Luh Ayu Writing

From mind to words

Nikmatnya Blogwalking August 28, 2008

Filed under: Mind — luhayu @ 3:01 pm
Tags: ,

Hey kata siapa mengisi ‘me time’ itu mesti ke spa atau nyalon atau shopping ke mall? Kata siapa juga jalan-jalan kudu berbaju rapi, berdandan cantik (walaupun diriku pede sih, tanpa dandan juga udah cantik kok, hueeeek :P ). Blogwalking ajah!! Ya, baca-bacain blog orang. Ketawa pas ada yang lucu, ikutan sedih pas mereka curhat tentang rasa hati yang porak poranda gundah gulana, semangat ketika membaca cerita yang menginspirasi. Kalau ada cerita yang keliatan remeh temeh (hmmm ini nih yang sering dikomentarin orang kalo banyak tulisan blog itu sampah), kadang nggak seperti itu loh kenyataannya. Sejelek apapun tulisannya (misalnya blog kuw ini), saat menulisnya ada rasa yang ikut serta loh. Jadi jangan dihina, dihujat, dicaci yah. Walaupun kalaupun mau seperti itu, ya silakan sih, ga dipikirin juga kok hehehe.

Dulu…ada temen yang bilang gini, nanti kalo kamu jadi ibu-ibu pasti deh isi blog mu ga jauh-jauh dari anak, masakan, beres-beres rumah. Cocok deh ntar kamu gabung sama klub ibu-ibu blogger. Nggak salah dan nggak sepenuhnya bener juga sih. Hmmm apa yang salah dengan ibu-ibu blogger ya. Kalau mau teliti dan jujur, wuih banyak loh ibu-ibu yang menginspirasi. Bayangin deh, udah ngurus rumah, kadang ada yang kerja kantoran juga, ngurus bisnis(biasanya bisnisnya online nih), masih sempet masak enak,masih sempat ngurus anak sakit, masih sempet mikirin mau masak makanan kesukaan suami, masih sempet juga ikut arisan, trus masih bisa juga jadi tempat curhat teman-temannya, masih juga masih juga…duh nyebutnya aja capek. Dan yang terpenting mereka itu biasanya masih sempet update blog nyaris setiap hari. Ya sudah lah, kita lewati saja ya bagian ini, terserah apa kata orang, pokoknya ibu-ibu blogger mah rocks!!!

Balik ke blogwalking. Lewat blogwalking bisa window shopping juga loh. Secara sekarang BBM mahal, kemana-mana macet (di Bali sih emang belum) atau panas (di Bali emang mataharinya  rajin dari dulu yak). Hehehhe sejak jadi full time mom (yang kalo acara jalan-jalan ke luar rumah sekarang ini lebih untuk kepentingan keluarga ajah), udah beberapa kali belanja online dan hasilnya nggak mengecewakan. Yang jualan jujur, dan barangnya bisa dipertanggungjawabkan. Enaknya bisa shopping malam-malam, cukup berbaju tidur. Liat-liat barangnya, nggak beli ya nggak dijutekin, nawar juga nggak dijudesin, malah masih dingomongin kalo ga jadi beli , “makasi ya udah mampir…”, uh nice kan???

Nah belakangan ini selain keranjingan ngintip-ngintip etalase jualan online (biasanya yang jual produk ‘nggak biasa’ yang umumnya susah didapetin di Bali, seperti baju menyusui, tas-tas second bermerk-yang ini sih belum pernah beli cuma liat-liat aja soale meskipun second masih mahal juga hiks, baju-baju korea yang lucu dan imut ituw, dll), diriku juga terinspirasi banget pengen bisa cake decorating, trus food photography (terutama sih bakal kepake juga untuk foto-fotoin rangkaian bunga dari Kintan Florist biar lebih keren dan ‘menjual’), trus pengen bisa jadi penulis yang lebih baik dan lebih baik lagi, pengen makin jago mengubah gaya hidup yang lebih hemat energi dan cinta lingkungan, pengen bisa jadi ibu rumah tangga yang jago macem-macem, meskipun aku sadar aku bukan wonder woman. Tapi pengen banget jadi ibu yang bisa ngurus anak sendiri dengan sebaik-baiknya yang aku mampu, berhasil juga bisnis onlinenya, laris juga toko bunganya, semakin disayang semakin dicinta karena makin jago masak tapi nggak jadi lusuh karena cuma berdaster, tapi tetep sexy pake baju dari korea wakakakak, kalau remote tv rusak bisa nyari akal gimana cara ngebenerinnya, kalo pompa air ngadat pas di rumah lagi sendirian tahu tindakan yang harus diambil, minimal punya no telpon tukang pompa, trus masih bisa ketemuan dengan teman-teman, masih bisa memperluas jaringan pertemanan yang nggak cuma karena untuk meluaskan peluang bisnis tapi pertemanan yang apa adanya (aku sudah dapat lho beberapa yang awalnya dari baca blog acak-acakan ini, lalu menjadi teman berbagi) dan….kalo bisa memberi inspirasi bagi orang lain, biarpun sedikiiiit aja, karena dengan begitu aku nggak cuma ‘ngambil’ manfaat tapi juga ‘memberi’ manfaat.

Nggak terasa, udah 2 jam blogwalking, ngunjungin blognya ‘ibu-ibu’. Udah cukup kali ya untuk hari ini. Udah cukup ‘me time’ untuk hari ini. Sekarang waktunya tidur…recharge untuk memulai hari baru besok dengan semangat yang baru dan full energy dan tentu saja FUN!!! Seperti kata suami,”semoga selalu ada senyum di wajah istriku” (hihihi ketahuan yang suka ngambek dan bibir mengerucut kalo ada yang nggak sreg dihati).

