Luh Ayu Writing

From mind to words

Yak Anda Beruntung!! June 23, 2009

Filed under: ASI, Baby, Mind — luhayu @ 3:54 pm

Terkadang kita membutuhkan ucapan orang lain untuk menyadari keberuntungan kita

Dulunya saya menganggap kejadian ini biasa-biasa saja. Tapi tadi saya diingat bahwa saya sebenarnya beruntung dalam kejadian itu.

Ceritanya saya ikut sebuah milis kesehatan. Kebetulan hari ini ada yang bertanya soal ASI dan kutipan pertanyaannya seperti ini: “Saya baru melahirkan 3 minggu yang lalu dan berniat sekali memberikan ASI kepada si kecil, tetapi ASI yang ada hanya sedikit sekali. Apakah banyak/sedikitnya ASI itu dipengaruhi oleh faktor keturunan juga? (Menurut mama saya, beliau dulu juga sedikit ASI nya).

Saya juga sudah diberikan suplemen (berupa vitamin) untuk menambah produksi ASI, jumlah ASI memang lebih banyak sedikit, tapi tetap tidak cukup untuk si kecil. Kalau saya menerapkan FC sekarang, apakah masih bisa menambah produksi ASI (mengingat sudah hampir sebulan)? Saya pengen sekali untuk memberikan ASI sepenuhnya atau setidaknya lebih banyak ASI dibandingkan jumlah susu formula kepada si kecil.

Karena merasa berpengalaman alias pernah mengalami hal yang sama, maka saya reply pertanyaan tersebut. Dan kutipan jawaban saya seperti ini:

Hi mbak.

Setahu saya ASI tidak dipengaruhi factor keturunan, tapi sangat dipengaruhi
mindset. Saya mengalaminya.
Sebagian besar lingkungan saya tidak terlalu mendukung pemberian ASI
eksklusive (tapi saya beruntung suami amat sangat mendukung).
Sehingga saya dicekoki terus bahwa ASI saya tidak akan mencukupi, HARUS
‘dibantu’ susu formula. Tapi di hari ke 21, saya ke dokter anak untuk minta
saran mengenai produksi ASI saya, karena saya tidak mau anak saya mendapat
campuran susu formula. Dan Cuma gara-gara si dokter bilang, kamu nggak perlu
khawatir, asal cara menyusui kamu benar dan makananmu baik dan bergizi, kamu
PASTI bisa kasi ASI exclusive, anakmu TIDAK AKAN kekurangan ASI. Percaya
nggak percaya mbak, karena saya begitu yakin dengan kata2 si pak dokter,
sampe di rumah ASI saya lancar dan hari itu juga anak saya nggak perlu susu
formula. Dan tentu saja cara menyusui saya juga diperbaiki sesuai saran
dokternya.
Oh ya kalau dokter kandungan saya bilang, minum supplemen ASI sebenarnya
nggak ngaruh. Mungkin karena minum itu jadi kita pede makanya ASI nya banyak
dan lancar. Dan yang penting selalu disusui supaya sistemnya lancar

Nggak lama kemudian ada reply dari moderator milis tersebut yang bilang begini:

Wah untung mbak Ayu ketemu dokter yg benar

Hmmmm jawaban itu kemudian membuat saya berpikir, apakah benar saya beruntung? Kemudian saya mengingat lagi kejadian lebihd ari setahun yang lalu itu. Saya ke dokter anak untuk konsultasi ASI karena saya tidak mau anak saya mendapat asupan susu formula. Biasanya saya ke dokter P, tapi karena dr.P baru praktek sore hari sementara entah kenapa saya pengennya cepet-cepet aja hari itu ke dokter, maka pergilah saya, suami dan Bodhi ke rumah sakit. Sebelumnya sudah telpon kesana, katanya yang sedang praktek pagi itu dokter H. Saya sempat telpon teman untuk minta komentarnya soal dokter ini, dia sih bilang dokternya gampang ngasi obat, tapi kalo secara ilmu sih ok lah dokternya. Sampai disana seperti yang sudah saya ceritakan dalam isi email di atas, saya hanya dibekali ilmu menyusui yang benar, ditunjukkan cara yang benar dan pulangnya diberi buku kecil tentang menyusui. Tapi karena mikir mumpung ke dokter, saya dan papa nya Bodhi menanyakan juga beberapa hal termasuk nafas Bodhi yang -waktu itu baru berusia 21 hari- berbunyi grok-grok. Sudah cari referensi sih di internet, katanya wajar untuk umur segitu tapi ya mumpung ke dokter pengennya sekalian diliat juga langsung. Nah untuk kasus nafas grok-grok ini saya diberi resep yang lumayan banyak, kalo nggak salah 3 jenis obat deh. Waduh saya ngeri nih ngasi obat-obatan ke anak saya, lagipula sudah dapet referensi yang bilang nggak berbahaya, akhirnya kami ngga tebus obatnya. Hmmm berarti benar ya komen dari teman saya, soal si dr.H ini gampang meresepkan obat. Nah baru deh saya berpikir, wah saya memang beruntung ya tidak diresepkan supplemen ASI justru dibekali ilmu yang benar.

