Berikut ini sebuah cerita dari desa tempat saya tinggal saat ini. Sebuah cerita ironi, dimana atas nama penggalangan dana, ketertiban umum diobrak-abrik, hak asasi warga diabaikan. Entah sebuah cerita tentang kebodohan atau tingkah laku kampungan, tapi yang jelas bagi saya adalah bukti sebuah kemunduran.
Hari pertama, 3 Desember 2008
Sebuah acara yang disebut bazaar penggalangan dana mulai digelar di bale banjar yang jaraknya hanya berbatas satu rumah dari rumah saya. Sepelemparan batu kata orang, dan memang benar sih kalau saya sampai melempar batu atau nimpuk batu kesana minimal ada yang benjol!!Yang dimaksud bazaar disini adalah, bikin cafe dadakan di bale banjar, jual kupon dengan nilai tertentu (50.000 untuk saat ini), dengan menu utama adalah beer plus makanan ala kadarnya. Setahu saya dari asisten di rumah yang kebetulan orang desa ini juga, yang bertugas menjadi pendamping tamu di meja, menunya ayam lalapan dari warung depan rumah saya plus sate ayam dan kambing dari mas-mas sate yang biasa jualan di pengkolan jalan. Sekedar contoh, ayam lalapan yang biasanya dijual seharga 6500 per paket (satu potong ayam plus nasi) di bazaar dijual seharga 50.000 per paket (2 potong ayam plus 2 porsi nasi).
Jam tujuh malam suara musik sudah berdentum-dentum, keras sekali memekakkan telinga. Musiknya? apalagi kalau bukan house music yang bagi sebagian orang mungkin keren (fiuhhh). Hari itu anak saya masih bisa tidur seperti biasa, jam 9 sudah bobok. Tapi yang nggak bisa tidur itu, saya!! Apalagi menjelang malam, dimana suasana makin sepi sehingga suara musik makin jelas terdengar. Ampuuun!! Jam satu dini hari belum juga selesai acaranya. Saya sudah mulai murka, udah gatal mau nulis di blog, apa daya koneksi lelet sekali. Mungkin memang disuruh merenung dulu saya, diberi kesempatan untuk berpikir lebih panjang daripada sekedar memaki-maki gak karuan. Jam dua belum selesai juga, akhirnya berakhir juga penderitaan saya malam itu jam 2.30. Itupun dengan suara berkoar-koar mungkin dari ketua panitia yang menyampaikan harapannya mudah-mudahan terkumpul 100 juta dari bazaar itu. Bayangkan jam 2.30 dini hari tereak-tereak, nggak tahu adat nggak tahu sopan nggak bertata krama banget kan?? Setuju nggak? Bahkan saking marahnya saya sampai bawa-bawa AIDS. Iya, kan 1 desember hari AIDS, itu muda-mudi banjar pada tahu nggak yang begituan? Tahunya cuma bikin bazaar untuk melegalisir tindakan nggak bertata krama. Gendeng!!
Hari kedua, tanggal 4 Desember 2008
Pagi-pagi saya langsung mengeluh begitu asisten saya tiba di rumah hari itu. Kasian, dia cuma bisa cengar-cengir mendengar protes saya. Mungkin karena kurang tidur, agak siangan saya sedikit limbung, mata berkunang-kunang. Maklum nggak biasa begadang. Malamnya penderitaan berulang. Musik semakin nggak keruan kerasnya. Perasaan saya saat itu, masih marah tapi sedikit terkendali nggak jadi mengadu ke polisi karena merasa ada yang mengganggu ketenangan saya. Tapi kali ini bukan saya saja yang tidak bisa tidur, anak saya mulai ketularan. Karena mendengar musik yang berdentum-dentum, dia jadi sering terbangun karena kaget. Aslinya dia tipe bobok pulas sampai pagi. Jadi bayangkan, dia yang biasanya menikmati tidur berkualitas mulai diganggu juga hak asasi nya. Dan hari kedua ini acara ditutup jam 2 pagi.
Hari ketiga, 5 Desember 2008
Bangun pagi anak saya demam. Saya ukur panasnya 38.6 derajat. Masih doyan makan tapi nggak mau ditinggal. Maunya digendong terus. Dan sedikit lesu. Seharian minta digendong padahal sedang sendirian di rumah dan ada beberapa kerjaan di toko bunga. Wah saya pikir, sudah mulai mengganggu kesehatan anak saya nih. Saat itu saya sudah berpikir akan mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia cabang Bali yang kebetulan baru terbentuk. Hiperbola ya saya? Memang, bahkan saya sudah berpikir akan mengirim email ke Kak Seto!!! Lain kali kalau akan memberikan ijin mengadakan keramaian supaya diusulkan ke kepolisian untuk mempertimbangkan hak anak yang harus mendapatkan istirahat yang cukup dan baik.
Oh ya saya masih protes ke asisten di rumah, ngapain sih mesti muter musik sekeras itu dan kenapa mesti musik jenis itu? Sebab sebelumnya sempat saya dengar ada suara gamelan di awal-awal. “Oh itu request dari caleg-caleg yang datang bu. Mereka bilang, nggak seru musiknya, ganti dong!!”. Dasar caleg ndableg, baru calon aja udah begitu. Mana tuh yang katanya di spanduk-spanduk yang mereka pajang di pinggir jalan yang katanya AKAN menjaga ajeg Bali, AKAN membangun bali dengan dasar agama dan budaya?? Oh ya kali ini saya yang ndableg, itu kan baru AKAN ya, kalau sudah kepilih. Sekarang kan belum kepilih, jadi ayo hancurkan bali pelan-pelan, gitu kali ya isi kepala mereka.
