“Terkadang kita membutuhkan ucapan orang lain untuk menyadari keberuntungan kita“
Dulunya saya menganggap kejadian ini biasa-biasa saja. Tapi tadi saya diingat bahwa saya sebenarnya beruntung dalam kejadian itu.
Ceritanya saya ikut sebuah milis kesehatan. Kebetulan hari ini ada yang bertanya soal ASI dan kutipan pertanyaannya seperti ini: “Saya baru melahirkan 3 minggu yang lalu dan berniat sekali memberikan ASI kepada si kecil, tetapi ASI yang ada hanya sedikit sekali. Apakah banyak/sedikitnya ASI itu dipengaruhi oleh faktor keturunan juga? (Menurut mama saya, beliau dulu juga sedikit ASI nya).
Saya juga sudah diberikan suplemen (berupa vitamin) untuk menambah produksi ASI, jumlah ASI memang lebih banyak sedikit, tapi tetap tidak cukup untuk si kecil. Kalau saya menerapkan FC sekarang, apakah masih bisa menambah produksi ASI (mengingat sudah hampir sebulan)? Saya pengen sekali untuk memberikan ASI sepenuhnya atau setidaknya lebih banyak ASI dibandingkan jumlah susu formula kepada si kecil. “
Karena merasa berpengalaman alias pernah mengalami hal yang sama, maka saya reply pertanyaan tersebut. Dan kutipan jawaban saya seperti ini:
“Hi mbak.
Setahu saya ASI tidak dipengaruhi factor keturunan, tapi sangat dipengaruhi
mindset. Saya mengalaminya.
Sebagian besar lingkungan saya tidak terlalu mendukung pemberian ASI
eksklusive (tapi saya beruntung suami amat sangat mendukung).
Sehingga saya dicekoki terus bahwa ASI saya tidak akan mencukupi, HARUS
‘dibantu’ susu formula. Tapi di hari ke 21, saya ke dokter anak untuk minta
saran mengenai produksi ASI saya, karena saya tidak mau anak saya mendapat
campuran susu formula. Dan Cuma gara-gara si dokter bilang, kamu nggak perlu
khawatir, asal cara menyusui kamu benar dan makananmu baik dan bergizi, kamu
PASTI bisa kasi ASI exclusive, anakmu TIDAK AKAN kekurangan ASI. Percaya
nggak percaya mbak, karena saya begitu yakin dengan kata2 si pak dokter,
sampe di rumah ASI saya lancar dan hari itu juga anak saya nggak perlu susu
formula. Dan tentu saja cara menyusui saya juga diperbaiki sesuai saran
dokternya.
Oh ya kalau dokter kandungan saya bilang, minum supplemen ASI sebenarnya
nggak ngaruh. Mungkin karena minum itu jadi kita pede makanya ASI nya banyak
dan lancar. Dan yang penting selalu disusui supaya sistemnya lancar “
Nggak lama kemudian ada reply dari moderator milis tersebut yang bilang begini:
“Wah untung mbak Ayu ketemu dokter yg benar“
Hmmmm jawaban itu kemudian membuat saya berpikir, apakah benar saya beruntung? Kemudian saya mengingat lagi kejadian lebihd ari setahun yang lalu itu. Saya ke dokter anak untuk konsultasi ASI karena saya tidak mau anak saya mendapat asupan susu formula. Biasanya saya ke dokter P, tapi karena dr.P baru praktek sore hari sementara entah kenapa saya pengennya cepet-cepet aja hari itu ke dokter, maka pergilah saya, suami dan Bodhi ke rumah sakit. Sebelumnya sudah telpon kesana, katanya yang sedang praktek pagi itu dokter H. Saya sempat telpon teman untuk minta komentarnya soal dokter ini, dia sih bilang dokternya gampang ngasi obat, tapi kalo secara ilmu sih ok lah dokternya. Sampai disana seperti yang sudah saya ceritakan dalam isi email di atas, saya hanya dibekali ilmu menyusui yang benar, ditunjukkan cara yang benar dan pulangnya diberi buku kecil tentang menyusui. Tapi karena mikir mumpung ke dokter, saya dan papa nya Bodhi menanyakan juga beberapa hal termasuk nafas Bodhi yang -waktu itu baru berusia 21 hari- berbunyi grok-grok. Sudah cari referensi sih di internet, katanya wajar untuk umur segitu tapi ya mumpung ke dokter pengennya sekalian diliat juga langsung. Nah untuk kasus nafas grok-grok ini saya diberi resep yang lumayan banyak, kalo nggak salah 3 jenis obat deh. Waduh saya ngeri nih ngasi obat-obatan ke anak saya, lagipula sudah dapet referensi yang bilang nggak berbahaya, akhirnya kami ngga tebus obatnya. Hmmm berarti benar ya komen dari teman saya, soal si dr.H ini gampang meresepkan obat. Nah baru deh saya berpikir, wah saya memang beruntung ya tidak diresepkan supplemen ASI justru dibekali ilmu yang benar.
Lalu keberuntungan kedua adalah, setelah dari dokter anak, saya ada jadwal ke dokter kandungan untuk check up bekas operasi caesar. Saat periksa sempat diajak ngobrol sama dokternya, nanya-nanya keadaan baby, trus ada juga nanya soal ASI. Si pak dokter nanya, gimana ASI nya, lancar? Saya jawab, lancar dok… lha memang setelah pulang dari dokter H, Bodhi udah bisa full ASI *saya bercerita sambil tersenyum sumringah* Trus si dokter ngomong, kalo begitu supplemen ASI nggak perlu lagi, sebab dengan begini mekanisme produksi ASI nya sudah jalan. Lha padahal saya nggak ada nanya-nanya soal ASI apalagi bercerita kalo saya minum supplemen ASIxxx. Papanya Bodhi tetep beliin dan saya tetep minum, karena kata iklannya kan untuk menjaga stamina ibu menyusui juga. *huh payah kemakan iklan nih judulnya*. OOOO saya dan suami langsung kompang ber-oooo. Akhirnya sampe di rumah supplemen yang masih ada 1.5 botol nggak diminum lagi, yang penting makanan saya sehat dan enak hehehe. Kalo enak kan jadinya makannya banyak
Eh tapi nggak dibuang kok supplemennya, disumbangkan ke ibu yang baru melahirkan yang lain, yang memerlukan sugesti tambahan untuk kelancaran ASI nya.
Jadi kesimpulannya, ternyata memang saya beruntung ya ketemu dokter yang benar, dan ada juga dokter yang kebetulan lempeng nggak ngasi resep hahahaha.



