Cinta…cinta…
Bulan ini banyak yang tiba-tiba ngomong soal cinta ya, termasuk saya?? Tapi sepertinya sih saat ini cinta di bulan februari lebih banyak cinta yang sudah terinterupsi pesan-pesan sponsor. Termasuk saya lagi??? mengingat saya bisnis florist, dan mau tidak mau berharap mendapat keuntungan lebih banyak di bulan cinta ini.
Tapi sebenarnya saya tidak bermaksud promosi bunga disini, tapi sedang ingin bercerita tentang kisah-kisah yang pernah menghampiri saya bahwa betapa cinta (lelaki/wanita) itu begitu dikejar-kejar karena asumsi jika cinta sudah didapat maka yang ada hanya bahagia semata. Jadi tidak heran demi memperoleh si cinta (atau si pemilik cinta sih sebenarnya??) banyak yang menempuh segala cara. Memesan cinta, salah satunya.
Cinta pesanan, seperti memesan sepiring nasi campur entah di cafe atau di warung. Maunya yang tinggi, putih, pintar, baik, seiman, bla…bla…bla… (biasanya tidak disebutkan syarat kalo bisa punya mobil, rumah baik yang sudah lunas ataupun sedang kredit). Lalu disebarlah kriteria itu ke setiap teman atau kerabat. Kalau kebetulan ada yang bertanya, sudah punya pacar belum??? Maka seringkali dijawab: “belum nih… belum ada yang mau, atau belum ada yang cocok. Makanya cariin doong.” Kalau pembicaraan berlanjut maka dipastikan akan ada penyebutan syarat-syarat seperti di atas.
Bukan…bukan saya mau mengatakan kalau memesan pacar itu salah. Sah-sah aja kok, namanya juga usaha. Saya cuma ingin cerita pengalaman saya sering dimintai tolong mencarikan pacar. Dulu…pernah iseng-iseng memenuhi permintaan jadi mak comblang, tapi kok yang ada saya yang capek sendiri ya. Jadian juga belum udah ada complain. Soalnya si wanita yang udah janjian mau ketemu tiba-tiba mangkir. Lalu ada lagi yang sudah sampai tahap bertemu, tapi si wanitanya malam-malam telpon saya sambil ngomel-ngomel, “temen loe tuh, udah basi banget ngobrolnya pelit pula!!” Hayaaah. Cape deee.
Mungkin saya tipe mudah menyerah, karena sehabis itu saya menutup lembaran hidup yang pernah coba-coba jadi mak comblang. Lha belum jadian aja udah nyusahin saya, gimana kalo nanti jadian trus berakhir putus?? Kalau saya dituntut ganti rugi gimana? Mending kalo putus ‘baik-baik’, tapi kalo udah ada bawa-bawa ‘harus bertanggung jawab” atau menjurus ke SARA??? hiiiy nggak deh, makasih.
Begitulah, saya tidak berpengalaman dan tidak mau menambah pengalaman untuk menjadi mak comblang. Kalau dulu alasannya karena saya BELUM siap dengan segala resikonya, sekarang saya tegas menjawab saya TIDAK MAU menanggung resikonya. Walaupun mungkin ada yang memang sukses mencomblangi ataupun dicomblangi, tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk saya.
Selain alasan tidak mau menanggung resiko, alasan lain adalah karena menurut saya pasangan hidup tidak perlu dipesan-pesan seperti itu. Daripada sibuk menyebar kriteria seperti halnya menyebar CV saat mencari kerja, kenapa tidak kita menyebarkan cinta saja walau tidak diminta. Tapi jangan salah sangka dulu, bukan maksud saya untuk mengobral diri sehingga jadi murahan. Tapi maksud saya lebih seperti misalnya selalu memasang wajah ramah penuh persahabatan kepada setiap orang. Setiap orang yang menerima nya akan merasa bahagia. Tidak berprasangka buruk kepada orang lain (tapi waspada sih tetep…), maka yang terpancar dari diri kita adalah aura kasih sayang. Alih-alih sejak awal berkenalan sudah pasang target atau bertujuan cari pacar, yaaa berteman aja dulu. Jangan dipusingkan oleh kriteria, jangan terbeban oleh target cari pasangan. Banyak teman, banyak relasi, kalau ada apa-apa dengan diri kita tentu kita tidak akan sendirian kan, akan banyak tangan yang siap membantu akan banyak telinga yang siap mendengarkan keluhan kita. Tapi jangan hanya mengharap akan menerima seperti itu, jadilah juga si pemberi. Tak perlu uang, cukup menjadi pendengar yang tidak menghakimi, yang punya empati, si pemberi kasih sayang dan cinta kasih. Semakin banyak cinta yang kita tebar, berlipat ganda bahagia yang kita rasakan. Hukumnya sudah seperti itu bukan?
Maaf…tidak bermaksud sok menasehati bukan juga karena saya merasa sudah menjadi si pemberi yang sukses. Tapi begitulah yang pernah dan banyak saya lihat. Mereka yang banyak memberi cintanya, tak perlu mengejar maka cinta sejati yang tulus akan datang dengan sendirinya. Tak perlu mereka memasang pengumuman tapi seringkali pasangan yang datang dalam kehidupan mereka memang yang sesuai dengan ‘pahala’ yang sudah selayaknya mereka terima. Mereka yang baik hati, mendapat pasangan yang baik hati pula. Mereka yang dermawan bertemu pasangan yang sama dermawannya. Tapi kalau kemudian saya lihat ada yang sepertinya baiiik sekali tapi bertemu pasangan yang kebalikannya, saya percaya karma yang bicara. Tapi saat ini bukan saatnya menjelaskan karma yang demikian kompleks itu. Sederhananya saya hanya berpikir, jika si baik berpasangan dengan si tidak baik, mungkin saya yang belum jernih melihat, apakah si baik benar-benar baik atau si kurang baik benar-benar seburuk yang saya lihat sebatas penglihatan saya yang masih dangkal ini.
Mari kita rayakan cinta di bulan ini, kalau bisa setiap bulan alangkah indahnya. Tak perlu apriori dengan yang merayakan Valentine, karena tak ada yang salah dengan merayakan kasih sayang, karena kasih sayang itu sejatinya adalah sumber hati yang bahagia. Happy Valentine…semoga semua mahluk hidup berbahagia.