Luh Ayu Writing

From mind to words

Bali Nggak Perlu Kasino October 22, 2009

Filed under: Environment, Mind, bali — luhayu @ 3:08 pm

Ketika sedang menghias vihara untuk sebuah acara (seperti biasa saya kebagian merangkai bunga), terjadi pembicaraan berikut:

Ibu A:  “Wah yang baru pulang dari Hongkong, gimana Macau?”

Mas B: “Macau udah banyak berubah….tambah bagus deh. Padahal cuma mengandalkan judi”/

Ibu A: “Iya tuh mestinya Bali seperti Macau, legalkan saja kasino. Bagus deh Bali.”

mas B: “Iya betullll….setuju….”

Saya sih cuma diem aja, padahal saat itu disana cuma bertiga. Saya diam karena saya nggak setuju, tapi saya males berdebat. Apalagi sedang di vihara, dan mereka lupa kali yah Sang Buddha aja menyebutkan ‘Bermata pencaharian yang Benar” sebagai salah satu jalan mencapai kesempurnaan. Tapi apa daya, usaha saya diam karena malas berdebat sepertinya gagal, karena dengan diamnya saya jadinya malah ditanya: “Iya kan Yu…bener kan????” Hmmmmmm hmmmmm saya waktu itu cuma begitu aja, mendengung seperti lebah, karena memang sedang nggak mood berdebat, dan saya juga liat-liat sih mana yang bisa diajak bicara dan mana yang cuma akan berakhir seperti pepesan kosong, jadi buat apa buang-buang energi?

Jadi alasan saya tidak setuju, cukup saya tuliskan disini saja. Ya, saya tidak setuju karena saya ingin Bali itu ya Bali, Bali bukan macau, bukan juga Las Vegas, bukan juga India, Bukan juga Tibet. Tapi Bali ya Bali, yang memiliki keunikan tersendiri, yang sudah selayaknya bangga dengan keunikan yang dia punya, tanpa harus sama dengan daerah lain. Justru karena Bali unik, maka banyak yang berkunjung ke sini bukan? Bahkan banyak yang tidak sekedar berkunjung, tapi kemudian memperoleh pencerahan. Ya di Bali tempatnya, sebuah tempat yang menurut sebuah buku yang pernah saya baca (tapi maaf lupa judul dan yang mengucapkan kalimat ini), bahwa Bali adalah salah satu dari tiga tempat yang aura dan getarannya paling baik dan kondusif untuk bermeditasi. Jadi inginnya saya, yang mau berjudi ya silakan ke macau yang mau mencari ketenangan bathin, datanglah ke Bali. Yang mau dugem, ya silakan dugem, dengan segala resiko ditanggung sendiri tentunya. Bukannya saya sok suci, tapi saya menyadari memang sulit menghilangkan dualitas selama dunia masih ada. Jadi sekarang tinggal kita yang memilih akan ada di sisi mana. Bahagia mana yang akan kita pilih. Begitu aja, dan pokoknya nggak setuju kalo Bali mesti sama dengan tempat lain, apalagi nyamain hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan agama yang kita anut. Katanya umat beragama, tapi kalo udah urusan duit, agamanya ditinggal dulu, begitu kali yaaaa……

BTW, sekarang sedang seru syuting Eat, Pray, Love. Nah kalau bukan karena Bali itu berbeda, si penulis itu nggak akan datang ke Bali untuk menghasilkan karya luar biasa bukan???

 

Ini Bodoh atau Kampungan? December 7, 2008

Filed under: Mind, bali — luhayu @ 6:05 pm
Tags:

Berikut ini sebuah cerita dari desa tempat saya tinggal saat ini. Sebuah cerita ironi, dimana atas nama penggalangan dana, ketertiban umum diobrak-abrik, hak asasi warga diabaikan. Entah sebuah cerita tentang kebodohan atau tingkah laku kampungan, tapi yang jelas bagi saya adalah bukti sebuah kemunduran.

Hari pertama, 3 Desember 2008

Sebuah acara yang disebut bazaar penggalangan dana mulai digelar di bale banjar yang jaraknya hanya berbatas satu rumah dari rumah saya. Sepelemparan batu kata orang, dan memang benar sih kalau saya sampai melempar batu atau nimpuk batu kesana minimal ada yang benjol!!Yang dimaksud bazaar disini adalah, bikin cafe dadakan di bale banjar, jual kupon dengan nilai tertentu (50.000 untuk saat ini), dengan menu utama adalah beer plus makanan ala kadarnya. Setahu saya dari asisten di rumah yang kebetulan orang desa ini juga, yang bertugas menjadi pendamping tamu di meja, menunya ayam lalapan dari warung depan rumah saya plus sate ayam dan kambing dari mas-mas sate yang biasa jualan di pengkolan jalan. Sekedar contoh, ayam lalapan yang biasanya dijual seharga 6500 per paket (satu potong ayam plus nasi) di bazaar dijual seharga 50.000 per paket (2 potong ayam plus 2 porsi nasi).