Lalu keberuntungan kedua adalah, setelah dari dokter anak, saya ada jadwal ke dokter kandungan untuk check up bekas operasi caesar. Saat periksa sempat diajak ngobrol sama dokternya, nanya-nanya keadaan baby, trus ada juga nanya soal ASI. Si pak dokter nanya, gimana ASI nya, lancar? Saya jawab, lancar dok… lha memang setelah pulang dari dokter H, Bodhi udah bisa full ASI *saya bercerita sambil tersenyum sumringah* Trus si dokter ngomong, kalo begitu supplemen ASI nggak perlu lagi, sebab dengan begini mekanisme produksi ASI nya sudah jalan. Lha padahal saya nggak ada nanya-nanya soal ASI apalagi bercerita kalo saya minum supplemen ASIxxx. Papanya Bodhi tetep beliin dan saya tetep minum, karena kata iklannya kan untuk menjaga stamina ibu menyusui juga. *huh payah kemakan iklan nih judulnya*. OOOO saya dan suami langsung kompang ber-oooo. Akhirnya sampe di rumah supplemen yang masih ada 1.5 botol nggak diminum lagi, yang penting makanan saya sehat dan enak hehehe. Kalo enak kan jadinya makannya banyak :P Eh tapi nggak dibuang kok supplemennya, disumbangkan ke ibu yang baru melahirkan yang lain, yang memerlukan sugesti tambahan untuk kelancaran ASI nya.

Jadi kesimpulannya, ternyata memang saya beruntung ya ketemu dokter yang benar, dan ada juga dokter yang kebetulan lempeng nggak ngasi resep hahahaha.

 

Dari A ke B kembali ke A June 16, 2009

Filed under: ASI, Environment, Mind — luhayu @ 6:07 am

Cerita 1: Peternak sapi mengeluh karena harga susu sapi terus merosot turun, sementara pemerintah (penguasa??) tetap tidak membatasi impor susu. Di tengah gencarnya iklan susu, iklan ‘4 sehat 5 sempurna’ (yang sebenarnya hanya ada di Indonesia dan tidak diakui di dunia), peternak sapi Indonesia justru tidak menikmati berkahnya.

Cerita 2:  Manusia hanya perlu susu sampai umur 2 tahun, itupun kalau bisa dari Air Susu Ibu. Selebihnya karena kemampuan pencernaan manusia untuk memproses susu semakin menurun seiring bertambahnya usia, maka susu menjadi tidak penting lagi, digantikan dengan makanan sehat bergizi seimbang. Ada kelompok gerakan ‘nomilk’  ada kelompok gerakan ‘ayo minum susu seumur hidup’.

Cerita 3: Bagi yang tidak berhubungan langsung dengan peternak sapi (selanjutnya saya sebut petani susu saja ya) mungkin mudah untuk bilang tidak untuk ajakan minum susu. Tapi bagi yang berhubungan langsung, seperti ketua kelompok peternak sapi seluruh Indonesia misalnya (ini jabatan ngarang saya aja),  tentu tidak semudah itu. Di satu sisi dia sedang belajar dan mencoba menerapkan pola hidup sehat, salah satunya dengan tidak mengantungkan kesehatannya pada susu, apalagi mempertaruhkan kesehatannya dan keluarganya karena susu (ingat kasus bakteri sakazaaki, susu bermelamin, susu kalsium tinggi yang justru menyebabkan osteoporosis?). Tapi disisi lain dia harus memperjuangkan nasib para petani dan keluarganya yang makin terpuruk karena tersisih dari perhatian penguasa berwenang, dan bahkan sekarang makin gencar gerakan nomilk, sudah jatuh tertimpa tangga, ibaratnya begitu.

