Dunia itu sebenarnya sempit tidak seluas yang kita bayangkan. Saya sering mengalami orang yang sebelumnya hanya saya kenal tanpa pernah bertatap muka namun sesungguhnya dia adalah orang yang sehari-hari memiliki keterhubungan dengan saya tanpa saya sadari. Atau sering saya bercerita pada teman saya, bahwa ada teman saya yang mengalami atau memiliki sesuatu, eh setelah ngobrol panjang lebar ternyata teman yang saya maksud itu ya temannya dia juga. Bahkan sering kalau dikait-kaitkan eh ternyata orang yang saya ajak ngobrol masih ada hubungan saudara jauh dengan saya. Seperti puzzle saja, saya akan menemukan setiap bagiannya dalam setiap peristiwa yang saya alami atau kegiatan yang saya lakukan.
Kalau kejadian yang baru saya alami kemarin bisa disebut salah satu bagian puzzle yang berhasil saya temukan berkaitan dengan kegiatan saya mengajar dan menyusui. Terasa sedikit ganjil keterkaitannya, ya tapi demikianlah yang saya alami.
Diawali dari beberapa bulan yang lalu ketika saya kembali mengajar setelah cuti melahirkan. Saya ke sekolah untuk mempersiapkan kelas sebelum semester baru dimulai seminggu kemudian. Di ruang komputer saya bertemu seorang pria yang sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer. Saya berpikiran dia teknisi dari toko tempat sekolah membeli komputer. Saya hanya tersenyum dan pria itu juga. Saya tidak berniat menanyakan kepentingan dia disana karena saya sendiri sedang terburu-buru untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan saya, apalagi saya sudah melihat tag Visitor yang dia kenakan, berarti dia tamu resmi ga perlu dicurigai. Tapi dia cukup ramah untuk bertanya, ibu yang mengajar komputer di sini ya? Percakapan hanya sampai di sana dan kami sibuk dengan urusan masing-masing, dan dia pulang lebih dulu dari saya.
Empat hari yang lalu saya menerima email. Email tersebut dari seorang ibu yang minta bantuan dicarikan donor ASI, karena dia mendapat info dari temannya bahwa saya adalah koordinator dari milis AsiforBaby untuk pertemuan di Denpasar (yang sayangnya pertemuan belum berhasil dilakukan), jadi dia berharap saya bisa membantu menggalang donor ASI untuk bayinya dan 2 bayi kembar premature yang lahir di RS Puri Bunda. Ibu tersebut mengatakan, per hari seorang bayi memerlukan 600cc ASI karena dokter yang menangangi sama sekali tidak mengijinkan pemberian susu formula (memang RS yang juga tempat saya bersalin tersebut setahu saya sebagian besar dokternya adalah pendukung pemberian ASI), sementara produksi ASI para ibunya belum maksimal. Dan mereka juga sudah mendapatkan beberapa donor tapi belum juga mencukupi. Wah saat itu rasanya saya mendapat kehormatan demikian besar karena diberi kesempatan membantu. Langsung email saya forward ke milis, tapi berhubung weekend dan biasanya kebanyakan member melakukan akses internet dari kantor, email saya nggak ada tanggapan. Maksudnya ibu-ibu yang di denpasar tidak ada memberi response. Akhirnya saya berpikir, kenapa bukan saya saja yang jadi donor? Memang ASI saya tidak berlimpah alias saya bukan orang ‘kaya’. Tapi apa salahnya orang ‘miskin’ berdana? Akhirnya ngomong ke suami, dia 1000% mendukung. Dan ngomong juga ke Bodhi, kalo susunya mo dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya yang lain. Bodhi sih menatap mata saya aja sambil senyum-senyum (disangkanya saya lagi mendongeng kali yah hihihi), tapi saya yakin dia ngerti kok. Setelah sepakat lalu saya berniat menghubungi ibu tersebut lewat telepon saja, eh tapi dia tidak melampirkan nomor teleponnya. Akhirnya saya menghubungi RS Puri Bunda dan mencari nama ibu tersebut dan menyatakan saya berniat mendonorkan ASI. Akhirnya dapet deh telpon rumah dan ponselnya.
Kemudian saya menghubungi ibu tersebut dan saya bilang, saya ingin donor tapi maaf banget cuma bisa 125cc per hari karena saya juga masih menyusui dan tidak pernah nyetok ASI beku di kulkas. Nggak disangka itu ibu bilang, wah 125 cc itu banyak mbak….. (hehehe senangnya akhirnya selain dokter anak saya ada juga orang lain yang bilang ASI saya banyak, biasanya orang lain kebanyakan bilang “emang ASI nya cukup?”). Akhirnya disepakatilah bahwa suami si ibu itu yang akan mengambil ASI perah ke rumah saya setiap siang. Dan minggu siang kemarin adalah untuk yang pertama kalinya.
Kemarin ASI nya sudah diambil, dan yang mengambil adalah pria yang bertemu dengan saya di ruang komputer sekolah dulu!! Dan ternyata dia bukan hanya teknisi komputer, tapi di kemudian hari dia juga yang menggantikan saya mengajar di preschool. Jadi sebenarnya saya sudah bertemu muka dengan bapak itu tanpa tahu namanya. Kemudian saya tahu sudah ada guru yang menggantikan saya mengajar, saya hanya tahu nama tanpa tahu wajahnya. Kemudian saya dihubungi ibu yang membutuhkan ASI donor dan yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari bapak itu yang akhirnya saya tahu lengkap nama dan wajahnya hahahaha.
Terkadang keterkaitan kita dengan seseorang dihubungkan oleh sesuatu yang nggak kita sangka-sangka ya.