Luh Ayu Writing

From mind to words

Yak Anda Beruntung!! June 23, 2009

Filed under: ASI, Baby, Mind — luhayu @ 3:54 pm

Terkadang kita membutuhkan ucapan orang lain untuk menyadari keberuntungan kita

Dulunya saya menganggap kejadian ini biasa-biasa saja. Tapi tadi saya diingat bahwa saya sebenarnya beruntung dalam kejadian itu.

Ceritanya saya ikut sebuah milis kesehatan. Kebetulan hari ini ada yang bertanya soal ASI dan kutipan pertanyaannya seperti ini: “Saya baru melahirkan 3 minggu yang lalu dan berniat sekali memberikan ASI kepada si kecil, tetapi ASI yang ada hanya sedikit sekali. Apakah banyak/sedikitnya ASI itu dipengaruhi oleh faktor keturunan juga? (Menurut mama saya, beliau dulu juga sedikit ASI nya).

Saya juga sudah diberikan suplemen (berupa vitamin) untuk menambah produksi ASI, jumlah ASI memang lebih banyak sedikit, tapi tetap tidak cukup untuk si kecil. Kalau saya menerapkan FC sekarang, apakah masih bisa menambah produksi ASI (mengingat sudah hampir sebulan)? Saya pengen sekali untuk memberikan ASI sepenuhnya atau setidaknya lebih banyak ASI dibandingkan jumlah susu formula kepada si kecil.

Karena merasa berpengalaman alias pernah mengalami hal yang sama, maka saya reply pertanyaan tersebut. Dan kutipan jawaban saya seperti ini:

Hi mbak.

Setahu saya ASI tidak dipengaruhi factor keturunan, tapi sangat dipengaruhi
mindset. Saya mengalaminya.
Sebagian besar lingkungan saya tidak terlalu mendukung pemberian ASI
eksklusive (tapi saya beruntung suami amat sangat mendukung).
Sehingga saya dicekoki terus bahwa ASI saya tidak akan mencukupi, HARUS
‘dibantu’ susu formula. Tapi di hari ke 21, saya ke dokter anak untuk minta
saran mengenai produksi ASI saya, karena saya tidak mau anak saya mendapat
campuran susu formula. Dan Cuma gara-gara si dokter bilang, kamu nggak perlu
khawatir, asal cara menyusui kamu benar dan makananmu baik dan bergizi, kamu
PASTI bisa kasi ASI exclusive, anakmu TIDAK AKAN kekurangan ASI. Percaya
nggak percaya mbak, karena saya begitu yakin dengan kata2 si pak dokter,
sampe di rumah ASI saya lancar dan hari itu juga anak saya nggak perlu susu
formula. Dan tentu saja cara menyusui saya juga diperbaiki sesuai saran
dokternya.
Oh ya kalau dokter kandungan saya bilang, minum supplemen ASI sebenarnya
nggak ngaruh. Mungkin karena minum itu jadi kita pede makanya ASI nya banyak
dan lancar. Dan yang penting selalu disusui supaya sistemnya lancar

Nggak lama kemudian ada reply dari moderator milis tersebut yang bilang begini:

