Luh Ayu Writing

From mind to words

Dari A ke B kembali ke A June 16, 2009

Filed under: ASI, Environment, Mind — luhayu @ 6:07 am

Cerita 1: Peternak sapi mengeluh karena harga susu sapi terus merosot turun, sementara pemerintah (penguasa??) tetap tidak membatasi impor susu. Di tengah gencarnya iklan susu, iklan ‘4 sehat 5 sempurna’ (yang sebenarnya hanya ada di Indonesia dan tidak diakui di dunia), peternak sapi Indonesia justru tidak menikmati berkahnya.

Cerita 2:  Manusia hanya perlu susu sampai umur 2 tahun, itupun kalau bisa dari Air Susu Ibu. Selebihnya karena kemampuan pencernaan manusia untuk memproses susu semakin menurun seiring bertambahnya usia, maka susu menjadi tidak penting lagi, digantikan dengan makanan sehat bergizi seimbang. Ada kelompok gerakan ‘nomilk’  ada kelompok gerakan ‘ayo minum susu seumur hidup’.

Cerita 3: Bagi yang tidak berhubungan langsung dengan peternak sapi (selanjutnya saya sebut petani susu saja ya) mungkin mudah untuk bilang tidak untuk ajakan minum susu. Tapi bagi yang berhubungan langsung, seperti ketua kelompok peternak sapi seluruh Indonesia misalnya (ini jabatan ngarang saya aja),  tentu tidak semudah itu. Di satu sisi dia sedang belajar dan mencoba menerapkan pola hidup sehat, salah satunya dengan tidak mengantungkan kesehatannya pada susu, apalagi mempertaruhkan kesehatannya dan keluarganya karena susu (ingat kasus bakteri sakazaaki, susu bermelamin, susu kalsium tinggi yang justru menyebabkan osteoporosis?). Tapi disisi lain dia harus memperjuangkan nasib para petani dan keluarganya yang makin terpuruk karena tersisih dari perhatian penguasa berwenang, dan bahkan sekarang makin gencar gerakan nomilk, sudah jatuh tertimpa tangga, ibaratnya begitu.

Banyak cara melihat sebuah kondisi, banyak jalan untuk mencari jalan keluar. Jadi tolong jangan sinisi saya yang kelihatannya cenderung pro nomilk. Seperti saya juga tidak akan mensinisi yang suka minum susu. Kalau ada kata-kata yang kelihatannya seperti itu, mohon maaf ya, bukan maksud hati begitu, hanya kebelummampuan saya untuk menyusun kata-kata, yang bisa bikin semua orang happy. Kalau menurut cara berpikir bodoh saya, dulu kan tidak ada peternak sapi, tidak ada pabrik susu, tapi dulu semua orang bertani, berkebun, orang masih bisa hidup. Lalu mengapa bisa berubah dari petani jadi peternak? Kok sanggup berubah? Pasti usaha yang dibutuhkan untuk mengubah itu tidaklah kecil, bahkan sama besarnya dengan sekarang jika kita ingin mengembalikan para peternak jadi petani. Peternak jadi pengangguran? Nggak juga, bisa kan jadi petani? ‘cuma’ prosesnya dibalik aja sekarang. Sama halnya dengan dulu, penduduk Indonesia yang beraneka ragam makanan sumber karbohidratnya, ada yang makan jagung, sagu, ubi, dll.  Tapi kok berhasil menjadi masyarakat pemakan nasi? Walaupun sekarang saat produksi beras tidak mencukupi lagi karena begitu tergantungnya pada beras, jadi kalang kabut impor beras. Sementara akhirnya sagu hanya jadi makanan eksotis, ubi cuma jadi cemilan keripik, dan jagung cuma makanan hiburan. Tentu tidak bisa dilupakan, usaha penguasa waktu itu yang mengkampanyekan bahwa nasi lebih unggul (dia lupa negara yang penduduknya nggak makan nasi masih bisa hidup dan terkadang lebih sejahtera kehidupannya). Entah ada kepentingan politis apa, saya tidak tahu dan males cari tahu. Jadi ketika dulu bisa mengubah dari A menjadi B, kenapa ketika kita mengetahui bahwa ternyata A lebih baik dari B, kita tidak mau mengakui dan belajar kembali (ilmu pengetahuan selalu berkembang lho dan ada banyak peneliti yang selalu belajar dan bekerja untuk menemukan hal-hal baru, walaupun terkadang hal baru yang ditemukan itu sebenarnya sudah dijalani sejak ratusan tahun lamanya). Seringkali, ketika menerima sesuatu yang dianggap keluar jalur umum, walaupun benar, yang muncul adalah penolakan. Bertahan. Pokoknya kekeuh, ngotot. Sulit…nggak mungkin, ngomong sih gampang, prakteknya susah!!! Ya …. memang iya, dimana-mana kalo praktek diomongin doang bukan dikerjain, ya berasanya susah.

Ya memang sih, selalu akan ada pro kontra, selalu ada yang punya pendapat berbeda. Kan katanya perbedaan itu indah, taman bunga makin indah kalau makin banyak jenis dan ragam warna bunganya. Jadi ya saling menghargai aja kali ya, kalau saya nggak mau minum susu, jangan dong saya dianggap sok!! Disinisi itu paling nggak enak, Ah mungkin saya aja yang nggak berbakat jadi pelopor ya, bisanya ngikut aja, tapi saya sih mencoba menerapkan ehipassiko (datang dan lihat). Saya dengar, saya anggap benar, saya coba praktek, ternyata terbukti benar. Tapi terkadang sulit ngontrol ngomongan nih (termasuk dalam tulisan ini), kadang kalau saya terlalu bersemangat karena saya merasa sudah merasakan manfaat sesuatu, saya jadi menggebu-gebu menjelaskan jika ditanya, sampai akhirnya yang saya ajak ngomong jadi merasa digurui atau disalahkan. Padahal maaf…bener-bener nggak sengaja, saya terkadang lupa bahwa yang saya bicarakan ‘out of the box’.

*maksudnya nulis soal susu dan petani susu tapi jadi curhat karena sering disinisin orang hehehe

 

Leave a Reply