Jam tujuh malam suara musik sudah berdentum-dentum, keras sekali memekakkan telinga. Musiknya? apalagi kalau bukan house music yang bagi sebagian orang mungkin keren (fiuhhh). Hari itu anak saya masih bisa tidur seperti biasa, jam 9 sudah bobok. Tapi yang nggak bisa tidur itu, saya!! Apalagi menjelang malam, dimana suasana makin sepi sehingga suara musik makin jelas terdengar. Ampuuun!! Jam satu dini hari belum juga selesai acaranya. Saya sudah mulai murka, udah gatal mau nulis di blog, apa daya koneksi lelet sekali. Mungkin memang disuruh merenung dulu saya, diberi kesempatan untuk berpikir lebih panjang daripada sekedar memaki-maki gak karuan. Jam dua belum selesai juga, akhirnya berakhir juga penderitaan saya malam itu jam 2.30. Itupun dengan suara berkoar-koar mungkin dari ketua panitia yang menyampaikan harapannya mudah-mudahan terkumpul 100 juta dari bazaar itu. Bayangkan jam 2.30 dini hari tereak-tereak, nggak tahu adat nggak tahu sopan nggak bertata krama banget kan?? Setuju nggak? Bahkan saking marahnya saya sampai bawa-bawa AIDS. Iya, kan 1 desember hari AIDS, itu muda-mudi banjar pada tahu nggak yang begituan? Tahunya cuma bikin bazaar untuk melegalisir tindakan nggak bertata krama. Gendeng!!

Hari kedua, tanggal 4 Desember 2008

Pagi-pagi saya langsung mengeluh begitu asisten saya tiba di rumah hari itu. Kasian, dia cuma bisa cengar-cengir mendengar protes saya. Mungkin karena kurang tidur, agak siangan saya sedikit limbung, mata berkunang-kunang. Maklum nggak biasa begadang. Malamnya penderitaan berulang. Musik semakin nggak keruan kerasnya. Perasaan saya saat itu, masih marah tapi sedikit terkendali nggak jadi mengadu ke polisi karena merasa ada yang mengganggu ketenangan saya. Tapi kali ini bukan saya saja yang tidak bisa tidur, anak saya mulai ketularan. Karena mendengar musik yang berdentum-dentum, dia jadi sering terbangun karena kaget. Aslinya dia tipe bobok pulas sampai pagi. Jadi bayangkan, dia yang biasanya menikmati tidur berkualitas mulai diganggu juga hak asasi nya. Dan hari kedua ini acara ditutup jam 2 pagi.

Hari ketiga, 5 Desember 2008

Bangun pagi anak saya demam. Saya ukur panasnya 38.6 derajat. Masih doyan makan tapi nggak mau ditinggal. Maunya digendong terus. Dan sedikit lesu. Seharian minta digendong padahal sedang sendirian di rumah dan ada beberapa kerjaan di toko bunga. Wah saya pikir, sudah mulai mengganggu kesehatan anak saya nih. Saat itu saya sudah berpikir akan mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia cabang Bali yang kebetulan baru terbentuk. Hiperbola ya saya? Memang, bahkan saya sudah berpikir akan mengirim email ke Kak Seto!!! Lain kali kalau akan memberikan ijin mengadakan keramaian supaya diusulkan ke kepolisian untuk mempertimbangkan hak anak yang harus mendapatkan istirahat yang cukup dan baik.

Oh ya saya masih protes ke asisten di rumah, ngapain sih mesti muter musik sekeras itu dan kenapa mesti musik jenis itu? Sebab sebelumnya sempat saya dengar ada suara gamelan di awal-awal. “Oh itu request dari caleg-caleg yang datang bu. Mereka bilang, nggak seru musiknya, ganti dong!!”. Dasar caleg ndableg, baru calon aja udah begitu. Mana tuh yang katanya di spanduk-spanduk yang mereka pajang di pinggir jalan yang katanya AKAN menjaga ajeg Bali, AKAN membangun bali dengan dasar agama dan budaya?? Oh ya kali ini saya yang ndableg, itu kan baru AKAN ya, kalau sudah kepilih. Sekarang kan belum kepilih, jadi ayo hancurkan bali pelan-pelan, gitu kali ya isi kepala mereka.

Hari keempat, 6 Desember 2008

Hari ulang tahun nggak boleh marah-marah lagi. Memang nggak marah, tapi nelangsa. Anak saya masih demam, siangnya mulai ga mau makan. Rencana mau makan di luar rumah sekeluarga bareng ibu dan adik-adik saya buyar. Tapi saya dapet surprise, ibu dan adik saya dateng ke rumah. Plus suami beliin mie ulang tahun dan kue tart. Tapi penderitaan belum berakhir gara-gara bazaar. Karena nggak mau makan malamnya anak saya jadi rewel, kalau sebelum-sebelumnya dia kebangun tanpa nangis, malam ini sudah plus nangis. Ya gimana sih, kita orang gede aja kalau lagi sakit maunya kan istirahat ya, apalagi dia yang masih kecil ituuu… aduuuh saya sampe nangis. Melukin dia setiap kali kebangun sampai badan ikutan berasa sumeng. Ingin mindahin panasnya ke saya, eh saya memang ikutan berasa demam tapi demam anak saya ya nggak turun-turun juga. Dikasi obat penurun panas malah akhirnya jadi muntah.