Banyak cara melihat sebuah kondisi, banyak jalan untuk mencari jalan keluar. Jadi tolong jangan sinisi saya yang kelihatannya cenderung pro nomilk. Seperti saya juga tidak akan mensinisi yang suka minum susu. Kalau ada kata-kata yang kelihatannya seperti itu, mohon maaf ya, bukan maksud hati begitu, hanya kebelummampuan saya untuk menyusun kata-kata, yang bisa bikin semua orang happy. Kalau menurut cara berpikir bodoh saya, dulu kan tidak ada peternak sapi, tidak ada pabrik susu, tapi dulu semua orang bertani, berkebun, orang masih bisa hidup. Lalu mengapa bisa berubah dari petani jadi peternak? Kok sanggup berubah? Pasti usaha yang dibutuhkan untuk mengubah itu tidaklah kecil, bahkan sama besarnya dengan sekarang jika kita ingin mengembalikan para peternak jadi petani. Peternak jadi pengangguran? Nggak juga, bisa kan jadi petani? ‘cuma’ prosesnya dibalik aja sekarang. Sama halnya dengan dulu, penduduk Indonesia yang beraneka ragam makanan sumber karbohidratnya, ada yang makan jagung, sagu, ubi, dll.  Tapi kok berhasil menjadi masyarakat pemakan nasi? Walaupun sekarang saat produksi beras tidak mencukupi lagi karena begitu tergantungnya pada beras, jadi kalang kabut impor beras. Sementara akhirnya sagu hanya jadi makanan eksotis, ubi cuma jadi cemilan keripik, dan jagung cuma makanan hiburan. Tentu tidak bisa dilupakan, usaha penguasa waktu itu yang mengkampanyekan bahwa nasi lebih unggul (dia lupa negara yang penduduknya nggak makan nasi masih bisa hidup dan terkadang lebih sejahtera kehidupannya). Entah ada kepentingan politis apa, saya tidak tahu dan males cari tahu. Jadi ketika dulu bisa mengubah dari A menjadi B, kenapa ketika kita mengetahui bahwa ternyata A lebih baik dari B, kita tidak mau mengakui dan belajar kembali (ilmu pengetahuan selalu berkembang lho dan ada banyak peneliti yang selalu belajar dan bekerja untuk menemukan hal-hal baru, walaupun terkadang hal baru yang ditemukan itu sebenarnya sudah dijalani sejak ratusan tahun lamanya). Seringkali, ketika menerima sesuatu yang dianggap keluar jalur umum, walaupun benar, yang muncul adalah penolakan. Bertahan. Pokoknya kekeuh, ngotot. Sulit…nggak mungkin, ngomong sih gampang, prakteknya susah!!! Ya …. memang iya, dimana-mana kalo praktek diomongin doang bukan dikerjain, ya berasanya susah.

Ya memang sih, selalu akan ada pro kontra, selalu ada yang punya pendapat berbeda. Kan katanya perbedaan itu indah, taman bunga makin indah kalau makin banyak jenis dan ragam warna bunganya. Jadi ya saling menghargai aja kali ya, kalau saya nggak mau minum susu, jangan dong saya dianggap sok!! Disinisi itu paling nggak enak, Ah mungkin saya aja yang nggak berbakat jadi pelopor ya, bisanya ngikut aja, tapi saya sih mencoba menerapkan ehipassiko (datang dan lihat). Saya dengar, saya anggap benar, saya coba praktek, ternyata terbukti benar. Tapi terkadang sulit ngontrol ngomongan nih (termasuk dalam tulisan ini), kadang kalau saya terlalu bersemangat karena saya merasa sudah merasakan manfaat sesuatu, saya jadi menggebu-gebu menjelaskan jika ditanya, sampai akhirnya yang saya ajak ngomong jadi merasa digurui atau disalahkan. Padahal maaf…bener-bener nggak sengaja, saya terkadang lupa bahwa yang saya bicarakan ‘out of the box’.