Wah untung mbak Ayu ketemu dokter yg benar

Hmmmm jawaban itu kemudian membuat saya berpikir, apakah benar saya beruntung? Kemudian saya mengingat lagi kejadian lebihd ari setahun yang lalu itu. Saya ke dokter anak untuk konsultasi ASI karena saya tidak mau anak saya mendapat asupan susu formula. Biasanya saya ke dokter P, tapi karena dr.P baru praktek sore hari sementara entah kenapa saya pengennya cepet-cepet aja hari itu ke dokter, maka pergilah saya, suami dan Bodhi ke rumah sakit. Sebelumnya sudah telpon kesana, katanya yang sedang praktek pagi itu dokter H. Saya sempat telpon teman untuk minta komentarnya soal dokter ini, dia sih bilang dokternya gampang ngasi obat, tapi kalo secara ilmu sih ok lah dokternya. Sampai disana seperti yang sudah saya ceritakan dalam isi email di atas, saya hanya dibekali ilmu menyusui yang benar, ditunjukkan cara yang benar dan pulangnya diberi buku kecil tentang menyusui. Tapi karena mikir mumpung ke dokter, saya dan papa nya Bodhi menanyakan juga beberapa hal termasuk nafas Bodhi yang -waktu itu baru berusia 21 hari- berbunyi grok-grok. Sudah cari referensi sih di internet, katanya wajar untuk umur segitu tapi ya mumpung ke dokter pengennya sekalian diliat juga langsung. Nah untuk kasus nafas grok-grok ini saya diberi resep yang lumayan banyak, kalo nggak salah 3 jenis obat deh. Waduh saya ngeri nih ngasi obat-obatan ke anak saya, lagipula sudah dapet referensi yang bilang nggak berbahaya, akhirnya kami ngga tebus obatnya. Hmmm berarti benar ya komen dari teman saya, soal si dr.H ini gampang meresepkan obat. Nah baru deh saya berpikir, wah saya memang beruntung ya tidak diresepkan supplemen ASI justru dibekali ilmu yang benar.

Lalu keberuntungan kedua adalah, setelah dari dokter anak, saya ada jadwal ke dokter kandungan untuk check up bekas operasi caesar. Saat periksa sempat diajak ngobrol sama dokternya, nanya-nanya keadaan baby, trus ada juga nanya soal ASI. Si pak dokter nanya, gimana ASI nya, lancar? Saya jawab, lancar dok… lha memang setelah pulang dari dokter H, Bodhi udah bisa full ASI *saya bercerita sambil tersenyum sumringah* Trus si dokter ngomong, kalo begitu supplemen ASI nggak perlu lagi, sebab dengan begini mekanisme produksi ASI nya sudah jalan. Lha padahal saya nggak ada nanya-nanya soal ASI apalagi bercerita kalo saya minum supplemen ASIxxx. Papanya Bodhi tetep beliin dan saya tetep minum, karena kata iklannya kan untuk menjaga stamina ibu menyusui juga. *huh payah kemakan iklan nih judulnya*. OOOO saya dan suami langsung kompang ber-oooo. Akhirnya sampe di rumah supplemen yang masih ada 1.5 botol nggak diminum lagi, yang penting makanan saya sehat dan enak hehehe. Kalo enak kan jadinya makannya banyak :P Eh tapi nggak dibuang kok supplemennya, disumbangkan ke ibu yang baru melahirkan yang lain, yang memerlukan sugesti tambahan untuk kelancaran ASI nya.

Jadi kesimpulannya, ternyata memang saya beruntung ya ketemu dokter yang benar, dan ada juga dokter yang kebetulan lempeng nggak ngasi resep hahahaha.

 

Ma…aku mau jadi petani… February 18, 2009

Filed under: Baby, Environment, Mind, bodhi — luhayu @ 5:51 am

Dulu… saya sering mikir, pikiran klasik sebenarnya, “mau jadi apa anak saya terserah dia, yang penting jadi orang yang berguna buat dirinya, syukur-syukur buat orang lain.” Gampang banget kesannya. Tapiiii setelah punya anak, sering juga sih terpancing untuk ikut-ikutan dan menjadi seragam dengan yang lain, karena ngeliat kok keren ya kalo anak saya jadi dokter spesialis, wah pasti senang kalo anak saya jadi penulis buku terkenal, di setiap bukunya pasti akan ditulis “thank you to my lovely mom”, bangga juga kali ya kalo anak saya jadi bintang film ngetop di hollywood dan kalo menang oscar nama saya disebut juga di atas panggung, hahaha berlebihan banget ini sih emaknya. Tapi jujur belum pernah mikir “Bahagianya kalau ternyata anak saya memilih menjadi seorang petani.”

Nah belakangan ini saya sering kepikiran tuh kalo seandainya anak saya nanti pengennya jadi petani. Saya udah sibuk mikirin nasehat yang akan saya berikan untuk dia. “Boleh nak, asal jadi petani yang punya lahan sejuta hektar…”. Hmmm tetap terdengar tidak merestui dengan tulus yak, hehe.