Hari kelima, 7 Desember 2008

Beberapa hari begadang, lalu siang ngga bisa tidur siang karena anak saya masih sakit yang bikin dia nggak nyenyak tidur, bikin badan saya pegel-pegel. Akhirnya manggil “spa” langganan. Dadong Gombloh namanya. Dadong berarti nenek dalam bahasa bali, tapi jangan remehkan meskipun dia dadong-dadong. Pijatannya mantap, lulurnya banyak pilihan, plus berwawasan luas. Kata dia karena sering ngobrol sama tamu (client maksudnya) jadi tahu impormasi biarpun dia buta huruf. Ah ternyata memang benar, dari dia justru saya mendengar ungkapan hati rakyat yang sesungguhnya. Dia bilang dia nggak beli kupon bazaarnya, terlalu mahal untuk ukuran keluarga dia. Ini kan cari dana untuk pura (oh ya alasan pengadaan bazaar ini memang untuk pembangunan pura, tuh makin ironis kan? Mau bangun pura tapi kok ya jualan beer, ngebar remang-remang, pasang musik keras, cape deeeeh), “saya nyumbang dengan cara lain saja, sesuai kemampuan saya yang penting saya iklas. Anak-anak saya kebetulan nggak suka minum-minum, lagipula mereka sedang banyak keperluan. Ada yang sedang cicil motor, ada yang sedang bikin rumah. Kan kalau datang ke bazaar begitu, nggak cukup dengan beli kupon. Sampai disana dirayu-rayu lagi untuk nambah beli beer beli ini beli itu yang harganya sudah berlipat-lipat lebih mahal.” Kata si dadong, cucu dia yang umur 7 bulan juga nggak bisa tidur tenang, padahal rumah si dadong beda satu banjar dengan saya loh, jadi bayangkan gimana berisiknya kalau dari rumah saya. Trus masih cerita dia, di banjarnya nggak pernah diadakan bazaar lagi sejak mantan ketua banjarnya ngamuk ke acara bazaar. Ceritanya istri si mantan ketua sedang masa penyembuhan sehabis serangan stroke, dan gara-gara suara berisik dari bazaar istrinya nggak bisa istirahat. Kasian ya? Sampai si bapak bilang,”ada yang mau ngambil sakit istri saya nggak? Kalau ada yang mau, saya sumbang 50juta sekarang juga biar nggak perlu ada bazaar!!”

Nah itu baru curhat dari orang asli desa ini, saya belum sempat interview tetangga saya yang bule perancis, belum juga dengan cerita dari tetangga-tetangga belakang penghuni villa-villa yang notabene orang luar darimana budaya nge-bar dan ngafe itu berasal. Saya rasa, meskipun mereka suka dugem ya pasti ada aturannya juga lah, nggak tengah malam sampa pagi gangguin tidur orang. Nggak tereak-tereak kampungan di pagi buta dengan pengeras suara seperti ini. Oh ya ini laporan live. Sambil ngetik blog ini saya mendengar, mc nya, seorang wanita yang bahasa balinya sama sekali tidak terdengar berlogat bali, mengumumkan karena hari ini penutupan maka harga beer diskon 50%!!! Jadi demi pembangunan tempatibadah, silakan minum sebanyak-banyaknya, mau mabok??? oh silakan….asal nyumbang yang buanyaaak yaaaaa. Oh tidaaaaakkkkkkk………….

* sudah pukul 2 pagi, acara belum menunjukkan tanda-tanda usai. Dari marah jadi sedih jadi marah lagi jadi nelangsa akhirnya. Kok orang Bali ya begini ya sekarang ini?? Memang acara ini cuma 5 hari tapi sepertinya sudah memberi tanda-tanda kehancuran di depan mata, cepat atau lambat.

 

Pasar Kumbasari October 23, 2008

Filed under: bali, foto — luhayu @ 11:59 am
Pasar Kumbasari

Pasar Kumbasari

Kalau ke Bali direkomendasikan ke Pasar Seni Sukawati udah sering dan biasa dong ya. Kalau ke Pasar Kumbasari mungkin belum banyak yang tahu kalau pasar seni yang lokasinya di pusat kota Denpasar tempo dulu ini (tepatnya di jalan Gajah Mada) sebenarnya memiliki sesuatu yang nggak kalah bahkan kalau menurut saya lebih dari pasar Sukawati. Sesuatu itu: ‘Good Price, Good Quality Product, Good Service’. Hmmm tapi sayang belum bagus di masalah perparkiran. Ok deh yang nggak bagus dibahas belakangan, sekarang bahas yang bagus aja dulu…

Kalau saya memang paling suka ke pasar ini untuk keperluan belanja-belanja souvenir ataupun kebutuhan interior (cieeeh kaya’ yang designer interior aja) seperti peralatan dapur, kamar mandi, atau sekedar hiasan rumah. Kadang untuk dipakai sendiri, kadang untuk oleh-oleh kadang juga kalau ada pesanan wedding souvenir. Bentuk pasarnya seperti pasar seni pada umumnya, ada kios-kios baik besar ataupun kecil (karena ada satu toko yang menempati puluhan los sekaligus!! Bangunannya terdiri dari 4 lantai yang mana lantai dasar adalah pasar umum yang menjual kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan upacara adat/agama (seperti pasar di Bali pada umumnya lah). Sementara 3 lantai sisanya diisi oleh penjual segala jenis barang kerajinan. Mulai dari baju, sarung pantai, sendal, tas-tas cantik, pernak-pernak accesories seperti kalung, gelang, cincin dari segala macam jenis bahan. Sampai oil burner, aromatherapy, ceramic, wooden, keranjang-keranjang unik (yang bagus banget untuk vase bunga) dan masih buanyaaak lagi. Barang yang dijual tidak hanya kerajinan dari Bali tapi Lombok, Jawa, Sulawesi juga ada. Kualitasnya? Bagus tentunya. Barang yang sudah ada disini biasanya yang sudah pilihan jadi bukan sekedar oleh-oleh yang sekali dua kali pakai langsung dibuang. Walaupun untuk baju sih ada kok yang kualitasnya seperti itu, jadi kesimpulannya nyari yang murah meriah ada yang high quality juga ada.