*maksudnya nulis soal susu dan petani susu tapi jadi curhat karena sering disinisin orang hehehe

 

Gapur – Gagap Dapur September 15, 2008

Filed under: ASI, Baby, bodhi — luhayu @ 6:07 pm
Tags:

Saya sih sebenarnya ga gapur-gapur amat… Lebih ke moody kali yah. Soalnya kalo udah moodnya pas jadi kok masakan enak atau cemilan lezat *seenggaknya menurut saya sih enak ya, yang nggak nyicip dilarang protes :P

Suka juga nyoba-nyoba resep, terutama yang gampang! Kalo dah ribet bahannya dan proses persiapannya, sorry yah saya belum serajin itu kekekeke

Tapi kalo lagi kumat suka nyampur-nyampur apa aja yang nemu di kulkas, hasilnya? kadang sukses kadang gagal. Yah begitulah hidup *weks serius amat

Status menikah nggak bikin penyakit moody masaknya sembuh. Tetep aja masih suka kumat, tapi beruntung nggak jadi kronis atau akut. Sejak ada Bodhi sepertinya penyakit ini secara nggak sengaja mendapat theraphy. Karena mau nggak mau harus masak. Mau nggak mau harus belajar soal gizi makanan. Soalnya setelah banyak cari tahu soal gizi bahan makanan dan cara pengolahan makanan yang benar, kalo mau makan di luar juga mesti ada faktor pendukung yang tepat yang bisa dijadikan alasan pembenaran untuk makan di luar yang nggak jelas proses masaknya. Tadinya semua itu demi Bodhi, supaya dia dari awal sudah mencicipi makanan sehat dan benar. Tapi semakin ke sini jadi semakin ngerti, bahwa selama ini saya seringkali nggak sayang badan tapi lebih memanjakan lidah. Efek sampingnya ya jadi ‘makin rajin’ ngerapiin kulkas hehehe, maksudnya selama ini sering beli bahan makanan tapi akhirnya kebuang karena udah ga layak masak. Biasa….niatnya masak, tapi malesnya lebih gede.

Dari awal belajar maem bubur susu saya siapin sendiri tepung makanannya Bodhi. Dari nyangrai beras, di grinder, di ayak di sangrai lagi. Banyak juga yang bilang, ih rajin banget, wah ibu teladan… Duh malah saya jadi malu kalo disebut begitu, nggak tahu aja yang ngomong itu, banyak yang lebih rajin, telaten dan kreatif dibanding saya. Kadang saya aja terkagum-kagum ngeliat cara mereka ngolah makanan,ada aja gitu idenya.  Dan soal dibilang ibu teladan… heeee itu bukannya sudah kewajiban yak mempersiapkan yang terbaik buat anak. Jadi bagi saya semua ibu pastilah ibu teladan bagi anak-anaknya. Wong ibu adalah role model bagi anaknya. Dan siapa sangka loh saya jadi jualan tepung beras organic khusus bayi. Huehehehe walopun pelanggannya baru satu bayi. Tapi ga pernah kepikir deh bahan makanan Bodhi laku dijual juga, lha mamanya sering nyerah duluan gini kalo udah urusan masak memasak. Sama halnya nggak kepikir bisa jadi pendonor ASI padahal di awal-awal menyusui hampir nyerah aja kalo udah denger komentar orang soal ASI saya.

Ada yang ngerasa aneh kalo saya jawab Bodhi belum pernah maem biskuit bayi. Biarin deh. Soalnya saya berniat ngasi biskuit home made juga buat Bodhi. What!!! Gaya banget deh! Yang bener aja! Saya bikin cookies? Emang bisa??? hehehehe ya bisa dong… kan udah saya bilang, kalo udah niat pasti jadi!! Bodhi akhirnya maem cookies buatan mama. Tentunya yang aman dan sehat buat bayi. No sugar…udah pasti lah. Namanya Cookies Banana Oatmeal. Jieeeh keren ya namanya. Iya dong, kan resepnya nyontek dari internet. Kalo saya mah belum kepikiran sampe nyiptain resep cookies segala. Bisanya cuma nyontek!! hahaha. Beidewei, Bodhi doyan nggak ya cookies nya, Nggak pake gula gitu. Jawabannya: DOYAN banget!!! Ah Bodhi sih memang fans berat masakan mama, biar aneh juga campurannya kalo lagi lapar ya dia makan aja. Tapi kalo lagi sedang lewat angin malesnya walaupun menurut mamanya enak tetep aja cuma dimakan beberapa sendok ama dia.

