mau dibodoh-bodohin”. Tapi kenyataannya? Produk tertentu bisa langsung laku keras setelah iklannya muncul di TV. Dan tak lama kemudian memasang iklan lagi setelah menerima top brand award karena kepercayaan konsumennya. Bukan karena iklannya bagus, tapi penontonnya aja yang mau dimanfaatkan. Dan saya baru tahu ternyata dalam dagang ada yang namanya marketing of fear. Mungkin bisa dibilang juga Marketing of Parno.

 

Basi banget sih lo! March 17, 2009

Filed under: Mind — luhayu @ 2:59 am

Dulu gara-gara saya tahu terlalu banyak informasi di kantor saya didakwa sebagai bigos alias biang gossip. Padahal saya tahu bukan karena saya mau, tapi informasi itu datang begitu saja, tidak ditanya tidak dikorek. Setelah tahupun saya tidak menyebarkannya, tapi justru karena saya tidak mau memberi informasi maka saya dituduh semena-mena seperti itu. Aneh? Memang!! Saya sendiri bingung, bagaimana sih kriteria biang gossip itu sebenarnya? Tapi ya sudahlah, saya sudah memaafkan orang itu dan bersikap biasa saja kepada dia, karena saya tahu dia sedang butuh perhatian, jadi cara termudah adalah dengan menyebarkan berita ga mutu. So, siapakah si biang gossip sebenarnya? Hehehehe.

Saya suka baca, apa aja. Ada sobekan koran pun kalau saya sedang senggang akan saya baca. Jadi saya bisa ngobrol soal interior, soal sepakbola, soal Jepang, dan masih banyak soal-soal lain (kecuali soal rumah tangga orang lain ya) Saya bisa ngerti pas temen-temen saya ngomongin soal gaya main Jerman saat piala dunia, meskipun saya bukan penggemar sepakbola. Dan saya tidak perlu datang ke Jepang untuk tahu beberapa hal umum atau mungkin spesifik tentang Jepang. Atau juga saya tidak perlu kuliah design dulu untuk mengerti apa sih meja island itu, bagaimana sih tata letak furniture yang baik untuk ruang kerja, misalnya. Bukan menyombong, apalagi yang saya tahu kebanyakan ya hanya kulitnya saja, sebatas yang pernah saya baca. Kecuali memang saya berminat sekali, akan saya cari infonya sampai saya puas. Tapi ini tidak sama dengan mengorek gossip nggak jelas itu lah yaw.

Beberapa waktu yang lalu, ada beberapa komentar yang nyaris sama ditujukan kepada saya. Pertama: “yaaah gimana sih loe, kok ketinggalan berita banget. Udah lama banget lageee resignnya.” Oh, jadi info tentang resign, tentang dipecat, wajib diketahui secepat mungkin ya? Kalo saya ketinggalan, maka saya basi. Hmmm lucu. Lalu ada lagi, “wah loe ketinggalan info Yu, kan di lippo karawaci mau diadain balap mobil A1″. Hmmm ok, mungkin untuk yang ini saya ketinggalan, selip nggak kebaca di koran. Dan masih ada beberapa hal lain lagi.

Hal ini membuat saya berpikir. Apa iya saya udah ketinggalan banyak informasi? Apa iya saya sekarang udah kuper – kurang pergaulan alias ga begawl lagi? Apa iya? Masa iya? Hmmm kedengaran seperti orang yang nggak terima ya. Nggak terima dianggap ketinggalan berita, secara selama ini saya sering jadi sumber bertanya beberapa teman. Entah sekedar nanya, beli kancing dimana ya, ayam Taliwang yang enak dimana ya, punya kenalan plumber yang bagus ga? Atau yang lebih serius, gue mau mutusin pacar gimana cara yang paling elegan? hahahaha.

Akhirnya saya menemukan jawaban yang saya anggap paling pas untuk diri saya saat ini. Saya hanya ingin tahu dan diberi tahu hal-hal yang membawa kemajuan dan kebaikan buat diri saya. Baik secara fisik maupun spiritual. Di tengah gempuran informasi, saya pernah merasa muak. Terlalu banyak hal yang saya ketahui tapi sebenarnya saya tidak ingin tahu. Jadi ini salah siapa? Bukan salah siapa-siapa, bukan juga salah teknologi yang membuat begitu mudah informasi datang dan didapat. Sebaiknya, sayalah, yang punya kendali atas diri saya sendiri. Saya berhak dan juga wajib menyaring informasi yang hendak masuk. Biarkan saja di tv begitu banyak berita tentang para politisi busuk atau selebriti cari sensasi. Matikan tv, beres kan? Biarlah di internet begitu banyak informasi yang siap didownload. Pilih saja yang bermanfaat untuk diri sendiri. Aman kan? Anggap saja angin lalu komentar-komentar di milis, di facebook, atau dimanapun itu, selama saya mengganggap itu ga penting buat saya, abaikan!! Tenang deh hidup ini.

Jadi ketika kesimpulan itu sudah saya dapatkan, ketika ada teman yang menuliskan sebuah headline berita di status Yahoo messangernya (waktu itu tentang meninggalnya seorang ketua DPRD di SumUt), lalu saya bertanya, “Memangnya ada kejadian apa?”  lalu teman saya berkomentar: “Bah masa nggak tahu, kan kejadiannya kemarin sore, rame beritanya di TV, di detik juga ada.” Saya tidak lagi merasa tersinggung. Saya hanya jawab, “maaf saya jarang nonton TV dan jarang baca detik”.  Lalu teman saya bilang lagi,”TV nggak nonton, nggak baca detik, koran juga nggak???” Hehehe saya cuma ketawa, “kata kamu kan kemarin sore, nah saya hanya baca koran Kompas. Di Denpasar, koran kompas datangnya siang. Jadi saya belum baca. Jadi apa salahnya lah, kamu yang update temanmu yang ketinggalan berita ini.” Eh teman saya masih nggak terima, “kenapa mesti Kompas, kan bali juga punya koran lokal, yang bisa dateng pagi-pagi. Kompas kan mahal. Atau mendingan juga kamu beli Jawa Post lebih murah”. Wah mau  nggak mau saya mesti bilang dong alasan saya kenapa berlangganan Kompas bukan koran lokal yang dia sebut itu. “Karena cara penulisan di Kompas lebih baik. Saya nggak mudeng dengan cara penulisan wartawan si koran lokal itu, nggak beraturan, kadang bahasa yang digunakan juga sering salah yang mana bisa berarti salah arti kan? Soal mahal? Itu relative, untuk hal yang memang lebih baik, kenapa takut membayar lebih?” *maaf loh ya bukan bermaksud mendiskreditkan si koran lokal itu, tapi apa daya itulah yang saya rasakan.

Nah setelah pembicaraan itu, saya kemudian berniat mencari beritanya lebih lanjut di internet. Setelah informasi saya rasa cukup, ya sudah saya hentikan. Begitulah, saya hanya mencari info secukupnya, sekedar tahu. Karena untuk berita itu saya anggap saya cukup tahu sampai disana. Jadi jika kemudian ada yang bicara tentang hal itu, ya saya tahu yang dia omongin, cuma saya nggak mau nimbrung, karena saya nggak kompeten membicarakannya, lha saya cuma tahu sedikit kok :)

Jadi, ketika saya punya kontrol atas diri saya sendiri, saya tahu apa yang saya lakukan, saya tahu apa yang saya butuhkan. Saat itu saya merasa bahagia.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.