Tapi kenapa kok tiba-tiba saya kepikiran seperti itu? Asalnya ya nggak jauh-jauh, dari saya juga sebenarnya. Yang udah lama banget pengen punya lahan sejuta hektar (sekarang sih 100m2 aja belum punya). Yang belakangan ini makin ngebet pengen punya pertanian organik, tapi apa daya uangnya belum punya. Jadi seperti halnya orangtua ‘diktator’ yang lain, saya mulai melirik anak saya, hihihi. Bagaimana kalau seandainya dia yang berhasil mewujudkan pertanian organik sejuta hektar itu. Tapi ya saya nggak mau ah maksa-masa (masa seeeeh….:)) ), biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. tsaah… yakin buuu???

Oh ya, emang nggak takut jatuh gengsi kalo ada yang nanya anaknya kerja apa? trus jawabnya jadi petani!! Gengsi??? Saya sih masih punya urat malu, tapi kalo gengsi ga tahu tuh udah sejak kapan saya ga punya. Cieee gaya sejuta!!!

Walaupun mengaku akan membiarkan segalanya mengalir sesuai skenario kehidupan, saya tetep posting di sini dan dan di blog. Sapa tahu nanti-nanti kalo anak saya baca, dia jadi tahu kalo mau jadi petani adalah mulia dan mama nya merestui. Tapi petani tanaman lho ya, bukan petani tambak. Di tulisan ini dia akan lihat, bahwa untuk makan itu kalau tahu prosesnya dari awal akan membuat diri kita semakin mencintai alam dan semesta ini, dan menjadi orang yang bersyukur. Dia bisa lihat fotonya panen labu, menunggu sebulan supaya labunya matang sebelum siap disantap sebagai nugget ikan!!! horeeee

Disini nih tumbuhnya labu parang si orange lezat menggoda itu. Bijinya dari labu parang yang biasa diolah untuk maemnya Bodhi. Tanah tempatnya tumbuh di tanah kosong belakang rumah, punya tante saya hehehe

dsc009071

Baby Farmer. Habis panen gosok minyak telon dulu biar ga masuk angin. tgl 10-Jan-2009.

dsc00909

sebulan kemudian baru menguning!! Pengen buktiin hasil interview ke petani labu, katanya kalo makin lama disimpan makin manis rasanya, dan ternyata benar!!
dsc00844
Ini setelah jadi fish nugget. Dapet resepnya dari mbak Inta, hasilnya emang enyaaak. Ada rasa manis dari labu nya, ga perlu tambah gula kaaan jadinya. Kalo ikannya lebih ke bentuk pesawat, harap maklum karena ga pake cetakan tapi dibentguk pake tangan.Kalo ada juga yang udah sompal, harap maklum juga sebelum dimakan anak, emaknya wajib jadi tester ^_^
dsc00845
Nah ini eksekutor fish nuggetnya. Hap lalu dilahap, hehehe.
dsc00847
 

Gapur – Gagap Dapur September 15, 2008

Filed under: ASI, Baby, bodhi — luhayu @ 6:07 pm
Tags:

Saya sih sebenarnya ga gapur-gapur amat… Lebih ke moody kali yah. Soalnya kalo udah moodnya pas jadi kok masakan enak atau cemilan lezat *seenggaknya menurut saya sih enak ya, yang nggak nyicip dilarang protes :P

Suka juga nyoba-nyoba resep, terutama yang gampang! Kalo dah ribet bahannya dan proses persiapannya, sorry yah saya belum serajin itu kekekeke

Tapi kalo lagi kumat suka nyampur-nyampur apa aja yang nemu di kulkas, hasilnya? kadang sukses kadang gagal. Yah begitulah hidup *weks serius amat