Biar gagap yang penting naked, eh salah nekad maksudnya. Iya nih biarpun gagap dapur nekad aja ikut lomba resep makanan bayi. Ceritanya sih ada tantangan bikin resep makanan bayi yang mengandung unsur kelapa *ceritanya sih suasana Agustusan, jadi kelapa dijadikan tema yang terasa keindonesiaannya. Judul lombanya keren, Mamaku Koki Handal. Menang nggak? Ih pake nanya, ya jelas nggak lah. Kalo sampe menang, saya pingsan dulu kaleeee. Tapi sebenarnya menang nggak menang, ngerasanya sih udah jadi pemenang aja, soalnya pas diuji-makan oleh Bodhi, lha ludes des des gitu dari piringnya, ga berbekas!!! Meskipun nggak menang, saya tetep dapat hadiah kok. Selain hadiah hugs dari Bodhi ada hadiah dari papanya juga… tapi yang ini masih rahasia. Nanti kalo udah ada saya ceritain deh hadiahnya. Katanya hadiah untuk Istriku Koki Moody yang Sedang Berusaha Menjadi Handal. Halah panjang bener judul lombanya!!!

 

Bodhi Lulus ASIX May 17, 2008

Filed under: ASI, Baby, bodhi, foto — luhayu @ 10:50 am
Tags: , ,

Huraayyy hari ini 17 Mei 2008, Bodhi genap berusia 6 bulan. Itu berarti Bodhi udah lulus ASI Xclusive alias tidak mengkonsumsi apapun selama 6 bulan selain ASI. Meskipun nggak nilai sempurna karena di 3 minggu pertama kelahirannya Bodhi sempat mix dengan susu formula, hmmm kurang lebih 300 gr susu formula dicicipi oleh dia. Tapi berkat niat, tekad dan usaha, berhasil juga lepas darisusu formula. Sekalian nih mo ngucapin makasi kepada Dia yang memberikan ASI yang cukup, kepada papa Bodhi dengan dukungannya yang luar biasa, untuk Azzah mamah little aras yang mengenalkan milis ASI for Baby, untuk Fanny mommy Joelle yang jauh-jauh ngirim breast pump, untuk Winnie mama Ferdy untuk diskusi dan saran-sarannya untuk memperbanyak ASI, juga untuk Prof dr Hendra, DSA di RSIA Puri Bunda dengan buku kecil panduan menyusui serta kata sakti nya “ASI kamu pasti cukup!!” yang memang terbukti ampuh mengubah mindset saya yang nyaris percaya akan intimidasi bahwa ASI saya tidak akan cukup. Dan tentu saja terima kasih tak terhingga untuk Bodhi yang mau sabar belajar menyusui dan tentu saja karena doyan berat air susu mama. Makasi banyak ya Nak.

Nah untuk tanda wisudanya, hari ini Bodhi mencicipi HMMPASI pertamanya.

Huuuuu ga sabar nunggu menu pertama hadir di meja….

akhirnya…suapan pertama nih…

Doakan Bodhi bisa menyusu sampai 2 tahun yaaaa

 

Artis Kampanye ASI May 14, 2008

Filed under: ASI, Baby, foto — luhayu @ 2:42 am
Tags: , , , ,

Secara udah semakin banyak ibu-ibu yang enggan menyusui bayinya, Badan PBB yaitu WHO sampai perlu menetapkan regulasi dan di Indonesia pun akan diperdakan (semoga yang ini serius).

Di UK artis charlotte Curch juga kampanye ASI dan diberitakan juga di Kompas dalam berita foto Internasional. Ditulisnya seperti ini:

Penyanyi Wales, Inggris Raya, Charlote Curch (21) bertemu dengan para ibu muda dan bayi mereka pada acara yang didorong Majelis Wales di Cardiff, Wales, Senin (12/5). Tujuan pertemuan adala para ibu muda menyusui langsung anak-anak mereka alias mendorong penggunaan air susu ibu (ASI).

Charlotte Curch yang baju belang-belang yah.

