Luh Ayu Writing

From mind to words

Bali Nggak Perlu Kasino October 22, 2009

Filed under: Environment, Mind, bali — luhayu @ 3:08 pm

Ketika sedang menghias vihara untuk sebuah acara (seperti biasa saya kebagian merangkai bunga), terjadi pembicaraan berikut:

Ibu A:  “Wah yang baru pulang dari Hongkong, gimana Macau?”

Mas B: “Macau udah banyak berubah….tambah bagus deh. Padahal cuma mengandalkan judi”/

Ibu A: “Iya tuh mestinya Bali seperti Macau, legalkan saja kasino. Bagus deh Bali.”

mas B: “Iya betullll….setuju….”

Saya sih cuma diem aja, padahal saat itu disana cuma bertiga. Saya diam karena saya nggak setuju, tapi saya males berdebat. Apalagi sedang di vihara, dan mereka lupa kali yah Sang Buddha aja menyebutkan ‘Bermata pencaharian yang Benar” sebagai salah satu jalan mencapai kesempurnaan. Tapi apa daya, usaha saya diam karena malas berdebat sepertinya gagal, karena dengan diamnya saya jadinya malah ditanya: “Iya kan Yu…bener kan????” Hmmmmmm hmmmmm saya waktu itu cuma begitu aja, mendengung seperti lebah, karena memang sedang nggak mood berdebat, dan saya juga liat-liat sih mana yang bisa diajak bicara dan mana yang cuma akan berakhir seperti pepesan kosong, jadi buat apa buang-buang energi?

Jadi alasan saya tidak setuju, cukup saya tuliskan disini saja. Ya, saya tidak setuju karena saya ingin Bali itu ya Bali, Bali bukan macau, bukan juga Las Vegas, bukan juga India, Bukan juga Tibet. Tapi Bali ya Bali, yang memiliki keunikan tersendiri, yang sudah selayaknya bangga dengan keunikan yang dia punya, tanpa harus sama dengan daerah lain. Justru karena Bali unik, maka banyak yang berkunjung ke sini bukan? Bahkan banyak yang tidak sekedar berkunjung, tapi kemudian memperoleh pencerahan. Ya di Bali tempatnya, sebuah tempat yang menurut sebuah buku yang pernah saya baca (tapi maaf lupa judul dan yang mengucapkan kalimat ini), bahwa Bali adalah salah satu dari tiga tempat yang aura dan getarannya paling baik dan kondusif untuk bermeditasi. Jadi inginnya saya, yang mau berjudi ya silakan ke macau yang mau mencari ketenangan bathin, datanglah ke Bali. Yang mau dugem, ya silakan dugem, dengan segala resiko ditanggung sendiri tentunya. Bukannya saya sok suci, tapi saya menyadari memang sulit menghilangkan dualitas selama dunia masih ada. Jadi sekarang tinggal kita yang memilih akan ada di sisi mana. Bahagia mana yang akan kita pilih. Begitu aja, dan pokoknya nggak setuju kalo Bali mesti sama dengan tempat lain, apalagi nyamain hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan agama yang kita anut. Katanya umat beragama, tapi kalo udah urusan duit, agamanya ditinggal dulu, begitu kali yaaaa……

BTW, sekarang sedang seru syuting Eat, Pray, Love. Nah kalau bukan karena Bali itu berbeda, si penulis itu nggak akan datang ke Bali untuk menghasilkan karya luar biasa bukan???