Status menikah nggak bikin penyakit moody masaknya sembuh. Tetep aja masih suka kumat, tapi beruntung nggak jadi kronis atau akut. Sejak ada Bodhi sepertinya penyakit ini secara nggak sengaja mendapat theraphy. Karena mau nggak mau harus masak. Mau nggak mau harus belajar soal gizi makanan. Soalnya setelah banyak cari tahu soal gizi bahan makanan dan cara pengolahan makanan yang benar, kalo mau makan di luar juga mesti ada faktor pendukung yang tepat yang bisa dijadikan alasan pembenaran untuk makan di luar yang nggak jelas proses masaknya. Tadinya semua itu demi Bodhi, supaya dia dari awal sudah mencicipi makanan sehat dan benar. Tapi semakin ke sini jadi semakin ngerti, bahwa selama ini saya seringkali nggak sayang badan tapi lebih memanjakan lidah. Efek sampingnya ya jadi ‘makin rajin’ ngerapiin kulkas hehehe, maksudnya selama ini sering beli bahan makanan tapi akhirnya kebuang karena udah ga layak masak. Biasa….niatnya masak, tapi malesnya lebih gede.

Dari awal belajar maem bubur susu saya siapin sendiri tepung makanannya Bodhi. Dari nyangrai beras, di grinder, di ayak di sangrai lagi. Banyak juga yang bilang, ih rajin banget, wah ibu teladan… Duh malah saya jadi malu kalo disebut begitu, nggak tahu aja yang ngomong itu, banyak yang lebih rajin, telaten dan kreatif dibanding saya. Kadang saya aja terkagum-kagum ngeliat cara mereka ngolah makanan,ada aja gitu idenya.  Dan soal dibilang ibu teladan… heeee itu bukannya sudah kewajiban yak mempersiapkan yang terbaik buat anak. Jadi bagi saya semua ibu pastilah ibu teladan bagi anak-anaknya. Wong ibu adalah role model bagi anaknya. Dan siapa sangka loh saya jadi jualan tepung beras organic khusus bayi. Huehehehe walopun pelanggannya baru satu bayi. Tapi ga pernah kepikir deh bahan makanan Bodhi laku dijual juga, lha mamanya sering nyerah duluan gini kalo udah urusan masak memasak. Sama halnya nggak kepikir bisa jadi pendonor ASI padahal di awal-awal menyusui hampir nyerah aja kalo udah denger komentar orang soal ASI saya.

Ada yang ngerasa aneh kalo saya jawab Bodhi belum pernah maem biskuit bayi. Biarin deh. Soalnya saya berniat ngasi biskuit home made juga buat Bodhi. What!!! Gaya banget deh! Yang bener aja! Saya bikin cookies? Emang bisa??? hehehehe ya bisa dong… kan udah saya bilang, kalo udah niat pasti jadi!! Bodhi akhirnya maem cookies buatan mama. Tentunya yang aman dan sehat buat bayi. No sugar…udah pasti lah. Namanya Cookies Banana Oatmeal. Jieeeh keren ya namanya. Iya dong, kan resepnya nyontek dari internet. Kalo saya mah belum kepikiran sampe nyiptain resep cookies segala. Bisanya cuma nyontek!! hahaha. Beidewei, Bodhi doyan nggak ya cookies nya, Nggak pake gula gitu. Jawabannya: DOYAN banget!!! Ah Bodhi sih memang fans berat masakan mama, biar aneh juga campurannya kalo lagi lapar ya dia makan aja. Tapi kalo lagi sedang lewat angin malesnya walaupun menurut mamanya enak tetep aja cuma dimakan beberapa sendok ama dia.

Biar gagap yang penting naked, eh salah nekad maksudnya. Iya nih biarpun gagap dapur nekad aja ikut lomba resep makanan bayi. Ceritanya sih ada tantangan bikin resep makanan bayi yang mengandung unsur kelapa *ceritanya sih suasana Agustusan, jadi kelapa dijadikan tema yang terasa keindonesiaannya. Judul lombanya keren, Mamaku Koki Handal. Menang nggak? Ih pake nanya, ya jelas nggak lah. Kalo sampe menang, saya pingsan dulu kaleeee. Tapi sebenarnya menang nggak menang, ngerasanya sih udah jadi pemenang aja, soalnya pas diuji-makan oleh Bodhi, lha ludes des des gitu dari piringnya, ga berbekas!!! Meskipun nggak menang, saya tetep dapat hadiah kok. Selain hadiah hugs dari Bodhi ada hadiah dari papanya juga… tapi yang ini masih rahasia. Nanti kalo udah ada saya ceritain deh hadiahnya. Katanya hadiah untuk Istriku Koki Moody yang Sedang Berusaha Menjadi Handal. Halah panjang bener judul lombanya!!!