 

Yang sabar ya buuuu…. August 15, 2008

Filed under: Mind, bodhi — luhayu @ 12:59 pm
Tags:

Salah satu esensi melatih meditasi adalah menyadari setiap tindakan yang kita lakukan, menyadari setiap pikiran yang muncul. Meditasi nggak cuma duduk bersila, diam dengan mata terpejam. Dari yang pernah saya baca dan dengar, meditasi yang sesungguhnya adalah terjadi dalam apa yang kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Menyadari setiap pekerjaan yang kita lakukan misalnya. Sadar saat kita sedang makan, sadar saat sedang mandi, bahkan sadar saat marah-sadar bahwa itu salah satu bentuk energi yang tidak membawa kebaikan untuk diri kita pribadi juga bagi orang lain. Kelihatannya sepele, tapi sulit dalam pelaksanaannya. Karena seringkali kita begitu permisif pada diri sendiri, dengan tameng saya kan cuma manusia biasa. Hmmm justru manusia biasa adalah manusia yang bisa mengontrol dirinya, justru manusia luar biasa yang tidak sadar apa yang dia lakukan, tidak sadar apa yang dia pikirkan, alias gila. Saya tidak mau gila untuk itu saya ingin jadi manusia biasa itu tadi. Tapi memang seringkali saya masih nyaris jadi orang gila atau bahkan mungkin sudah gila beneran tanpa saya sadari – atau pura-pura tidak saya sadari.

Seringkali saya makan dengan terburu-buru, tidak menyadari apa yang masuk dalam mulut saya, tidak saya rasakan bagaimana rasa nasi yang sesungguhnya manis, tidak saya sadari kalau potongan brokoli yang masuk dalam mulut saya terdiri dari batang, kumpulan daun-daun kecil yang bergerombol, kadang tidak juga sadar bahwa dari ‘manfaat’ protein daging yang saya makan, ada jiwa yang tersiksa dan terpaksa rela menjadi korban untuk kepentingan sepotong lidah yang tidak pernah mengenal rasa puas. Sering juga saat mandi saya tidak sadar, betapa segar air yang mengguyur tubuh saya, betapa wangi sabun yang sudah saya beli dengan harga lumayan mahal, karena di saat mandi saya sering berpikir hal-hal lain yang tidak ada urusannya dengan bersih-bersih badan. Saya malah berpikir, habis mandi mau check email, habis mandi mau nonton tv. Yang saya pikirkan yang sesudahnya, bukan saat sekarang. Berkhayal, hanya berkhayal yang saya bisa. Tapi seringkali yang saya khayalkan itu tidak kejadian, bukan check email, tapi malah membalas sms yang masuk, bukannya nonton tv tapi malah kerja ekstra karena harus membersihkan ceceran sabun yang tumpah akibat saya mandi dengan tidak sadar.

Lalu, kenapa Bodhi. Mengapa harus meditasi ala Bodhi? Karena sejak dia ada, mau tidak mau dan harus saya bermeditasi. Sebab kalau tidak, sedikit saja terdengar bunyi-bunyi yang tidak ‘wajar’ maka ia akan terbangun padahal belum saatnya. Alhasil, saat membuka kaleng biskuit, saya harus pelan-pelan, dengan penuh perasaan. Saat makan biskuit saya harus mengunyahnya dengan ekstra lembut agar tidak berceceran dan berbunyi kriuk-kriuk. Ribet? Wah tidak, saya malah dapat hasil ekstra, jarang kembung karena makan dengan hati-hati. Saat berjalan pun, sandal rumah yang saya pakai diusahakan tidak ber-ketipak-ketipak, saya berjalan dengan halus untuk meminimalkan bunyi. Susah? Tidak juga, rasanya seperti berlatih meditasi berjalan yang kalau dipaksakan disediakan waktu untuk berlatih, waktu itu tidak pernah ada. Setiap langkah disadari, setiap langkah diatur. Begitupun saat mandi, semprotan air shower diatur sehingga tidak terlalu gemericik. DIusahakn mengenai badan semua jadi tidak banyak air yang kena lantai sehingga menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan Bodhi. Hasilnya, saya bisa merasakan setiap tetesan air yang membahasi tubuh, mensyukuri bahwa saya masih bisa mandi dua kali sehari!!

Berlebihan ya? Bagi saya sama sekali tidak, terserah bagi orang lain. Sehingga jika ada yang berkomentar bahwa anak saya harus dilatih dengan suara berisik, ya terserah yang berkomentar seperti itu. Saya tidak perlu melatihnya dengan suara berisik, justru saya ingin melatihnya tentang keheningan, karena dengan hening dia bisa memandang, mendengar, berpikir dengan lebih bening. Jika tetangga atau mungkin lingkungan sekitarnya berisik, ya mau bagaimana lagi. Bodhi menjadi terbangun, ya saya bisa apa?? Saya tidak bisa kontrol orang lain. Tapi untuk diri saya sendiri saya akan berusaha selalu berhati-hati agar tidak membangunkan tidur nyenyaknya. Karena dari jauh-jauh hari saya sadar, ini media saya berlatih. Berlatih halus, berlatih lembut, berlatih sadar, juga berlatih sabar kalau ada faktor luar yang sengaja atau tidak sengaja mengganggu ketenangannya (walaupun percaya deh untuk seorang ibu yang sudah bersusah-susah meninabobokkannya, sudah capai seharian menjaganya, hal itu sama sekali tidak mudah).