Apa hubungannya jujur dengan kacang ijo? Ada!! Setidaknya bagi saya. Selera makan saya (saya tidak mau menyebut kita, karena belum tentu orang lain merasakan hal yang sama) ternyata berhubungan dengan seberapa berani saya jujur pada diri saya sendiri.
Jujur pada diri sendiri itu sebenarnya yang paling susah kan? Mau ngaku diri cakep aja masih sering malu dan takut dibilang narsis, padahal cuma bilang pada diri sendiri lho, orang lain nggak ada yang denger. Padahal dengan mengakui diri sendiri cakep, berarti sudah sayang pada diri sendiri, yaaa tentu diberlakukan pada tempatnya ya. Lalu jujur mengakui kalau diri sendiri sebenarnya tidak menyukai sebuah pekerjaan tapi masih maksa bekerja di bidang itu, sering banget saya temui hal ini. Hmm sebenarnya saya sendiri juga pernah dalam posisi ini. Padahal kita selalu bilang, saya paling nggak suka dibohongi, dan inget nggak dulu jamannya masih sering ngisi diary pas perpisahan sekolah, di kolom hal yang nggak disuka biasanya ditulis “menunggu” dan “dibohongi”. Tapi kenapa ya, kalau nggak suka dibohongi orang lain tapi kok suka membohongi diri sendiri.
Lalu apa nih hubungannya dengan kejujuran dengan bubur kacang ijo? Begini: buat yang suka atau pernah masak atau minimal pernah liat-liat resep masakan, sering kan ada bumbu magic tambahan, yang bisa bikin makanan nggak enak jadi enak, yak betul MSG atau penyedap rasa atau apapun itu namanya, pokoknya bahan yang cuma perlu ditambahkan seujung sendok makan tapi dengan ajaibnya bisa menimbulkan rasa seperti sapi, rasa seperti ayam, dll. Banyak orang yang nggak pede kalo masak nggak pake bumbu ajaib itu. Nah itu namanya menipu diri sendiri bukan? Udah tahu nggak ada daging sapinya tapi membohongi diri sendiri dengan menambahkan rasa seolah-olah sapi. Jadi MSG selain nggak baik untuk kesehatan fisik nggak baik juga untuk kesehatan mental, bikin gampang krisis pede dan suka bohong, baik kepada diri sendiri maupun orang lain yang ikut menikmati masakan itu hehehe. Krisis pede karena sudah terpatok pada sebuah ukuran rasa enak, padahal enak itu masalah selera dan hanya berhenti di lidah. Setelah sampai di dalam perut, ya nggak ada lagi yang namanya enak nggak enak, diuwel-uwel aja ama usus. Jadi mestinya percaya diri dong bilang, masakan saya enak meskipun tanpa MSG.
Dalam hal lain, yang masih berhubungan dengan organ pencernaan, vegetarian. Nggak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Ini murni apa yang saya rasakan sendiri. Saya memang belum menjadi vegetarian murni, tapi sedang belajar ke arah itu. Dari awal belajar mengurangi makan daging, saya nggak mau dengan sengaja mencari makanan daging pura-pura. Kecuali memang di sebuah acara sudah terhidang makanan itu dan nggak ada pilihan lain selain kelaparan. Bagi saya itu sama dengan saya bohong pada diri saya sendiri. Label saya ‘bukan pemakan daging’ tapi otak dan napsu saya masih pada daging. Kalau bagi saya, mendingan makan aja dagingnya beneran asal memang saya makan daging itu untuk memenuhi kebutuhan saya bukan keinginan saya. Masih lebih jelas saya dapet manfaat protein hewani nya daripada hanya menumpuk gluten dalam badan saya yang notabene indeks glikemik nya tinggi sehingga sulit dicerna tubuh dan akhirnya…jadi sampah di badan saya. Dan yang terpenting hakekat dari vegetarian selain mengurangi pembunuhan terhadap mahluk hidup lain, sekali lagi ini bagi saya, adalah menyederhanakan keinginan sebelum akhirnya meniadakan keinginan.