Sementara di Indonesia selebnya juga ada yang getol kampanye ASI.

hayooo ada yang ngenalin yang mana artis? :P

Dimana-mana sama aja ya, kalo artis lebih diliat dan didengar. Tapi berbahagialah mereka yang bisa membantu sesuatu yang positive lebih didengar dan dilihat.

Jadi nggak penting artis lokal atau import, nggak penting dari UK atau dari Indonesia, yang penting adalah ASI itu made in heaven. Segala sesuatu yang made in heaven sudah pasti yang terbaik kan? Setuju?

Salam ASI!!!

Pictures are from Getty Images and AIMI official website.

 

Dunia yang sempit May 5, 2008

Filed under: ASI, Baby, friends — luhayu @ 9:41 pm
Tags: , ,

Dunia itu sebenarnya sempit tidak seluas yang kita bayangkan. Saya sering mengalami orang yang sebelumnya hanya saya kenal tanpa pernah bertatap muka namun sesungguhnya dia adalah orang yang sehari-hari memiliki keterhubungan dengan saya tanpa saya sadari. Atau sering saya bercerita pada teman saya, bahwa ada teman saya yang mengalami atau memiliki sesuatu, eh setelah ngobrol panjang lebar ternyata teman yang saya maksud itu ya temannya dia juga. Bahkan sering kalau dikait-kaitkan eh ternyata orang yang saya ajak ngobrol masih ada hubungan saudara jauh dengan saya. Seperti puzzle saja, saya akan menemukan setiap bagiannya dalam setiap peristiwa yang saya alami atau kegiatan yang saya lakukan.

Kalau kejadian yang baru saya alami kemarin bisa disebut salah satu bagian puzzle yang berhasil saya temukan berkaitan dengan kegiatan saya mengajar dan menyusui. Terasa sedikit ganjil keterkaitannya, ya tapi demikianlah yang saya alami.

Diawali dari beberapa bulan yang lalu ketika saya kembali mengajar setelah cuti melahirkan. Saya ke sekolah untuk mempersiapkan kelas sebelum semester baru dimulai seminggu kemudian. Di ruang komputer saya bertemu seorang pria yang sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer. Saya berpikiran dia teknisi dari toko tempat sekolah membeli komputer. Saya hanya tersenyum dan pria itu juga. Saya tidak berniat menanyakan kepentingan dia disana karena saya sendiri sedang terburu-buru untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan saya, apalagi saya sudah melihat tag Visitor yang dia kenakan, berarti dia tamu resmi ga perlu dicurigai. Tapi dia cukup ramah untuk bertanya, ibu yang mengajar komputer di sini ya? Percakapan hanya sampai di sana dan kami sibuk dengan urusan masing-masing, dan dia pulang lebih dulu dari saya.

Empat hari yang lalu saya menerima email. Email tersebut dari seorang ibu yang minta bantuan dicarikan donor ASI, karena dia mendapat info dari temannya bahwa saya adalah koordinator dari milis AsiforBaby untuk pertemuan di Denpasar (yang sayangnya pertemuan belum berhasil dilakukan), jadi dia berharap saya bisa membantu menggalang donor ASI untuk bayinya dan 2 bayi kembar premature yang lahir di RS Puri Bunda. Ibu tersebut mengatakan, per hari seorang bayi memerlukan 600cc ASI karena dokter yang menangangi sama sekali tidak mengijinkan pemberian susu formula (memang RS yang juga tempat saya bersalin tersebut setahu saya sebagian besar dokternya adalah pendukung pemberian ASI), sementara produksi ASI para ibunya belum maksimal. Dan mereka juga sudah mendapatkan beberapa donor tapi belum juga mencukupi. Wah saat itu rasanya saya mendapat kehormatan demikian besar karena diberi kesempatan membantu. Langsung email saya forward ke milis, tapi berhubung weekend dan biasanya kebanyakan member melakukan akses internet dari kantor, email saya nggak ada tanggapan. Maksudnya ibu-ibu yang di denpasar tidak ada memberi response. Akhirnya saya berpikir, kenapa bukan saya saja yang jadi donor? Memang ASI saya tidak berlimpah alias saya bukan orang ‘kaya’. Tapi apa salahnya orang ‘miskin’ berdana? Akhirnya ngomong ke suami, dia 1000% mendukung. Dan ngomong juga ke Bodhi, kalo susunya mo dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya yang lain. Bodhi sih menatap mata saya aja sambil senyum-senyum (disangkanya saya lagi mendongeng kali yah hihihi), tapi saya yakin dia ngerti kok. Setelah sepakat lalu saya berniat menghubungi ibu tersebut lewat telepon saja, eh tapi dia tidak melampirkan nomor teleponnya. Akhirnya saya menghubungi RS Puri Bunda dan mencari nama ibu tersebut dan menyatakan saya berniat mendonorkan ASI. Akhirnya dapet deh telpon rumah dan ponselnya.