Hari keempat, 6 Desember 2008
Hari ulang tahun nggak boleh marah-marah lagi. Memang nggak marah, tapi nelangsa. Anak saya masih demam, siangnya mulai ga mau makan. Rencana mau makan di luar rumah sekeluarga bareng ibu dan adik-adik saya buyar. Tapi saya dapet surprise, ibu dan adik saya dateng ke rumah. Plus suami beliin mie ulang tahun dan kue tart. Tapi penderitaan belum berakhir gara-gara bazaar. Karena nggak mau makan malamnya anak saya jadi rewel, kalau sebelum-sebelumnya dia kebangun tanpa nangis, malam ini sudah plus nangis. Ya gimana sih, kita orang gede aja kalau lagi sakit maunya kan istirahat ya, apalagi dia yang masih kecil ituuu… aduuuh saya sampe nangis. Melukin dia setiap kali kebangun sampai badan ikutan berasa sumeng. Ingin mindahin panasnya ke saya, eh saya memang ikutan berasa demam tapi demam anak saya ya nggak turun-turun juga. Dikasi obat penurun panas malah akhirnya jadi muntah.
Hari kelima, 7 Desember 2008
Beberapa hari begadang, lalu siang ngga bisa tidur siang karena anak saya masih sakit yang bikin dia nggak nyenyak tidur, bikin badan saya pegel-pegel. Akhirnya manggil “spa” langganan. Dadong Gombloh namanya. Dadong berarti nenek dalam bahasa bali, tapi jangan remehkan meskipun dia dadong-dadong. Pijatannya mantap, lulurnya banyak pilihan, plus berwawasan luas. Kata dia karena sering ngobrol sama tamu (client maksudnya) jadi tahu impormasi biarpun dia buta huruf. Ah ternyata memang benar, dari dia justru saya mendengar ungkapan hati rakyat yang sesungguhnya. Dia bilang dia nggak beli kupon bazaarnya, terlalu mahal untuk ukuran keluarga dia. Ini kan cari dana untuk pura (oh ya alasan pengadaan bazaar ini memang untuk pembangunan pura, tuh makin ironis kan? Mau bangun pura tapi kok ya jualan beer, ngebar remang-remang, pasang musik keras, cape deeeeh), “saya nyumbang dengan cara lain saja, sesuai kemampuan saya yang penting saya iklas. Anak-anak saya kebetulan nggak suka minum-minum, lagipula mereka sedang banyak keperluan. Ada yang sedang cicil motor, ada yang sedang bikin rumah. Kan kalau datang ke bazaar begitu, nggak cukup dengan beli kupon. Sampai disana dirayu-rayu lagi untuk nambah beli beer beli ini beli itu yang harganya sudah berlipat-lipat lebih mahal.” Kata si dadong, cucu dia yang umur 7 bulan juga nggak bisa tidur tenang, padahal rumah si dadong beda satu banjar dengan saya loh, jadi bayangkan gimana berisiknya kalau dari rumah saya. Trus masih cerita dia, di banjarnya nggak pernah diadakan bazaar lagi sejak mantan ketua banjarnya ngamuk ke acara bazaar. Ceritanya istri si mantan ketua sedang masa penyembuhan sehabis serangan stroke, dan gara-gara suara berisik dari bazaar istrinya nggak bisa istirahat. Kasian ya? Sampai si bapak bilang,”ada yang mau ngambil sakit istri saya nggak? Kalau ada yang mau, saya sumbang 50juta sekarang juga biar nggak perlu ada bazaar!!”
Nah itu baru curhat dari orang asli desa ini, saya belum sempat interview tetangga saya yang bule perancis, belum juga dengan cerita dari tetangga-tetangga belakang penghuni villa-villa yang notabene orang luar darimana budaya nge-bar dan ngafe itu berasal. Saya rasa, meskipun mereka suka dugem ya pasti ada aturannya juga lah, nggak tengah malam sampa pagi gangguin tidur orang. Nggak tereak-tereak kampungan di pagi buta dengan pengeras suara seperti ini. Oh ya ini laporan live. Sambil ngetik blog ini saya mendengar, mc nya, seorang wanita yang bahasa balinya sama sekali tidak terdengar berlogat bali, mengumumkan karena hari ini penutupan maka harga beer diskon 50%!!! Jadi demi pembangunan tempatibadah, silakan minum sebanyak-banyaknya, mau mabok??? oh silakan….asal nyumbang yang buanyaaak yaaaaa. Oh tidaaaaakkkkkkk………….
* sudah pukul 2 pagi, acara belum menunjukkan tanda-tanda usai. Dari marah jadi sedih jadi marah lagi jadi nelangsa akhirnya. Kok orang Bali ya begini ya sekarang ini?? Memang acara ini cuma 5 hari tapi sepertinya sudah memberi tanda-tanda kehancuran di depan mata, cepat atau lambat.