Masalah harga? Relative. Kalau menurut saya, sangat masuk akal dan pedagangnya nggak suka nipu. Apa karena saya orang Bali ya, jadi kalo kesana diajak berbahasa Indonesia saya balas dengan bahasa Bali. Tapi walaupun bukan orang Bali jangan takut untuk belanja, ditawar aja pedagangnya nggak bakal marah. Mereka ramah-ramah. Nggak seperti pedagang di Kuta jaman dulu sebelum bom Bali yang bisa ngomel-ngomel kalo ditawar harga barangnya. Lho emang beda ya setelah bom Bali? Iya beda banget! Mungkin karena sekarang mereka baru ngerasa pembeli adalah raja, secara turis kan sempat seret pasca bom itu. Yah biasalah banyak orang lupa kalo hidup nggak selalu diatas. Eh kok jadi ngelantur.

Masalah ramah-tamah itu bagian dari good servicenya. Selain itu mereka helpful. Misalnya seperti kemarin saya mencari patung Garuda ukuran kecil ke suatu toko, tapi mereka nggak punya barangnya. Mereka nggak segan menunjukkan kita toko yang menjual barang seperti yang kita inginkan. Atau kalau kita malas keliling, mereka bisa bantu dengan mengambilkan barangnya ke tempat yang dimaksud tentunya kita negosiasi harga dengan mereka. Biasanya juga nggak beda harga kok kan mereka juga udah itung-itungan kali ya pembagian keuntungannya. Pokoknya mereka saling membantu lah, kompak gitu sesama pedagangnya.

Oh ya mengenai harga, kalau takut dimahalin ada tipsnya nih :) Pertama kali datang aja dulu ke toko Hawaii. Letaknya paling bawah, pas baru naik tangga langsung ketemu tuh toko. Disana nyaris semua jenis barang ada, dari baju sampe hiasan rumah. Liat-liat dulu harganya, karena mereka nempel harga pas. Kalau udah ketemu yang diincer, coba deh kelilingin pasarnya lalu kalau udah ketemu tanya harganya kalo dirasa kemahalan tawar lagi dibawah harganya Hawaii. Tapi jangan terlalu rendah dari harga Hawaii lah nawarnya, kesian pedagangnya hehehe. Apalagi kalo kita bilang untuk dijual lagi dan ambil jumlah banyak, dijamin dikasi harga bagus deh.

Tahun lalu pasar ini kebakaran (awal Mei 2007). Uh sampe inget ya. Iya, soalnya pas denger kabar pasar Kumbasari kebakaran duh kok jadi ikutan lemes. Kebayang toko-toko yang sering saya kunjungi, beberapa pemilik toko yang saya inget mukanya dan baik-baik banget itu. Belum barang-barang bagus yang ikut kebakar. Duh hati saya bersama mereka deh waktu itu. Sediiiih banget. Apalagi setelahnya terjadi kesimpangsiuran apakah pasarnya akan dibangun lagi atau nggak, direlokasi atau nggak. Saya takut banget Pasar Kumbasari tinggal nama. Untuuuung ngga kejadian, karena tahun ini kalau nggak salah akhir Agustus 2008 pasarnya udah beroperasi kembali. Dengan renovasi yang bikin pasarnya makin rapi. Dan senanganya toko-toko yang biasa saya kunjungi juga tetap buka disana. Ada sih yang pindah tapi pindang ke gedung sendiri dan deket banget sama rumah saya, uhuiii… Tapi tetep lebih seneng ke pasar ah, suasananya beda, soul hunting nya dapet banget. Hihihi dasar udik aja kali ya.

Naah kemarin kebetulan bawa kamera untuk foto-foto in souvenir yang diminta calon customer, difoto juga deh pasar kesayanganku ini. Yang meskipun parkirnya susaaah setengah mati. Lebih baik naik motor daripada bawa mobil kalo kesana. Kalaupun terpaksa bermobil karena belanjaan sudah diperkirakan akan banyak, ajak supir aja, kalo ga ada supir ajak aja pacar, suami/istri, adik/kakak,teman yang bisa nyetir tentunya :D Minta diturunkan di depan pasar, lalu biarkan mereka berkreasi mencari parkir di jalan-jalan lain, misalnya di jalan Sumatra, jalan Sulawesi atau dimanapun yang nggak ada tanda P dicoret. Kalau sudah selesai belanja jangan khawatir bakal berat bawa dagangan karena di pasar banyak WTS alias Wanita Tukang Suun alias ibu-ibu dan mbak-mbak yang siap membantu membawakan belanjaan Anda. Fee nya? Pasarannya 2000 saja!! Tapi kalau nggak tega kasi deh 5000, dijamin kalo ke pasar di hari berikutnya banyak senyum terkembang dari para wanita itu untuk Anda hihihi. Pembeli dermawan dong ceritanya, sekali-kali bergaya orang kaya boleh dong, walaupun cuma ngelebihin 3000 perak!! Ngerusak harga pasaran? Ah nggak juga, wong kalo ada yang ngasi 2000 tetap mereka terima kok. Nggak maksa dikasi lebih.