Kemudian saya menghubungi ibu tersebut dan saya bilang, saya ingin donor tapi maaf banget cuma bisa 125cc per hari karena saya juga masih menyusui dan tidak pernah nyetok ASI beku di kulkas. Nggak disangka itu ibu bilang, wah 125 cc itu banyak mbak….. (hehehe senangnya akhirnya selain dokter anak saya ada juga orang lain yang bilang ASI saya banyak, biasanya orang lain kebanyakan bilang “emang ASI nya cukup?”). Akhirnya disepakatilah bahwa suami si ibu itu yang akan mengambil ASI perah ke rumah saya setiap siang. Dan minggu siang kemarin adalah untuk yang pertama kalinya.

Kemarin ASI nya sudah diambil, dan yang mengambil adalah pria yang bertemu dengan saya di ruang komputer sekolah dulu!! Dan ternyata dia bukan hanya teknisi komputer, tapi di kemudian hari dia juga yang menggantikan saya mengajar di preschool. Jadi sebenarnya saya sudah bertemu muka dengan bapak itu tanpa tahu namanya. Kemudian saya tahu sudah ada guru yang menggantikan saya mengajar, saya hanya tahu nama tanpa tahu wajahnya. Kemudian saya dihubungi ibu yang membutuhkan ASI donor dan yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari bapak itu yang akhirnya saya tahu lengkap nama dan wajahnya hahahaha.

Terkadang keterkaitan kita dengan seseorang dihubungkan oleh sesuatu yang nggak kita sangka-sangka ya.

 

My Baby is the Best April 7, 2008

Filed under: ASI, Baby, Environment, Mind, bali, bodhi, books, friends — luhayu @ 3:56 am
Tags:

Karena tulisan ini lebih cocok sebagai ceritaan ibu-ibu, jadi untuk yang berminat silakan berkunjung ke my motherhood experiences, dan untuk yang ga berminat silakan berkunjung juga huehehehehe….

 

Anjing menggonggong March 25, 2008

Filed under: ASI, Baby — luhayu @ 10:50 pm
Tags: ,

“Jangan membenarkan yang biasa, tapi biasakanlah yang benar.”

Suka banget sama quote diatas, secara cocok banget buat kita yang lagi memperjuangkan yang benar dan baik tapi malah sering dipandang aneh atau dicibir.

Pokoknya, anjing menggonggong ASI exclusive jalan terusssss.

 

Yang bahagia bisa menyusui exclusive March 20, 2008

Filed under: ASI, Baby — luhayu @ 3:05 pm
Tags: , , , ,

logo-aimi.jpg

Wuiih bangga deh liat ibu-ibu AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) di acara Padamu Negeri Metro TV malam tadi. Begitu bersemangat dengan baju bergambar botol susu dicoret nya, begitu cerdas menjawab dan mengomentari mengapa hanya ASI yang cocok untuk bayi manusia. Jadi makin bahagia juga karena para audiens lain dalam acara itu yang tadinya masih menganggap perlu susu formula sebagai “pendamping” ASI jadi mulai tercerahkan, bahwa tidak ada istilah susu formula mendampingi ASI, justru kalau sudah memberikan susu formula berarti kita telah menggantikan ASI yang sesungguhnya adalah hak asasi seorang bayi.

Nontonnya bareng dengan papa Bodhi, uh keliatan banget deh kalo dia bangga sudah menjadi seorang breastfeeding father. Trus komentarnya: “Yang semangat ngasi ASI justru ibu-ibu muda ya…. dan langsing-langsing tuh semua”. Huk huk huk iya dong, siapa bilang menyusui bikin gendut, justru makin langsing loooh setelah melahirkan. Jadi dapet dua point, bayi sehat dan makin disayang suami hihihi.

