Luh Ayu Writing

From mind to words

Warung Bunana June 26, 2008

Filed under: bali, kuliner — luhayu @ 5:45 pm
Tags: , , ,

Di daerah rumah saya -Kerobokan- banyak warung makan dengan segala rupa jenis makanan, pelayanan dan kelas. Dari yang bener-bener warung sampai yang ngaku-ngaku warung, seperti Warung Made yang legendaris itu (ini rada keluar dari area kerobokan sih tapi masih satu kecamatan lah di Kuta :P ), Warung Itali yang jualan makanan Italy dengan konsep warung yang uenak dan terjangkau harganya, Warung Batavia yang jual masakan Indonesia yang dulunya enak tapi sekarang biasa aja dan harganya semakin mahal, Warung Bunana yang jual makanan Indian Malaysian juga ada.

Nah saya mau cerita soal Warung Bunana, secara tadi siang warung itu muncul di Wisata Kuliner edisi Liburan. Saya dan suami sudah sering makan disana jauuuuh sebelum pak Bondan mampir dan icip-icip disana. Awalnya tertarik nyoba karena namanya unik dan ada menu teh tarik dan roti canai, secara saya ini memang penggemar teh dan roti-roti an. Pertama nyoba udah langsung ‘kena’, selain harganya terjangkau (yang termurah waktu itu 5000 dan termahal 12000), rasanya memang enak pas di lidah Indonesia. Saking cintanya sama teh tariknya, pas ke Kuala Lumpur dulu sempet-sempetin nyobain teh tariknya untuk dibandingin. Hasilnya nggak jauh berbeda, sama enaknya hehehe. Satu yang kami suka, karena pemiliknya yang orang Medan keturunan India, ramah dan rajin ngajakin ngobrol. Si Abang -yang sampe sekarang kita nggak tahu namanya- ini istrinya orang Jepang dan punya satu anak cewek namanya Nana, makanya namanya warung Bunana, warung ibunya si nana, gitu maksudnya :) Nah karena ada bau-bau jepangnya ini maka di depan warung dan di daftar menunya, selain bahasa indonesia dan inggris ada tulisan kanjinya juga. Dan pengunjungnya kebanyakan turis Jepang atau orang Jepang yang udah mukim di Bali.

Naaah tadi siang itu si Pak Bondan mampir kesana tuh. Katanya dia udah sering lewat jalan raya kerobokan dan liat warung itu tapi baru kali ini berkesempatan mencoba. Duh si bapak, lewat kerobokan kok nggak mampir ke rumah ya :P (hihihi siapa gue!!!). Dia icip-icip, roti canai, ayam kari, raita (salad pake yogurt) dan teh tarik tentu saja. Komentarnya? Teh tariknya otentik, saladnya cakep, roti canai + ayam kari= mak nyusss. Si Pak Bondan ini nggak sembarangan ngomong mak nyuss loh. Kalo sampe dia ngomong begitu berarti makanan itu asli enak dan ‘jujur’ enak :D Tapi kok nggak nyobain martabaknya ya, itu another mak nyusss juga.

Gara-gara nonton acara itu juga sorenya jadi pengen ngajakin suami makan roti canai lagi, secara sejak Bodhi lahir udah jarang banget makan disana, lebih sering take away. Laaaah sampe disana sesuai perkiraan, rameee banget ama orang lokal :P Pasti deh habis nonton wisata kuliner hihihi. Jadi selera saya sama Pak Bondan nggak beda jauh lah ya, hueheheheh

 

Bodhi udah bisa duduk June 14, 2008

Filed under: Baby, bodhi, foto — luhayu @ 11:38 pm
Tags:

Tanggal 17 Juni nanti Bodhi genap 7 bulan. Udah bisa duduk, meskipun kalo capek langsung bummm!!! hehe

 

Bodhi Santai June 14, 2008

Filed under: Baby, bodhi, foto — luhayu @ 11:34 pm
Tags:

Kalo lagi nggak sibuk (nggak sibuk nyusu maksudnya) Bodhi baca buku. Biarpun belum bisa baca minimal bisa digigit dengan aman. Daripada ngunyah buku atau majalah mama yah :)

 

Bali Mistis June 11, 2008

Filed under: Mind, bali — luhayu @ 4:24 pm
Tags: ,

Jam menunjukkan pukul 11.52, hampir tengah malam. Mo nulis yang mistis-mistis, pas nih suasananya (sok jago sok pemberani huehehehe).

Bali pulau dengan aura mistis, sudah banyak orang yang tahu. Yang mengalami langsung yang mistis-mistis juga udah banyak. Nah saya mau bercerita bagaimana saya lahir dan besar di pulau dengan banyak cerita mistis ini.