 

Foto Request September 3, 2008

Filed under: Baby, bodhi, foto — luhayu @ 2:18 am
Tags:

Foto-foto berikut untuk memuaskan dahaga *uhuk* fans Bodhi yaa…

Juga untuk menjawab, Bodhi udah bisa apa? Hehehe Bodhi sekarang udah 9mos2wks, udah bisa sprint crawling sampe susah nangkepnya, udah mantap bangun lalu berdiri sendiri dengan berpegangan, tapi kalo yang berdiri sendiri tanpa berpegangan per hari recordnya baru 2 kali. Kalo ngomong udah jelas mama papanya, tapi masih suka mogok kalo dipaksa unjuk kebolehan ngoceh di depan orang lain. Udah bisa juga manggil ‘bho bho’ nama anjing kami dengan jelas, malah suka ikut-ikutan marah kalo didengarnya kami marahin bobo. hmmmm yang ini kudu diwaspadai takut dia kebiasaan tereak-tereak. Trus apalagi yah, sementara baru itu deh curriculum vitae nya Bodhi selain bobok, mamam, pipis di celana kalo telat diajak ke kamar mandi (walaupun untuk urusan ngompol malam udah ga lagi sejak umur 5 bulan, senangnyaaaa). Baca belum bisa, apalagi nulis, kecuali ngetik kata-kata ajaib kalo pas ikutan kerja ama papanya atau browsing dengan mamanya.

Silahkan dinikmati foto-foto yang ga banyak ini, secara sekarang kalo mau moto harus ada pendamping demi keselamatan bersama hehehe….

baru bangun nih mata masih bengkak
berdiri di jendela kamar
ini nih yang suka bikin jantungan
cemong habis mamam

cemong habis mamam

ini nih yang suka bikin jantungan
berdiri di jendela kamar
baru bangun nih mata masih bengkak
 

Bodhi udah bisa duduk June 14, 2008

Filed under: Baby, bodhi, foto — luhayu @ 11:38 pm
Tags:

Tanggal 17 Juni nanti Bodhi genap 7 bulan. Udah bisa duduk, meskipun kalo capek langsung bummm!!! hehe

 

Bodhi Santai June 14, 2008

Filed under: Baby, bodhi, foto — luhayu @ 11:34 pm
Tags:

Kalo lagi nggak sibuk (nggak sibuk nyusu maksudnya) Bodhi baca buku. Biarpun belum bisa baca minimal bisa digigit dengan aman. Daripada ngunyah buku atau majalah mama yah :)

 

sok sibuk June 5, 2008

Filed under: Baby, Environment, bodhi — luhayu @ 5:38 am
Tags: ,

Wiiih lumayan lama ga apdet blog ya. Maklum lagi exciting sama hal baru jadi kalo online sekarang ini lebih sering browsing tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) buat Bodhi. Nyari bahan makanan yang oke dan bisa diberiklan untuk baby umur 6 bulanan.Ternyata mengasyikkan juga. Ngenalin makanan baru ke Bodhi, trus liat reaksinya dia, deg-deg an loh. Suka nggak yaaaa, dilepeh gak ya… kalau ternyata doyan duh rasanya habis dapet undian 100 juta huehehe. Sampe saat ini sih 98% dia doyan makanannya. Yang rada gagal diperkenalkan beetroot, hehehe kalo menurut mamanya sih emang kurang enak rasanya, tapi warnanya cantik, merah menggoda gitu, tapi kurang sukses juga menggoda selera makan Bodhi. Kalo alpukat, biasa-biasa aja tapi habuis kalo dikasi. Tapi kalo pumpkin, sweet potato alias ketela rambat, potato, pisang, bubur susu beras merah, beras putih, brown rice, hajarrrr semuanya :) Apalagi kalo dibuatin puree apple, waaah slurp..slurp…malah sampe ga sabar minta disendokin hihihi. Seneng deh, kaya’nya ga sia-sia masakinnya.

