Luh Ayu Writing

From mind to words

Rectoverso – Sentuh Hati dari Dua Sisi September 27, 2008

Filed under: books, review — luhayu @ 4:28 am
Tags: ,

Sepemahaman saya, dharma adalah kehidupan itu sendiri. Segala sesuatu yang terjadi, yang kita alami, yang kemudian kita resapi dan maknai setiap kehadirannya sebagai usaha untuk selalu membawa diri kita dalam kesadaran, itulah dharma. Dharma sebagai alat untuk mencapai pencerahan sejati. Sebagai perahu untuk menyeberangkan kita melewati lautan samsara.

Mendengar buku dan membaca musik Rectoverso karya Dewi Lestari, rasanya saya seperti membaca buku dharma dan mendengar parita yang dilagukan dengan bahasa sehari-hari. Tidak perlu menyebut kata Tuhan beribu kali untuk memberikan label karya ini adalah karya religious. Karena ketika buku ini menceritakan segala hal yang sesungguhnya terjadi dalam keseharian kita, bagi saya inilah karya religious. Dan juga ketika buku ini tidak menghakimi secara hitam putih, dimana kita pembacanya dihormati karena dianggap masih memiliki akal untuk berpikir dan diberikan kesempatan menggunakan akal kita untuk merenung dan memikirkan apa sebenarnya yang sedang terjadi, apakah sesuatu yang hitam, sesuatu yang putih atau (seringkali )sesuatu yang abu-abu. Oleh sebab itu juga bagi saya buku ini adalah buku religious dan album ini adalah album religious. Karena kembali sesuai pemahaman saya, ketika kita tidak lagi menilai sesuatu dengan benar atau salah, ketika kita tidak lagi terpengaruh kondisi untuk memutuskan sesuatu saat itulah pencerahan sedang kita nikmati. Begitulah pengalaman yang saya rasakan saat mendengarkan buku ini dan membaca musiknya.

Ada yang berkomentar, nikmati sekaligus seperti menikmati kopi susu. Baru akan kamu rasakan esensi sesungguhnya dari buku ini. Tapi seperti juga pengalaman bathin yang tidak akan pernah sama yang akan dilalui oleh orang yang berbeda, saya juga punya cara saya sendiri untuk mengerti buku dan musik ini. Pertama saya nikmati dulu musiknya, karena di siang hari saat buku dibubuhi tanda tangan asli Dewi ‘Dee’ Lestari ini saya terima, tidak memungkinkan saya untuk membaca bukunya dengan tenang. Ya karena seperti bukunya yang lainnya, buku dee tidak bisa dibaca sambil lalu untuk bisa dimengerti. Itu bagi saya, mungkin berbeda bagi orang lain yang lebih cepat processor otaknya J Hmmm music dan lagunya daleeem, sentuhan orkestranya terasa, dan bukan saya saja yang menikmatinya, malaikat kecil saya yang baru berusia 10 bulan yang untuk saat ini masih seperti bayangan saya alias nempel hampir di semua aktifitas saya, juga turut menikmatinya. Bodhi tenaaaang sekali mendengarkan lagu ini, sambil bermain dan sesekali menggoyang-goyang tangannya seolah menari. Biasanya kalau tidak sambil mendengarkan lagu??? Jangan harap dia anteng dalam hitungan 5 menit, pasti sedang menjelajah. Selanjutnya di malam hari baru saya bisa nikmati bukunya. Belum sambil mendengarkan albumnya. Mulai terbuka makna setiap lagunya. Ada yang sesuai perkiraan saya, ada yang melenceng jauh. Ada yang saya pikir bahwa tokoh wanita yang sedang bernyanyi, eh ternyata itu tokoh prianya. Hmmmm bahkan setelah say abaca, seperti ada beberapa kisah yang perjalanan hidup Dee ya J Dan banyak juga kalimat yang digunakan dee seperti de ja vu saat membaca kisah dharma. Dan jujur belum semua cerita saya paham, perlu dibaca ulang. Duh jadi malu betapa lemotnya saya ini. Cerita yang jadi juara bagi saya adalah Malaikat Juga Tahu dan Tidur. Curhat buat Sahabat, Cecak di Dinding, Aku ada, dan Firasat tentu saja (perasaan hampir semua ya hahaha), juga oke bangets. Khusus lagu Firasat, tanpa bermaksud membandingkan dengan Marcell, beda banget setelah dinyanyikan Dee, mungkin karena dibarengi dengan kisah dari bukunya yang bikin lagu ini jadi daleeem banget dan suara ‘wanita’ Dee bikin saya yang juga wanita ini lebih dipermainkan perasaannya.