Terus terang saya bukan orang pemberani. Nonton film horror aja nggak doyan. Kalau saya pikir-pikir mungkin ini ada hubungannya dengan terlalu banyaknya saya mendengar cerita tentang hal-hal gaib sedari kecil. Bukan hanya di lingkungan keluarga besar, di lingkungan tempat tinggal, bahkan di sekolahpun cerita mistis sudah biasa terdengar. Kalau ada orang yang sakit seringkali dihubungkan dengan penyakit gaib, yang tidak bisa disembuhkan secara medis, hanya mbah dukun yang tahu obatnya. Kalau ada yang stress lalu jadi gila, dihubungkan dengan kesalahannya yang mengakibatkan ada orang lain atau mahluk lain yang menjadi tidak suka lalu berniat menyiksanya bahkan mencabut nyawanya. Merinding kan? Rasanya di setiap sudut ada mata yang mengawasi, kalau sampai melakukan kesalahan siap-siap saja menerima sakit yang nggak jelas juntrungannya. Mau makan mau minum mesti hati-hati, jangan sampai pas makan minum dilihat oleh orang yang sudah dicap punya ilmu, kalo nggak mau sakit perut pas pulang ke rumah nanti. Jadi mau makan dan minum pun udah was-was.

Saya nggak tahu, apakah hanya saya atau memang banyak juga anak-anak yang lahir dan besar di Bali mengalami hal ini. Dan saya juga nggak mau bilang bahwa semua itu omong kosong, sebab kadang memang ada aja sih yang aneh-aneh. Hmmm mungkin bukan aneh, hanya alam pikiran dan pengetahuan saya aja yang belum menjangkau ke arah sana. Mungkin ada penjelasannya, tapi saya orang awam yang masih perlu belajar banyak.

Dikelilingi banyak cerita mistis sedari kecil sampai sma, maka ketika melanjutkan kuliah di jakarta saya merasa ada ’sesuatu’ yang lepas, ada ‘beban’ yang hilang. Walaupun ternyata ‘ancaman’ di Jakarta nggak bisa dibilang lebih ringan, tapi tetep beda sensasi ‘takut’ nya :)

Sekarang saya pulang kampung nih ceritanya. Udah menetap di Bali lagi. Ternyata aura mistis itu masih kuat. Arus modernitas, informasi dari dunia luar, informasi dan ilmu kesehatan sudah jauh kemana-mana, tapi cerita-cerita mengenai sakit yang nggak jelas penyebabnya masih banyak bertebaran. Bahkan kadang yang memang jelas penyebabnya pun, dibuat ceritanya menjadi ada unsur lain yang di luar nalar sebagai penyebabnya. Contoh nyata: Bapak meninggal karena stroke. Udah jelas-jelas Bapak memang punya penyakit tekanan darah tinggi. Tapi masih ada banyak pihak yang ingin membuat keluarga kami tidak tenang dan iklas. Dengan inisiatif sendiri mereka bertanya ke paranormal. Maka seperti diduga banyaklah kesimpulan-kesimpulan yang sama sekali nggak bikin hati tenang. Katanya si ini nggak suka sama Bapak, keluarga yang di sana yang iri sama keluarga saya, pokoknya yang mirip sinetron gitu jalan ceritanya. Kalau saja keluarga inti saya (Ibu, saya dan adik-adik) nggak kuat iman, mungkin semua orang yang disebut itu bisa masuk black list kami untuk dibuatkan pembalasan dendam. Beruntung saya punya ibu yang sangat berhati lapang dan berpikiran positive serta maju. Jadi serangan dari kiri kanan dengan cerita-cerita yang ‘menyebalkan’ itu justru membuat kami saling menguatkan satu sama lain, saling mengingatkan jangan sampai ada dendam di hati kami, kan belum tentu juga benar.

Nah ternyata nggak berhenti sampai di situ, ibu saya yang sudah masuk usia menopause pun, gejala menopausenya itu dihubung-hubungkan dengan black magic. Padahal sudah jelas-jelas semua gejalanya itu adalah gejala yang umum dialami wanita yang mengalami pre menopause, tetep aja banyak yang nggak percaya. Ya mau bilang apa ya, terserah deh, kalau kata ibu saya, kita manusia punya karma masing-masing, karma kita yang melindungi kita karma juga yang menjatuhkan kita pada penderitaan. Kalau memang benar ada yang berniat tidak baik, kita tidak bisa mengontrol mereka, kita hanya sanggup mengontrol diri kita sendiri, dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik. Selanjutnya? Yang harus terjadi maka terjadilah.