 

Tulisan pertama February 28, 2008

Filed under: ASI, Baby — luhayu @ 2:34 pm
Tags: ,

Lagi rame dan heboh soal susu formula dan makanan bayi berbakteri. Untung baby Bodhi ASI exclusive jadi tidak ikut-ikutan resah, tapi tetep ikutan prihatin. Kalau sudah begini rasanya ingin tersenyum lebar untuk diri sendiri (tapi bukan berarti saya berbahagia di atas keresahan orang lain ya), tidak sia-sia rasanya saya dan papa Bodhi berjuang dari awal untuk memberikan ASIX. Tebel-tebelin kuping waktu dingocehin, “ASI kamu kurang tuh, kasi ‘bantuan’ dengan susu formula”. Sedih rasanya divonis seperti itu, bahkan banyak dilakukan oleh orang-orang dekat yang sebenarnya sangat dibutuhkan dukungannya. Tapi bener kata suami, mereka itu tidak mengerti, mereka berkata begitu karena sayang. Tapi kalo diinget-inget lagi, masih pilu rasanya hati ini (halah!!) kok berniat baik malah dihalang-halangi. ASI itu hak si baby, dan orang tua berkewajiban memenuhinya. Dengan sejuta manfaatnya, kok ya bisa-bisanya saya dibilang tega tidak ‘membantu’ dengan susu formula. Padahal seandainya mereka mau mencari tahu lebih banyak, masih mungkin nggak bicara seperti itu?

Namun seperti biasa, ada yang pro ada yang kontra. Tidak sedikit juga yang mendukung saya dengan amat sangat teramat tulus. Yang utama tentu saja papa Bodhi. Dia tuh yang selalu menghibur saya kalau saya sudah frustasi di minggu-minggu awal kelahiran Bodhi. Frustasi karena ASI belum banyak juga produksinya, sementara Bodhi masih menangis. Dia yang mengelus-ngelus punggung saya menguatkan hati dan tekad. Dia yang membisikkan kata-kata penyemangat, aduh sounds romantic nggak sih, hix hix hix. Belum lagi kalo ingat dia keliling di tengah hujan mencarikan breastpump electric setelah breastpump manual tidak bekerja maksimal. Dan ternyata ketemunya malah jauh bener… di singapore, hehehe bukan nemu sih sebenarnya tapi dikirimin oleh Fanny dari Singapore sana. Makasi banget ya Fan untuk kado dan dukungannya itu. Sekarang Breastpump itu yang menemani saya malam-malam buat stock besok siang saat Bodhi ditinggal mengajar.

Kembali ke susu formula bermasalah itu. Setiap musibah seringkali menimbulkan pencerahan jika dilihat secara arif. Sekarang dimana-mana terdengar lagi bahwa ASI lebih baik dari sufor. Bahkan pemerintah Indonesia yang plin plan itu juga mengeluarkan jurus ASI nya untuk kondisi saat ini. “Kan pemerintah juga menganjurkan ASI bukan susu formula” yeeee gitu deh udah terpojok baru keluar jurus ASI nya, tapi dulu-dulu iklan-iklan susu formula yang menyesatkan dibiarkan hilir mudik membodohi rakyatnya.

Mungkin ada yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini, tapi saya sama sekali tidak bermaksud begitu. Setiap orang tua pasti tahu yang terbaik untuk buah hatinya. Dan saya tidak hendak menghakimi mereka yang tidak memberikan ASI untuk bayinya. Bahkan saya tidak pernah berusaha menjelaskan (duh padahal menjelaskan adalah hobi saya sebenarnya hehehe) jika tidak ditanya mengenai ASI exclusive. Menurut saya kalau sudah sampai bertanya berarti sudah ada niat, nah disitu baru saya berani bercerita.

Mudah-mudahan dengan kejadian ini, masyarakat yang masih menganggap ASI itu kalah level dari susu formula, bisa mempunyai pengertian yang benar. Jikalaupun terpaksa tidak memberikan ASI itupun akan didasari oleh pengertian yang benar. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang sampe ngutang untuk beli susu formula yang mahal itu, sementara ada ASI yang gratis.