 

Jalan-jalan ke Bebek Bengil September 29, 2008

Filed under: bali, bodhi, foto, review — luhayu @ 2:43 am
Tags:

Kok judulnya jalan-jalan bukannya makan-makan? Secara Bebek Bengil itu kan restoran yang saya yakin buanyaaak banget yang tahu dan memfavoritekan restoran ini. Kenapa jalan-jalan, karena pas hari minggu kemarin kesana memang lebih enjoy suasananya daripada makanannya. Makanannya biasa aja, mungkin memang lebih sesuai ke selera turis yah. Maaf ya buat penggemar fanatik Bebek Bengil, ini hanya masalah selera. Dan yang belum pernah icip-icip dan baru dengar namanya yang melegenda, jangan jadi ragu untuk datang…silakan datang silakan dijajal, selera orang kan beda-beda.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih untuk seorang teman dari Ubud yang mensponsori acara makan-makan kemarin. Tapi kita enjoy banget dengan suasananya, dengan keramahan pelayanan Bebek Bengil, juga untuk jamuan pre lunch di rumahnya yang asri dan sejuuuk (kalau aku orang kaya pengen punya rumah di Ubud juga hueeee). Dan yang paling dinikmati kemarin itu mendengarkan gamelan rindik (kalo saya ga salah) di tepian sawah yang sedang mulai berbulir padinya. Hmmm surga dunia yang sesungguhnya nyam nyam nyam

Papa & anak yg sumringah

Papa & anak yg sumringah

 

Sebuah Ironi Pengrajin Bali September 27, 2008

Filed under: Mind, bali — luhayu @ 4:13 am
Tags:

Sewaktu Batik diclaim oleh Malaysia sebagai budaya asli Malaysia, efeknya langsung terasa, banyak yang merasa kebakaran jenggot (kalo yang ngga punya jenggot apanya dong yang kebakar?). Tapi sewaktu para perajin perak di Bali dipecundangi oleh para pengusaha asing yang dengan tidak tahu malu mematenkan motif-motif ukir Bali sebagai hak mereka, kok nggak ada yang kebakaran jenggot, minimal bulu idung lah yang pasti semua orang punya (ga tahu ya kalo ternyata ada yang ga punya).

Awalnya saya juga nggak begitu ngeh dengan hal ini, sampai suatu hari suami saya mendapat somasi dari sebuah perusahaan kerajinan besar yang membuka usaha di Bali. Lha kok bisa? Suami saya kan kerjaannya di bidang IT, malah ga bisa ngukir kecuali ngoding. Ternyata gara-garanya sebuah perusahaan yang membeli domain di Legong Hosting milik suami saya dianggap telah mencuri karya cipta yang telah dipatenkan oleh perusahaan besar tersebut. Astaga Naga Bonar!!! Padahal web nya juga bukan bikin di kita tapi Cuma hosting doang loh. Akhirnya karena kita ngerasa ga ada hubungannya kita telponlah Pak Deny si pemilik domain tersebut dan singkat cerita beliau datang dan menceritakan semua duduk persoalannya. Ternyata dia dituduh mencuri design ukiran yang sudah dipatenkan perusahaan besar itu, padahal sesungguhnya design yang diributkan itu adalah miliknya ORANG BALI. Orang Bali yang dengan dermawan memberikan designnya untuk dimanfaatkan , orang Bali yang tidak pernah menuntut diberikan royalty atas pemakaian design-design berusia berabad-abad itu. Bukan karena orang Bali bodoh, bukan!! Tapi karena orang Bali ASLI nya memang dermawan, tanpa curiga. Bagi orang Bali seni adalah karya persembahan kepada Tuhan. Seni adalah perwujudan bakti kepada sang Hidup. Bukan juga karena saya orang Bali lalu saya mengagung-agungkan sifat orang Bali yang seperti itu, karena tidak perlu ditutupi semakin banyak saja saat ini orang yang mengingkari keBalian nya dengan menjadi orang yang semata-mata selalu berorientasi uang. Menolak menjadi orang Bali secara tidak langsung dengan menjadi orang yang konsumtif dan selalu berpikiran curiga (bukan waspada).

Boleh jadi kalau pak Deny tidak menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri Denpasar, masalah ini tidak terkuak luas. Kami hanya bisa bicara dari mulut ke mulut masalah ini. Karena ternyata tidak hanya Pak Deny yang mengalami hal ini, banyak pengrajin lain yang kemudian merasa resah karena beragam motif kreasi masyarakat Bali yang sudah menjadi milik bersama sejak lama kini tak lagi bisa digunakan dengan leluasa. Hak Patennya sudah dipegang orang asing. Dan lebih ironis lagi dipatenkan oleh pihak asing melalui Direktorat Hak Paten, Ditjen kekayaan Hak Intelektual Republik Indonesia. Duuuh pengen garuk-garuk tanah jadinya, kok bisa lolos dan disetujui pula. Sinting ya aparat Negara ini???