Saat saya menulis ini diiringi oleh alunan suara Dee, uuuh rasanya sambil merinding nulisnya. Kapan ya saya bisa bertemu dengan penulis pujaan saya ini. Tanda tangannya untuk saat ini sudah cukup lah. Mungkin nggak ya Dee datang ke Ubud Writer Festival tahun ini? Saya ingin bertemu dengan Dee, sambil mengenalkan Bodhi malaikat kecil saya, yang namanya terinspirasi dari tokoh Supernova. Saya sedang mengirimkan gelombang pikiran saya nih Dee, suatu saat kita pasti bertemu dan semoga untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan dan semesta ini (yang saat ini idenya sedang menari-nari di kepala saya, tapi belum saatnya orang lain tahu, jieeeeh sedikit bermisteri nih).

 

My Baby is the Best April 7, 2008

Filed under: ASI, Baby, Environment, Mind, bali, bodhi, books, friends — luhayu @ 3:56 am
Tags:

Karena tulisan ini lebih cocok sebagai ceritaan ibu-ibu, jadi untuk yang berminat silakan berkunjung ke my motherhood experiences, dan untuk yang ga berminat silakan berkunjung juga huehehehehe….

 

Laskar Pelangi: Harun March 26, 2008

Filed under: Mind, books — luhayu @ 11:34 pm
Tags: , , , , ,

Akhirnya selesai juga baca “Laskar Pelangi” nya Andrea Hirata. Novel yang sedang banyak diperbincangkan. Walaupun saya sedikit telat (atau kelamaan juga kali ya) biarin deh yang penting kan baca hehe. Terutama sih tertarik banget setelah nonton cuplikan rekaman wawancaranya Andrea Hirata di K!ckAndy  yang mengharu biru itu.

Saya bukan orang pinter sastra jadi gak layak kalo ikut-ikutan menilai sebuah karya sastra. Tapi kok sayang rasanya kalo ga ditulis apa yang saya dapet dari baca buku itu. Nulis di blog gapapa lah ya, buat catatan sendiri ajah. Lagipula buku ini sebuah memoar alias catatan kisah yang benar-benar terjadi, jadi saya semakin amaze aja bahwa bisa terkumpul begitu banyak orang berkarakter kuat dalam kelompok laskar pelangi sampai bisa dibuat menjadi sebuah novel.

Saya terharu (udah dari awal sebenarnya buku ini mengharukan, tapi kok ya bisa Bang Andrea menceritakannya dengan lucu, khebaaat deh karena sesuatu yang mengharukan bukan untuk dikasihani tapi untuk direnungi) ama bab awal yang menceritakan bahwa Sekolah Muhamaddyah harus mengumpulkan 10 orang murid untuk tahun ajaran itu agar sekolahnya tidak dibubarkan. Dan sampai hampir siang mendekati batas waktu hanya 9 orang yang terkumpul. Semua menjadi putus asa, air mata sudah di pelupuk mata, lalu tiba-tiba muncul seorang anak yang sesungguhnya kurang cocok masuk kelas 1 SD karena usia nya yang sesungguhnya melebihi tingkah lakunya. Seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental, yang selalu bercerita serba tiga. Dialah Harun!

Semua bersorak, meski dalam hati. Semua menghela napas lega. Harun telah melengkapi sepuluh orang murid, seperti ia menjadi pelengkap tiang penyangga bangunan sekolah agar tidak rubuh atau minimal menundanya sedikit lebih lama sampai akhirnya nanti benar-benar roboh. Siapa nyana seorang seperti Harun, yang disekolahkan hanya karena ia jangan menggangu ibunya di rumah, yang memiliki kekurangan dibandingkan orang lain pada umumnya bisa menjadi seorang penyelamat. Karena jika ia tidak ada, maka mungkin tidak ada juga novel Laskar Pelangi ini karena tak akan pernah ada cerita yang bergulir. Tak akan ada novel yang begitu inspiratif ini yang sudah mengubah banyak orang menjadi lebih bersemangat dan bangkit dari hidup yang mati. Banyak yang berhutang padanya, sekolah Muhammadyah, anggota laskar pelangi, dan para pembaca Laskar Pelangi yang terinspirasi.

Jadi, nggak ada orang yang nggak berguna. Karena dia lahir sebagai manusiapun sudah mengemban misi. Misi untuk menyelesaikan tugasnya sendiri dan misi untuk menyelesaikan tugas-tugas manusia lainnya. Jadi jangan pernah merasa nggak berguna ya, apalagi kalau sampai harus mati bunuh diri. Duuuh jangan…..