Oh ya karena bertekad sebisa mungkin ngasi home made MPASI, sekarang juga ada kesibukan baru. Belanja khusus buat maemnya Bodhi. Walaupun jaman sekarang di lingkungan saya kok serasa saya jadi orang aneh karena ngasi bayi bukan makanan yang instant. Sampai asisten di rumah bilang,”Bodhi bek tu natur nih Bu?”. Belum lagi keliatan tuh tatapan ‘jijik’ kalo tahu bubur susu nya Bodhi campurannya ASI. Ah biarin aja, toh selain yang ngerasa aneh dan nganggep saya nggak modern, masih ada kok yang jadi pengen tahu gimana sih bikin makanan bayi 6 bulan. Ceritanya miinimal seminggu sekali saya ke toko organic dekat rumah buat beli bahan makanan mulai dari beras sampe ketela rambat. Di situ ketemu temen-temen baru deh jadinya, salah satunya ada yang lagi hamil, ngeliat saya cuma beli seperempat kilo pumpkin, 3 butir kentang, dikit-dikit gitu deh, penasaran juga dia hihihi. Saya cerita aja kalo itu buat bayi, makanya beli dikit-dikit (kalo buat mama papanya seh nggak organic dulu deh, lumayan juga terasa di kantong). Keterusan deh jadi cerita-cerita, kalo pumpkin digimanain masaknya. Bikin puree apel itu gimana. Kenapa ga boleh pake garam, gula apalagi penyedap rasa, dan kenapa saya ngga kasi yang instant aja biar ga repot. Wah seneng deh bisa berbagi ilmu dan jadi bikin si calon ibu itu berniat ngasi home made MPASI juga buat babynya nanti. (Kalau kata ija temen saya seh, saya seneng karena bisa menjelaskan panjang lebar ke ibu itu secara hobi saya emang menjelaskan, hihihi). Trus ama si mbak kasir ditambahin deh,”ada lho yang belanja ke sini karena anaknya ternyata doyannya pumpkin organic, karena sebelumnya dibeliin yang non organic anaknya malah ga mau makan, eh setelah beli di sini malah jadi doyan pumpkin, katanya lebih manis dan legit”. Hehehe mungkin si mbak kasir promosi, tapi kalo menurut saya emang bener seperti itu sih. Anak apalagi bayi punya sense yang lebih sensitif untuk milih mana yang terbaik buat mereka.

Heeee kok jadi ngelantur ya ceritanya. Hmm mudah-mudahan baby Bodhi saya selalu doyan masakan mamanya yang ga pinter masak ini yah. Mudah-mudahan ga sering GTM (gerakan tutup mulut). Yah kalaupun terjadi, semoga mamanya ini tabah hihihi dan bisa melewatinya bersama-sama. Bersama kita bisa ya Nak :)

 

Bodhi Lulus ASIX May 17, 2008

Filed under: ASI, Baby, bodhi, foto — luhayu @ 10:50 am
Tags: , ,

Huraayyy hari ini 17 Mei 2008, Bodhi genap berusia 6 bulan. Itu berarti Bodhi udah lulus ASI Xclusive alias tidak mengkonsumsi apapun selama 6 bulan selain ASI. Meskipun nggak nilai sempurna karena di 3 minggu pertama kelahirannya Bodhi sempat mix dengan susu formula, hmmm kurang lebih 300 gr susu formula dicicipi oleh dia. Tapi berkat niat, tekad dan usaha, berhasil juga lepas darisusu formula. Sekalian nih mo ngucapin makasi kepada Dia yang memberikan ASI yang cukup, kepada papa Bodhi dengan dukungannya yang luar biasa, untuk Azzah mamah little aras yang mengenalkan milis ASI for Baby, untuk Fanny mommy Joelle yang jauh-jauh ngirim breast pump, untuk Winnie mama Ferdy untuk diskusi dan saran-sarannya untuk memperbanyak ASI, juga untuk Prof dr Hendra, DSA di RSIA Puri Bunda dengan buku kecil panduan menyusui serta kata sakti nya “ASI kamu pasti cukup!!” yang memang terbukti ampuh mengubah mindset saya yang nyaris percaya akan intimidasi bahwa ASI saya tidak akan cukup. Dan tentu saja terima kasih tak terhingga untuk Bodhi yang mau sabar belajar menyusui dan tentu saja karena doyan berat air susu mama. Makasi banyak ya Nak.