Sampai saat ini saya belum tahu perkembangan terakhir kasusnya pak Deny (yang ternyata kakak teman SMA saya, wih dunia memang sempit ya). Apakah uang akan kembali berbicara? Tunggu saja. Mudah-mudahan yang terbaik yang menjadi akhirnya nanti.

 

Warung Bunana June 26, 2008

Filed under: bali, kuliner — luhayu @ 5:45 pm
Tags: , , ,

Di daerah rumah saya -Kerobokan- banyak warung makan dengan segala rupa jenis makanan, pelayanan dan kelas. Dari yang bener-bener warung sampai yang ngaku-ngaku warung, seperti Warung Made yang legendaris itu (ini rada keluar dari area kerobokan sih tapi masih satu kecamatan lah di Kuta :P ), Warung Itali yang jualan makanan Italy dengan konsep warung yang uenak dan terjangkau harganya, Warung Batavia yang jual masakan Indonesia yang dulunya enak tapi sekarang biasa aja dan harganya semakin mahal, Warung Bunana yang jual makanan Indian Malaysian juga ada.

Nah saya mau cerita soal Warung Bunana, secara tadi siang warung itu muncul di Wisata Kuliner edisi Liburan. Saya dan suami sudah sering makan disana jauuuuh sebelum pak Bondan mampir dan icip-icip disana. Awalnya tertarik nyoba karena namanya unik dan ada menu teh tarik dan roti canai, secara saya ini memang penggemar teh dan roti-roti an. Pertama nyoba udah langsung ‘kena’, selain harganya terjangkau (yang termurah waktu itu 5000 dan termahal 12000), rasanya memang enak pas di lidah Indonesia. Saking cintanya sama teh tariknya, pas ke Kuala Lumpur dulu sempet-sempetin nyobain teh tariknya untuk dibandingin. Hasilnya nggak jauh berbeda, sama enaknya hehehe. Satu yang kami suka, karena pemiliknya yang orang Medan keturunan India, ramah dan rajin ngajakin ngobrol. Si Abang -yang sampe sekarang kita nggak tahu namanya- ini istrinya orang Jepang dan punya satu anak cewek namanya Nana, makanya namanya warung Bunana, warung ibunya si nana, gitu maksudnya :) Nah karena ada bau-bau jepangnya ini maka di depan warung dan di daftar menunya, selain bahasa indonesia dan inggris ada tulisan kanjinya juga. Dan pengunjungnya kebanyakan turis Jepang atau orang Jepang yang udah mukim di Bali.

Naaah tadi siang itu si Pak Bondan mampir kesana tuh. Katanya dia udah sering lewat jalan raya kerobokan dan liat warung itu tapi baru kali ini berkesempatan mencoba. Duh si bapak, lewat kerobokan kok nggak mampir ke rumah ya :P (hihihi siapa gue!!!). Dia icip-icip, roti canai, ayam kari, raita (salad pake yogurt) dan teh tarik tentu saja. Komentarnya? Teh tariknya otentik, saladnya cakep, roti canai + ayam kari= mak nyusss. Si Pak Bondan ini nggak sembarangan ngomong mak nyuss loh. Kalo sampe dia ngomong begitu berarti makanan itu asli enak dan ‘jujur’ enak :D Tapi kok nggak nyobain martabaknya ya, itu another mak nyusss juga.

Gara-gara nonton acara itu juga sorenya jadi pengen ngajakin suami makan roti canai lagi, secara sejak Bodhi lahir udah jarang banget makan disana, lebih sering take away. Laaaah sampe disana sesuai perkiraan, rameee banget ama orang lokal :P Pasti deh habis nonton wisata kuliner hihihi. Jadi selera saya sama Pak Bondan nggak beda jauh lah ya, hueheheheh

 

Bali Mistis June 11, 2008

Filed under: Mind, bali — luhayu @ 4:24 pm
Tags: ,

Jam menunjukkan pukul 11.52, hampir tengah malam. Mo nulis yang mistis-mistis, pas nih suasananya (sok jago sok pemberani huehehehe).

Bali pulau dengan aura mistis, sudah banyak orang yang tahu. Yang mengalami langsung yang mistis-mistis juga udah banyak. Nah saya mau bercerita bagaimana saya lahir dan besar di pulau dengan banyak cerita mistis ini.

Terus terang saya bukan orang pemberani. Nonton film horror aja nggak doyan. Kalau saya pikir-pikir mungkin ini ada hubungannya dengan terlalu banyaknya saya mendengar cerita tentang hal-hal gaib sedari kecil. Bukan hanya di lingkungan keluarga besar, di lingkungan tempat tinggal, bahkan di sekolahpun cerita mistis sudah biasa terdengar. Kalau ada orang yang sakit seringkali dihubungkan dengan penyakit gaib, yang tidak bisa disembuhkan secara medis, hanya mbah dukun yang tahu obatnya. Kalau ada yang stress lalu jadi gila, dihubungkan dengan kesalahannya yang mengakibatkan ada orang lain atau mahluk lain yang menjadi tidak suka lalu berniat menyiksanya bahkan mencabut nyawanya. Merinding kan? Rasanya di setiap sudut ada mata yang mengawasi, kalau sampai melakukan kesalahan siap-siap saja menerima sakit yang nggak jelas juntrungannya. Mau makan mau minum mesti hati-hati, jangan sampai pas makan minum dilihat oleh orang yang sudah dicap punya ilmu, kalo nggak mau sakit perut pas pulang ke rumah nanti. Jadi mau makan dan minum pun udah was-was.

