Sebenarnya saya sendiri tidak pernah mempermasalahkan orang mau merayakan ulang tahunnya atau tidak. Merayakan dengan besar-besaran atau kecil. Merayakan dimana, dengan siapa dan habis berapa,benar-benar bukan urusan saya. Pun juga alasan kenapa ulang tahun mesti dirayakan, atau cukup sekedar diingat saja. Apalagi sampai dihubung-hubungkan dengan tingkat spiritualitas atau tingkat kebaikan seseorang.
Yang membuat saya kemudian berniat membahas tentang ini adalah setelah tak terhitung berapa puluh kali sejak saya ingat bahwa ada yang namanya pesta ulang tahun sampai sekarang ini, saya mendengar ada orang yang memperdebatkan ulang tahun. Waktu kecil saya tahu bahwa ulang tahun pertama saya dirayakan, dan itupun saya tahu karena melihat foto dan diceritakan oleh orang tua saya. Saya lihat di foto itu, ada beberapa teman-teman kecil saya dan tentu saja bapak ibu dan beberapa anggota keluarga yang lain. Dan yang paling luar biasa yang saya lihat dan kenang adalah kue ulang tahun saya. Karena bapak hobi foto-foto, maka kue ulang tahun saya terdiri dari susunan kotak pembungkus film (kodak dan fuji), yang disusun menyerupai piramid, di bagian dasarnya dihias bunga-bunga yang dipetik dari kebun, dan paling atas ada kue keciiiil (saya ngga inget itu kuenya apa, jangan-jangan kue lapis buatan nenek saya yang memang jualan kue-kue basah hehe) plus lilin tentu saja. Kue ultah yang unik kan? Dan bisa dibayangkan bukan kreatifitas bapak saya dan cintanya orang tua saya. Karena jaman dulu itu beli kue tart adalah kemewahan, maka demi anak bisa berulang tahun, bapak mengeluarkan kreatifitasnya. Dan itu salah satu yang sangat saya kagumi dari bapak, bapak sangat kreatif dan nyeni!! Tapiiii dulu pun, sewaktu SD, sewaktu saya bercerita soal ulang tahun saya yang dirayakan itu, sudah ada lho teman saya yang berkomentar tidak setuju. Katanya,”Ngapain ikut-ikutan ngerayain ulang tahun? Itu kan budaya nya toris. Kita orang Bali sudah punya ulang tahun sendiri, kan tiap 6 bulan kita merayakan otonan. Itu lebih penting buat kita orang Bali”. Hmmm waktu itu saya mikir, iya ya saya kan orang Bali dan tiap 6 bulan sudah dibuatkan otonan oleh ibu saya. Dan sayapun ikut-ikut an tidak setuju dengan anak-anak yang berulang tahun ala toris. (Kalo dibali seringkali setiap orang berkulit terang dengan rambut warna-warni disebutnya toris
) Namun seiring berjalannya waktu, saya sadar bapak ibu saya tidak sekedar ikut-ikutan, hmmm mungkin iya ada unsur itu, tapi kok ya sekarang saya lebih melihat ke betapa sayangnya bapak dan ibu kepada saya. Dengan segala keterbatasan ingin membuat anaknya bahagia. Karena begitupun yang saya lakukan dan rasakan sekarang, saya senang merayakan ulang tahun saya karena senang melihat anak saya tersenyum dan tertawa dengan kedatangan teman-temannya. Tidak masalah pesta kecil-kecil an, walaupun kadang ingin sih memberikan yang terbaik dari segi harga, tapi ya saya masih rasional kok masih ngukur dengan kemampuan kantong dan kemampuan tenaga, karena saya tidak mau ulang tahun anak saya bikin repot orang banyak. Pengennya sih pake organizer, tsaaah gaya…, tapi ya itu tadi ya ngga cucok lah di kantong.
Bicara masalah biaya. Seriiiiing sekali hal ini diperdebatkan. Kalau ada yang berpesta besar-besaran, langsung dikaitkan dengan empati dan toleransi. Mbok ya uangnya disumbang…. mbok ya ga usah terlalu ditunjukin kalo situ orang kaya…. Lho itu uang mereka toh? Terlepas urusannya dapet dari mana, dan sekali lagi itu juga bukan urusan kita, ya sah-sah aja dia pake uangnya. Masalah disumbangkan, memangnya kita tahu dia berdana atau nggak? Mana tahu dia berpesta 1 M setelah sebelumnya menyumbang 3M tapi ga bilang-bilang. Nanti kalo dia bilang-bilang nyumbang, masih dikomentarin lagi, nyumbang kok gembar-gembor! Trus sering ada yang bilang ga usahlah nunjukin banget kekayaannya atau status sosialnya, hmmm saya ingin bertanya deh sama yang ngomong seperti itu, kalau dia punya uang sebanyak itu sekali dua kali atau setiap kali ulang tahun, yakin nih nggak bakal pesta-pesta??? Walaupun saya tahu ngga semua orang seperti itu dan masih ada orang-orang yang ‘tidak biasa’ seperti itu. Ya nikmatin aja, biarkan mereka berpesta, kita nikmati gaya berbusana nya, kita nikmati dekorasi pesta nya (ahahaha itu sih saya banget), kita nikmati foto-foto lezat hidangan pestanya yang walaupun cuma foto tapi sanggup bikip hati senang. Iya nggak? kalo saya sih iya hehehe. Trus kalo habis menggelar pesta dan nggak lama kemudian ada berita bahwa yang bersangkutan terlibat tindak pidana entah korupsi atau perusahaannya terancam dipailitkan, ya nggak usah di ’sukurin loe!!” atau diperpanjang lagi ceritanya. Nambah-nambahin mumet kepala sendiri itu namanya.
Lalu masalah esensi merayakan ulang tahun. Paliiiiing suka kita membahas ini. Mengapa harus berulang tahun? Sebenarnya apa yang ingin ‘dirayakan’ atau tepat nggak sebuah pertambahan umur dirayakan? Padahal bertambah umur berarti semakin berkurang jatah hidup di kehidupan ini, tapi kok dirayakan, gimana sih jeung gimana sih oom? Ada yang bilang untuk mensyukuri diberikan umur sampai sekian tahun, ada yang bilang untuk mengingatkan diri udah makin tua jadi mesti semakin bijaksana ada juga yang bilang kalo nggak ada yang ultah seperti ini susah nih bisa kumpul-kumpul. Apapun alasannya, itu hak pribadi orang lho, nggak usah dihakimi nggak usah dinilai-nilai. Setiap orang berhak bahagia setiap orang berhak meraih rasa bahagianya termasuk dengan cara merayakan ulang tahun sesuai kondisi mereka.
Jadi kesimpulannya, yaaa saya masih nggak ngerti juga sih sebenarnya kenapa ya orang masih suka banyak komentar kalo ada yang merayakan ulang tahun?



