Luh Ayu Writing

From mind to words

Basi banget sih lo! March 17, 2009

Filed under: Mind — luhayu @ 2:59 am

Dulu gara-gara saya tahu terlalu banyak informasi di kantor saya didakwa sebagai bigos alias biang gossip. Padahal saya tahu bukan karena saya mau, tapi informasi itu datang begitu saja, tidak ditanya tidak dikorek. Setelah tahupun saya tidak menyebarkannya, tapi justru karena saya tidak mau memberi informasi maka saya dituduh semena-mena seperti itu. Aneh? Memang!! Saya sendiri bingung, bagaimana sih kriteria biang gossip itu sebenarnya? Tapi ya sudahlah, saya sudah memaafkan orang itu dan bersikap biasa saja kepada dia, karena saya tahu dia sedang butuh perhatian, jadi cara termudah adalah dengan menyebarkan berita ga mutu. So, siapakah si biang gossip sebenarnya? Hehehehe.

Saya suka baca, apa aja. Ada sobekan koran pun kalau saya sedang senggang akan saya baca. Jadi saya bisa ngobrol soal interior, soal sepakbola, soal Jepang, dan masih banyak soal-soal lain (kecuali soal rumah tangga orang lain ya) Saya bisa ngerti pas temen-temen saya ngomongin soal gaya main Jerman saat piala dunia, meskipun saya bukan penggemar sepakbola. Dan saya tidak perlu datang ke Jepang untuk tahu beberapa hal umum atau mungkin spesifik tentang Jepang. Atau juga saya tidak perlu kuliah design dulu untuk mengerti apa sih meja island itu, bagaimana sih tata letak furniture yang baik untuk ruang kerja, misalnya. Bukan menyombong, apalagi yang saya tahu kebanyakan ya hanya kulitnya saja, sebatas yang pernah saya baca. Kecuali memang saya berminat sekali, akan saya cari infonya sampai saya puas. Tapi ini tidak sama dengan mengorek gossip nggak jelas itu lah yaw.

Beberapa waktu yang lalu, ada beberapa komentar yang nyaris sama ditujukan kepada saya. Pertama: “yaaah gimana sih loe, kok ketinggalan berita banget. Udah lama banget lageee resignnya.” Oh, jadi info tentang resign, tentang dipecat, wajib diketahui secepat mungkin ya? Kalo saya ketinggalan, maka saya basi. Hmmm lucu. Lalu ada lagi, “wah loe ketinggalan info Yu, kan di lippo karawaci mau diadain balap mobil A1″. Hmmm ok, mungkin untuk yang ini saya ketinggalan, selip nggak kebaca di koran. Dan masih ada beberapa hal lain lagi.

Hal ini membuat saya berpikir. Apa iya saya udah ketinggalan banyak informasi? Apa iya saya sekarang udah kuper – kurang pergaulan alias ga begawl lagi? Apa iya? Masa iya? Hmmm kedengaran seperti orang yang nggak terima ya. Nggak terima dianggap ketinggalan berita, secara selama ini saya sering jadi sumber bertanya beberapa teman. Entah sekedar nanya, beli kancing dimana ya, ayam Taliwang yang enak dimana ya, punya kenalan plumber yang bagus ga? Atau yang lebih serius, gue mau mutusin pacar gimana cara yang paling elegan? hahahaha.

Akhirnya saya menemukan jawaban yang saya anggap paling pas untuk diri saya saat ini. Saya hanya ingin tahu dan diberi tahu hal-hal yang membawa kemajuan dan kebaikan buat diri saya. Baik secara fisik maupun spiritual. Di tengah gempuran informasi, saya pernah merasa muak. Terlalu banyak hal yang saya ketahui tapi sebenarnya saya tidak ingin tahu. Jadi ini salah siapa? Bukan salah siapa-siapa, bukan juga salah teknologi yang membuat begitu mudah informasi datang dan didapat. Sebaiknya, sayalah, yang punya kendali atas diri saya sendiri. Saya berhak dan juga wajib menyaring informasi yang hendak masuk. Biarkan saja di tv begitu banyak berita tentang para politisi busuk atau selebriti cari sensasi. Matikan tv, beres kan? Biarlah di internet begitu banyak informasi yang siap didownload. Pilih saja yang bermanfaat untuk diri sendiri. Aman kan? Anggap saja angin lalu komentar-komentar di milis, di facebook, atau dimanapun itu, selama saya mengganggap itu ga penting buat saya, abaikan!! Tenang deh hidup ini.

Jadi ketika kesimpulan itu sudah saya dapatkan, ketika ada teman yang menuliskan sebuah headline berita di status Yahoo messangernya (waktu itu tentang meninggalnya seorang ketua DPRD di SumUt), lalu saya bertanya, “Memangnya ada kejadian apa?”  lalu teman saya berkomentar: “Bah masa nggak tahu, kan kejadiannya kemarin sore, rame beritanya di TV, di detik juga ada.” Saya tidak lagi merasa tersinggung. Saya hanya jawab, “maaf saya jarang nonton TV dan jarang baca detik”.  Lalu teman saya bilang lagi,”TV nggak nonton, nggak baca detik, koran juga nggak???” Hehehe saya cuma ketawa, “kata kamu kan kemarin sore, nah saya hanya baca koran Kompas. Di Denpasar, koran kompas datangnya siang. Jadi saya belum baca. Jadi apa salahnya lah, kamu yang update temanmu yang ketinggalan berita ini.” Eh teman saya masih nggak terima, “kenapa mesti Kompas, kan bali juga punya koran lokal, yang bisa dateng pagi-pagi. Kompas kan mahal. Atau mendingan juga kamu beli Jawa Post lebih murah”. Wah mau  nggak mau saya mesti bilang dong alasan saya kenapa berlangganan Kompas bukan koran lokal yang dia sebut itu. “Karena cara penulisan di Kompas lebih baik. Saya nggak mudeng dengan cara penulisan wartawan si koran lokal itu, nggak beraturan, kadang bahasa yang digunakan juga sering salah yang mana bisa berarti salah arti kan? Soal mahal? Itu relative, untuk hal yang memang lebih baik, kenapa takut membayar lebih?” *maaf loh ya bukan bermaksud mendiskreditkan si koran lokal itu, tapi apa daya itulah yang saya rasakan.

Nah setelah pembicaraan itu, saya kemudian berniat mencari beritanya lebih lanjut di internet. Setelah informasi saya rasa cukup, ya sudah saya hentikan. Begitulah, saya hanya mencari info secukupnya, sekedar tahu. Karena untuk berita itu saya anggap saya cukup tahu sampai disana. Jadi jika kemudian ada yang bicara tentang hal itu, ya saya tahu yang dia omongin, cuma saya nggak mau nimbrung, karena saya nggak kompeten membicarakannya, lha saya cuma tahu sedikit kok :)

Jadi, ketika saya punya kontrol atas diri saya sendiri, saya tahu apa yang saya lakukan, saya tahu apa yang saya butuhkan. Saat itu saya merasa bahagia.

 

One Response to “Basi banget sih lo!”

  1. titik Says:

    salam kenal mbak (boleh kan panggil mbak ? hehe). habis googling nggak sengaja mampir kemari. Setuju banget sama paragraf terakhirnya.


Leave a Reply