Saya nggak tahu, apakah hanya saya atau memang banyak juga anak-anak yang lahir dan besar di Bali mengalami hal ini. Dan saya juga nggak mau bilang bahwa semua itu omong kosong, sebab kadang memang ada aja sih yang aneh-aneh. Hmmm mungkin bukan aneh, hanya alam pikiran dan pengetahuan saya aja yang belum menjangkau ke arah sana. Mungkin ada penjelasannya, tapi saya orang awam yang masih perlu belajar banyak.

Dikelilingi banyak cerita mistis sedari kecil sampai sma, maka ketika melanjutkan kuliah di jakarta saya merasa ada ’sesuatu’ yang lepas, ada ‘beban’ yang hilang. Walaupun ternyata ‘ancaman’ di Jakarta nggak bisa dibilang lebih ringan, tapi tetep beda sensasi ‘takut’ nya :)

Sekarang saya pulang kampung nih ceritanya. Udah menetap di Bali lagi. Ternyata aura mistis itu masih kuat. Arus modernitas, informasi dari dunia luar, informasi dan ilmu kesehatan sudah jauh kemana-mana, tapi cerita-cerita mengenai sakit yang nggak jelas penyebabnya masih banyak bertebaran. Bahkan kadang yang memang jelas penyebabnya pun, dibuat ceritanya menjadi ada unsur lain yang di luar nalar sebagai penyebabnya. Contoh nyata: Bapak meninggal karena stroke. Udah jelas-jelas Bapak memang punya penyakit tekanan darah tinggi. Tapi masih ada banyak pihak yang ingin membuat keluarga kami tidak tenang dan iklas. Dengan inisiatif sendiri mereka bertanya ke paranormal. Maka seperti diduga banyaklah kesimpulan-kesimpulan yang sama sekali nggak bikin hati tenang. Katanya si ini nggak suka sama Bapak, keluarga yang di sana yang iri sama keluarga saya, pokoknya yang mirip sinetron gitu jalan ceritanya. Kalau saja keluarga inti saya (Ibu, saya dan adik-adik) nggak kuat iman, mungkin semua orang yang disebut itu bisa masuk black list kami untuk dibuatkan pembalasan dendam. Beruntung saya punya ibu yang sangat berhati lapang dan berpikiran positive serta maju. Jadi serangan dari kiri kanan dengan cerita-cerita yang ‘menyebalkan’ itu justru membuat kami saling menguatkan satu sama lain, saling mengingatkan jangan sampai ada dendam di hati kami, kan belum tentu juga benar.

Nah ternyata nggak berhenti sampai di situ, ibu saya yang sudah masuk usia menopause pun, gejala menopausenya itu dihubung-hubungkan dengan black magic. Padahal sudah jelas-jelas semua gejalanya itu adalah gejala yang umum dialami wanita yang mengalami pre menopause, tetep aja banyak yang nggak percaya. Ya mau bilang apa ya, terserah deh, kalau kata ibu saya, kita manusia punya karma masing-masing, karma kita yang melindungi kita karma juga yang menjatuhkan kita pada penderitaan. Kalau memang benar ada yang berniat tidak baik, kita tidak bisa mengontrol mereka, kita hanya sanggup mengontrol diri kita sendiri, dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik. Selanjutnya? Yang harus terjadi maka terjadilah.

Ternyata bukan ibu saya saja yang mengalami intimidasi ini, sekarang ini seorang tante yang kurang lebih menunjukkan gejala pre menopause juga mengalami hal yang sama. Ibu saya berniat membantu, dengan memintanya untuk sharing, bercerita jika perasaan depresi dan takut (salah satu tanda pre menopause) itu muncul. Tante saya sih bilang iya-iya. Tapi sepertinya dia masih belum bisa menerima penjelasan ilmiah itu, karena saat ini dia sedang ngungsi di rumah tante saya yang lain, karena menurut terawangan paranormal yang dia datangi, tetangganya lah sebagai “tersangka pelaku”. Hmmm kalau sudah begini mau bilang apa lagi ya?

 

My Baby is the Best April 7, 2008

Filed under: ASI, Baby, Environment, Mind, bali, bodhi, books, friends — luhayu @ 3:56 am
Tags:

Karena tulisan ini lebih cocok sebagai ceritaan ibu-ibu, jadi untuk yang berminat silakan berkunjung ke my motherhood experiences, dan untuk yang ga berminat silakan berkunjung juga huehehehehe….

 

Seninya tinggal di Bali March 15, 2008

Filed under: Mind, bali, friends — luhayu @ 8:49 am
Tags: , ,

Sebagai penduduk Pulau Bali sudah wajar dan lumrah kalau dalam satu bulan (kalau tidak mau dibilang setiap minggu) menerima kunjungan tamu. Mulai dari teman lama yang memang akrab, teman lama yang sebelumnya hanya say hai ketika berpapasan (tapi biasanya menjelang kedatangannya ke Bali jadi makin akrab, karena intens ber sms, email atau chatting), sampai teman yang sebelumnya tidak pernah bertatap muka dan hanya tahu wajah melalui foto atau web cam, tahu lah dapetnya dari mana, yak teman kenalan dari dunia maya (tanpa luna).