Ternyata bukan ibu saya saja yang mengalami intimidasi ini, sekarang ini seorang tante yang kurang lebih menunjukkan gejala pre menopause juga mengalami hal yang sama. Ibu saya berniat membantu, dengan memintanya untuk sharing, bercerita jika perasaan depresi dan takut (salah satu tanda pre menopause) itu muncul. Tante saya sih bilang iya-iya. Tapi sepertinya dia masih belum bisa menerima penjelasan ilmiah itu, karena saat ini dia sedang ngungsi di rumah tante saya yang lain, karena menurut terawangan paranormal yang dia datangi, tetangganya lah sebagai “tersangka pelaku”. Hmmm kalau sudah begini mau bilang apa lagi ya?

 

sok sibuk June 5, 2008

Filed under: Baby, Environment, bodhi — luhayu @ 5:38 am
Tags: ,

Wiiih lumayan lama ga apdet blog ya. Maklum lagi exciting sama hal baru jadi kalo online sekarang ini lebih sering browsing tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) buat Bodhi. Nyari bahan makanan yang oke dan bisa diberiklan untuk baby umur 6 bulanan.Ternyata mengasyikkan juga. Ngenalin makanan baru ke Bodhi, trus liat reaksinya dia, deg-deg an loh. Suka nggak yaaaa, dilepeh gak ya… kalau ternyata doyan duh rasanya habis dapet undian 100 juta huehehe. Sampe saat ini sih 98% dia doyan makanannya. Yang rada gagal diperkenalkan beetroot, hehehe kalo menurut mamanya sih emang kurang enak rasanya, tapi warnanya cantik, merah menggoda gitu, tapi kurang sukses juga menggoda selera makan Bodhi. Kalo alpukat, biasa-biasa aja tapi habuis kalo dikasi. Tapi kalo pumpkin, sweet potato alias ketela rambat, potato, pisang, bubur susu beras merah, beras putih, brown rice, hajarrrr semuanya :) Apalagi kalo dibuatin puree apple, waaah slurp..slurp…malah sampe ga sabar minta disendokin hihihi. Seneng deh, kaya’nya ga sia-sia masakinnya.

Oh ya karena bertekad sebisa mungkin ngasi home made MPASI, sekarang juga ada kesibukan baru. Belanja khusus buat maemnya Bodhi. Walaupun jaman sekarang di lingkungan saya kok serasa saya jadi orang aneh karena ngasi bayi bukan makanan yang instant. Sampai asisten di rumah bilang,”Bodhi bek tu natur nih Bu?”. Belum lagi keliatan tuh tatapan ‘jijik’ kalo tahu bubur susu nya Bodhi campurannya ASI. Ah biarin aja, toh selain yang ngerasa aneh dan nganggep saya nggak modern, masih ada kok yang jadi pengen tahu gimana sih bikin makanan bayi 6 bulan. Ceritanya miinimal seminggu sekali saya ke toko organic dekat rumah buat beli bahan makanan mulai dari beras sampe ketela rambat. Di situ ketemu temen-temen baru deh jadinya, salah satunya ada yang lagi hamil, ngeliat saya cuma beli seperempat kilo pumpkin, 3 butir kentang, dikit-dikit gitu deh, penasaran juga dia hihihi. Saya cerita aja kalo itu buat bayi, makanya beli dikit-dikit (kalo buat mama papanya seh nggak organic dulu deh, lumayan juga terasa di kantong). Keterusan deh jadi cerita-cerita, kalo pumpkin digimanain masaknya. Bikin puree apel itu gimana. Kenapa ga boleh pake garam, gula apalagi penyedap rasa, dan kenapa saya ngga kasi yang instant aja biar ga repot. Wah seneng deh bisa berbagi ilmu dan jadi bikin si calon ibu itu berniat ngasi home made MPASI juga buat babynya nanti. (Kalau kata ija temen saya seh, saya seneng karena bisa menjelaskan panjang lebar ke ibu itu secara hobi saya emang menjelaskan, hihihi). Trus ama si mbak kasir ditambahin deh,”ada lho yang belanja ke sini karena anaknya ternyata doyannya pumpkin organic, karena sebelumnya dibeliin yang non organic anaknya malah ga mau makan, eh setelah beli di sini malah jadi doyan pumpkin, katanya lebih manis dan legit”. Hehehe mungkin si mbak kasir promosi, tapi kalo menurut saya emang bener seperti itu sih. Anak apalagi bayi punya sense yang lebih sensitif untuk milih mana yang terbaik buat mereka.

Heeee kok jadi ngelantur ya ceritanya. Hmm mudah-mudahan baby Bodhi saya selalu doyan masakan mamanya yang ga pinter masak ini yah. Mudah-mudahan ga sering GTM (gerakan tutup mulut). Yah kalaupun terjadi, semoga mamanya ini tabah hihihi dan bisa melewatinya bersama-sama. Bersama kita bisa ya Nak :)