Luh Ayu Writing

From mind to words

Marketing of fear April 23, 2009

Filed under: Mind — luhayu @ 2:47 am

Ada perasaan sebal dan kecewa melihat iklan sebuah kecap di televisi. Masa anaknya cuma makan kerupuk, pake nasi, plus kecap sebotol gede, dan begitu kecapnya habis si ibu dengan senyum manis nambahin satu botol lagi!!! Kalo background nya di lokasi kumuh atau di lingkungan masyarakat yang kekurangan, mungkin masih wajar. Tapi ini di sebuah dapur berdesign minimalis modern, masa anaknya cuma makan kecap dan kerupuk dikasi aja??

Sering miris nonton TV kita, nggak acaranya nggak iklannya. Makanya mendingan jangan nonton TV. Tapi kok ya sekali-sekalinya iseng nyoba nonton, yang muncul iklan-iklan semacam itu. Belum lagi iklan susu yang pemerannya para ibu dan ayah yang nampak berpendidikan, orang-orang berjas putih (dokter???), yang mendewakan susu serasa nggak makanpun nggak apa-apa, yang penting mau minum susu. Nggak heran deh masyarakat kita yang menganggap TV sebagai sumber informasi terpercaya (kalo udah muncul di TV berarti benar!!) jadi tersesat. Padahal kalau di negara-negara yang hukumnya kuat, iklan susu seperti itu bisa dituntut ke pengadilan dan hukumannya ga main-main. Susu pun nggak cuma susu untuk bayi dan anak, susu untuk orang tua pun dimanipulasi iklannya, seakan-akan cukup dengan minum susu berkalsium tinggi beres urusan osteoporosis. Bahkan plus menakut-nakuti, kalo nggak minum susu itu, divisualisasikan badannya menguap sedikit-demi sedikit, hiiiiy ngeri. Padahal kalau tahu, bukan begitu cara mencegah tubuh menggerogoti kalsium dari tulang. Bergerak, berjemur, makan-makanan alami yang mengandung vitamin D, bukan dengan kalsium sintetis seperti itu. Makanya wajar kan, justru setelah semakin banyak susu semacam itu kok makin banyak orang sakit tulang, bukan karena banyak orang sakit tulang makanya muncul produk susu itu.

Nah ngomongin soal kalsium, betapa makin banyak orang yang takut terpapar matahari saat ini. Alasannya takut hitam. Ya kalo di siang bolong jemuran, ya gosong lah trus bisa kanker kulit. Padahal matahari pagi sebelum jam 8 itu sehat banget buat tubuh. Kalau sekarang ini yang putih dianggap lebih cantik dibanding yang berkulit coklat? Ya iklan lagi, yang membombardir dengan stigma seperti itu. Sama halnya juga dengan model iklan yang baru sekarang ini. Anak yang pendek lebih buruk dari anak yang tinggi. Lalu solusinya? minum susu lagi!! Padahal nggak segampang itu, gimana kalau urusannya sudah dengan genetik? Mau minum susu satu drum sehari ya sama aja.

Jadi sebenarnya kita sedang diapakan sih oleh produsen produk-produk itu? Yup, kita sedang ditakut-takuti. Demi meraih keuntungan tinggi dan demi memenangkan persaingan dagang, segala cara ditempuh. Salah satunya dengan memanfaatkan rasa takut yang dipunyai nyaris semua manusia. Takut mati, takut sakit, takut jelek, takut miskin. Tapi kadang saking takutnya jadi nggak mikir rasional. Memang bisa ngomong, “makanya jangan mau dibodoh-bodohin”. Tapi kenyataannya? Produk tertentu bisa langsung laku keras setelah iklannya muncul di TV. Dan tak lama kemudian memasang iklan lagi setelah menerima top brand award karena kepercayaan konsumennya. Bukan karena iklannya bagus, tapi penontonnya aja yang mau dimanfaatkan. Dan saya baru tahu ternyata dalam dagang ada yang namanya marketing of fear. Mungkin bisa dibilang juga Marketing of Parno.