Sebagai seorang tuan rumah yang baik, tahu tempat wisata atau tempat layak kunjung adalah sebuah keharusan. Garing kan tamunya kalo nanya-nanya info yang standar tapi kita yang tuan rumah Cuma melongo trus bilang “dimana tuh, hmmm kok baru denger yah”. Yaaa walaupun ga mungkin tahu semuanya, secara kita di Bali kan kerjanya juga bukan jalan-jalan setiap hari yah, tapi ada kerjaan ada keluarga dan ada kehidupan social yang harus dijalani. Jadi nggak heran juga, untuk info-info tempat makan mak nyuss, tempat sport menantang justru orang luar yang tahu duluan. Hehehe. Tapi setidaknya yang standard sih tahu lah, kalo bisa tahu yang sedang happening sekarang, itu akan menjadi nilai plus seorang tuan rumah.

Berkunjung ke sebuah tempat yang notabene bukan tempat kita tinggal sehari-hari, apa sih yang kita cari? Kalau saya sih ingin tahu, bagaimana makanannya, bagaimana suasananya, bagaimana kehidupan sosial budayanya. Pokoknya ingin mengalami dan melihat sesuatu yang berbeda. Iya nggak sih?

Oleh karena itu saya sering terhenyak, heleuuuh terhenyak huehehehe, ketika seorang tamu protes seperti ini : “Ah makan di Jimbaran nggak enak, sambalnya nggak ada sambal saos padang. Kalau di Jakarta, enak tuh kepiting saos padangnya.” Yaelah, kalo memang cuma mau icip-icip kepiting saos padang dan apalagi di Jakarta ada yang enak, ya ngapain buang ongkos dan waktu ke Bali? Namanya juga khas Jimbaran, bingung deh sayah mendengarnyah.

Trus ada lagi,”Orang Bali aneh ya, kalo minum es kelapa muda kok pake jeruk nipis.” Lha mereka kok ga balik mikir, kalo orang Bali yang ke daerah dia trus ngomong “Orang daerah kamu aneh ya, minum es kelapa muda kok nggak pake jeruk nipis?” hayoooo gimana jawabnya. Kalau semuanya sama di dunia ini, nggak mungkin acara Wisata Kuliner nya Pak Bondan Winarno laris manis begituh.

Yang lebih nggak masuk di akal kalo ada yang ngomong gini “Aduuuh di Bali ini, gara-gara ada yang bawa layangan di jalan,jalanan jadi macet. Kok nggak bisa sih begini aja begitu aja bla bla bla” (masih panjang deh ngomelnya). Aduh teman, kamu baru sekali macet di Bali udah ngomel, di Jakarta kamu macet setiap hari kering kali ya tenggorokannya buat ngomel heheheheheh. Lagian siapa suruh datang ke Bali, lha di Bali sebelum dirimu datang juga udah ada festival layang-layang setiap tahun kok. Berlibur itu tujuannya memperlambat ritme kehidupan, jadi nikmatin aja deh karena dengan dinikmati akan terasa indah kok macet itu heheheh. Anggap aja kamu bisa liat kiri kanan lebih lama, pemandangan semua jalanan di Bali seru kok, mana tahu kamu malah ketemu sesuatu yang unik dan nggak terbayangkan sebelumnya gara-gara memperlambat laju kendaraan kamu.

Hmmm lalu soal belanja. Khas nya orang kita memang belum jalan-jalan namanya kalo belum shopping. Tapi kalo pas shopping nawar barangnya kadang gila-gilaan, malu juga sih saya yang nganternya hahaha. Secara saya sendiri sering nggak tegaan nawar harga barang-barang kerajinan itu, karena tahu proses pembuatannya yang rumit dan melibatkan rasa. Jadi yah nawarnya sewajarnya aja deh. Oleh karena itu, untuk tugas yang satu ini saya bukan guide yang baik. Saya lepasin aja mereka kalo mau belanja, kalo berasanya kemahalan saya nggak disalahin kan hehehehe. Trus paling bingung juga sih kalo ditanya, “eh aku beli kalung ini, lucu yaaaah. Cuma 10.000 loooh. Eh tapi mungkin masih dapet 10000 dua biji kali ya kalo ditawar lagi. Menurut kamu gimana, berapa sih pasaran harganya?”. Dyuuuh saya paling bingung deh kalo ditanya harga pasar, secara saya nggak pernah mendata berapa harga barang kerajinan yang notebene jenisnya bisa ratusan itu. Trus juga, kalung itu kan bikinnya susah juga, sepuluh ribu sih nggak mahal kalo dibanding harga segelas kopi starbucks. Iya nggak??

Tapi begitulah seninya jadi guide. Sebenarnya banyakan sukanya sih, sekalian jalan-jalan, trus bisa ngobrol dan kadang nambah temen baru kalo si teman yang datang itu membawa temannya juga. Bahkan kadang saya berpikir hal itu lah yang membuat saya menikmati hidup di Bali. Saya tak perlu mencari teman, teman baru yang datang sendiri ke halaman rumah saya.