Nah untuk tanda wisudanya, hari ini Bodhi mencicipi HMMPASI pertamanya.

Huuuuu ga sabar nunggu menu pertama hadir di meja….

akhirnya…suapan pertama nih…

Doakan Bodhi bisa menyusu sampai 2 tahun yaaaa

 

Artis Kampanye ASI May 14, 2008

Filed under: ASI, Baby, foto — luhayu @ 2:42 am
Tags: , , , ,

Secara udah semakin banyak ibu-ibu yang enggan menyusui bayinya, Badan PBB yaitu WHO sampai perlu menetapkan regulasi dan di Indonesia pun akan diperdakan (semoga yang ini serius).

Di UK artis charlotte Curch juga kampanye ASI dan diberitakan juga di Kompas dalam berita foto Internasional. Ditulisnya seperti ini:

Penyanyi Wales, Inggris Raya, Charlote Curch (21) bertemu dengan para ibu muda dan bayi mereka pada acara yang didorong Majelis Wales di Cardiff, Wales, Senin (12/5). Tujuan pertemuan adala para ibu muda menyusui langsung anak-anak mereka alias mendorong penggunaan air susu ibu (ASI).

Charlotte Curch yang baju belang-belang yah.

Sementara di Indonesia selebnya juga ada yang getol kampanye ASI.

hayooo ada yang ngenalin yang mana artis? :P

Dimana-mana sama aja ya, kalo artis lebih diliat dan didengar. Tapi berbahagialah mereka yang bisa membantu sesuatu yang positive lebih didengar dan dilihat.

Jadi nggak penting artis lokal atau import, nggak penting dari UK atau dari Indonesia, yang penting adalah ASI itu made in heaven. Segala sesuatu yang made in heaven sudah pasti yang terbaik kan? Setuju?

Salam ASI!!!

Pictures are from Getty Images and AIMI official website.

 

Dunia yang sempit May 5, 2008

Filed under: ASI, Baby, friends — luhayu @ 9:41 pm
Tags: , ,

Dunia itu sebenarnya sempit tidak seluas yang kita bayangkan. Saya sering mengalami orang yang sebelumnya hanya saya kenal tanpa pernah bertatap muka namun sesungguhnya dia adalah orang yang sehari-hari memiliki keterhubungan dengan saya tanpa saya sadari. Atau sering saya bercerita pada teman saya, bahwa ada teman saya yang mengalami atau memiliki sesuatu, eh setelah ngobrol panjang lebar ternyata teman yang saya maksud itu ya temannya dia juga. Bahkan sering kalau dikait-kaitkan eh ternyata orang yang saya ajak ngobrol masih ada hubungan saudara jauh dengan saya. Seperti puzzle saja, saya akan menemukan setiap bagiannya dalam setiap peristiwa yang saya alami atau kegiatan yang saya lakukan.

Kalau kejadian yang baru saya alami kemarin bisa disebut salah satu bagian puzzle yang berhasil saya temukan berkaitan dengan kegiatan saya mengajar dan menyusui. Terasa sedikit ganjil keterkaitannya, ya tapi demikianlah yang saya alami.

Diawali dari beberapa bulan yang lalu ketika saya kembali mengajar setelah cuti melahirkan. Saya ke sekolah untuk mempersiapkan kelas sebelum semester baru dimulai seminggu kemudian. Di ruang komputer saya bertemu seorang pria yang sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer. Saya berpikiran dia teknisi dari toko tempat sekolah membeli komputer. Saya hanya tersenyum dan pria itu juga. Saya tidak berniat menanyakan kepentingan dia disana karena saya sendiri sedang terburu-buru untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan saya, apalagi saya sudah melihat tag Visitor yang dia kenakan, berarti dia tamu resmi ga perlu dicurigai. Tapi dia cukup ramah untuk bertanya, ibu yang mengajar komputer di sini ya? Percakapan hanya sampai di sana dan kami sibuk dengan urusan masing-masing, dan dia pulang lebih dulu dari saya.

Empat hari yang lalu saya menerima email. Email tersebut dari seorang ibu yang minta bantuan dicarikan donor ASI, karena dia mendapat info dari temannya bahwa saya adalah koordinator dari milis AsiforBaby untuk pertemuan di Denpasar (yang sayangnya pertemuan belum berhasil dilakukan), jadi dia berharap saya bisa membantu menggalang donor ASI untuk bayinya dan 2 bayi kembar premature yang lahir di RS Puri Bunda. Ibu tersebut mengatakan, per hari seorang bayi memerlukan 600cc ASI karena dokter yang menangangi sama sekali tidak mengijinkan pemberian susu formula (memang RS yang juga tempat saya bersalin tersebut setahu saya sebagian besar dokternya adalah pendukung pemberian ASI), sementara produksi ASI para ibunya belum maksimal. Dan mereka juga sudah mendapatkan beberapa donor tapi belum juga mencukupi. Wah saat itu rasanya saya mendapat kehormatan demikian besar karena diberi kesempatan membantu. Langsung email saya forward ke milis, tapi berhubung weekend dan biasanya kebanyakan member melakukan akses internet dari kantor, email saya nggak ada tanggapan. Maksudnya ibu-ibu yang di denpasar tidak ada memberi response. Akhirnya saya berpikir, kenapa bukan saya saja yang jadi donor? Memang ASI saya tidak berlimpah alias saya bukan orang ‘kaya’. Tapi apa salahnya orang ‘miskin’ berdana? Akhirnya ngomong ke suami, dia 1000% mendukung. Dan ngomong juga ke Bodhi, kalo susunya mo dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya yang lain. Bodhi sih menatap mata saya aja sambil senyum-senyum (disangkanya saya lagi mendongeng kali yah hihihi), tapi saya yakin dia ngerti kok. Setelah sepakat lalu saya berniat menghubungi ibu tersebut lewat telepon saja, eh tapi dia tidak melampirkan nomor teleponnya. Akhirnya saya menghubungi RS Puri Bunda dan mencari nama ibu tersebut dan menyatakan saya berniat mendonorkan ASI. Akhirnya dapet deh telpon rumah dan ponselnya.

Kemudian saya menghubungi ibu tersebut dan saya bilang, saya ingin donor tapi maaf banget cuma bisa 125cc per hari karena saya juga masih menyusui dan tidak pernah nyetok ASI beku di kulkas. Nggak disangka itu ibu bilang, wah 125 cc itu banyak mbak….. (hehehe senangnya akhirnya selain dokter anak saya ada juga orang lain yang bilang ASI saya banyak, biasanya orang lain kebanyakan bilang “emang ASI nya cukup?”). Akhirnya disepakatilah bahwa suami si ibu itu yang akan mengambil ASI perah ke rumah saya setiap siang. Dan minggu siang kemarin adalah untuk yang pertama kalinya.

Kemarin ASI nya sudah diambil, dan yang mengambil adalah pria yang bertemu dengan saya di ruang komputer sekolah dulu!! Dan ternyata dia bukan hanya teknisi komputer, tapi di kemudian hari dia juga yang menggantikan saya mengajar di preschool. Jadi sebenarnya saya sudah bertemu muka dengan bapak itu tanpa tahu namanya. Kemudian saya tahu sudah ada guru yang menggantikan saya mengajar, saya hanya tahu nama tanpa tahu wajahnya. Kemudian saya dihubungi ibu yang membutuhkan ASI donor dan yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari bapak itu yang akhirnya saya tahu lengkap nama dan wajahnya hahahaha.

Terkadang keterkaitan kita dengan seseorang dihubungkan oleh sesuatu yang nggak kita sangka-sangka ya.