Sepemahaman saya, dharma adalah kehidupan itu sendiri. Segala sesuatu yang terjadi, yang kita alami, yang kemudian kita resapi dan maknai setiap kehadirannya sebagai usaha untuk selalu membawa diri kita dalam kesadaran, itulah dharma. Dharma sebagai alat untuk mencapai pencerahan sejati. Sebagai perahu untuk menyeberangkan kita melewati lautan samsara.
Mendengar buku dan membaca musik Rectoverso karya Dewi Lestari, rasanya saya seperti membaca buku dharma dan mendengar parita yang dilagukan dengan bahasa sehari-hari. Tidak perlu menyebut kata Tuhan beribu kali untuk memberikan label karya ini adalah karya religious. Karena ketika buku ini menceritakan segala hal yang sesungguhnya terjadi dalam keseharian kita, bagi saya inilah karya religious. Dan juga ketika buku ini tidak menghakimi secara hitam putih, dimana kita pembacanya dihormati karena dianggap masih memiliki akal untuk berpikir dan diberikan kesempatan menggunakan akal kita untuk merenung dan memikirkan apa sebenarnya yang sedang terjadi, apakah sesuatu yang hitam, sesuatu yang putih atau (seringkali )sesuatu yang abu-abu. Oleh sebab itu juga bagi saya buku ini adalah buku religious dan album ini adalah album religious. Karena kembali sesuai pemahaman saya, ketika kita tidak lagi menilai sesuatu dengan benar atau salah, ketika kita tidak lagi terpengaruh kondisi untuk memutuskan sesuatu saat itulah pencerahan sedang kita nikmati. Begitulah pengalaman yang saya rasakan saat mendengarkan buku ini dan membaca musiknya.
Ada yang berkomentar, nikmati sekaligus seperti menikmati kopi susu. Baru akan kamu rasakan esensi sesungguhnya dari buku ini. Tapi seperti juga pengalaman bathin yang tidak akan pernah sama yang akan dilalui oleh orang yang berbeda, saya juga punya cara saya sendiri untuk mengerti buku dan musik ini. Pertama saya nikmati dulu musiknya, karena di siang hari saat buku dibubuhi tanda tangan asli Dewi ‘Dee’ Lestari ini saya terima, tidak memungkinkan saya untuk membaca bukunya dengan tenang. Ya karena seperti bukunya yang lainnya, buku dee tidak bisa dibaca sambil lalu untuk bisa dimengerti. Itu bagi saya, mungkin berbeda bagi orang lain yang lebih cepat processor otaknya J Hmmm music dan lagunya daleeem, sentuhan orkestranya terasa, dan bukan saya saja yang menikmatinya, malaikat kecil saya yang baru berusia 10 bulan yang untuk saat ini masih seperti bayangan saya alias nempel hampir di semua aktifitas saya, juga turut menikmatinya. Bodhi tenaaaang sekali mendengarkan lagu ini, sambil bermain dan sesekali menggoyang-goyang tangannya seolah menari. Biasanya kalau tidak sambil mendengarkan lagu??? Jangan harap dia anteng dalam hitungan 5 menit, pasti sedang menjelajah. Selanjutnya di malam hari baru saya bisa nikmati bukunya. Belum sambil mendengarkan albumnya. Mulai terbuka makna setiap lagunya. Ada yang sesuai perkiraan saya, ada yang melenceng jauh. Ada yang saya pikir bahwa tokoh wanita yang sedang bernyanyi, eh ternyata itu tokoh prianya. Hmmmm bahkan setelah say abaca, seperti ada beberapa kisah yang perjalanan hidup Dee ya J Dan banyak juga kalimat yang digunakan dee seperti de ja vu saat membaca kisah dharma. Dan jujur belum semua cerita saya paham, perlu dibaca ulang. Duh jadi malu betapa lemotnya saya ini. Cerita yang jadi juara bagi saya adalah Malaikat Juga Tahu dan Tidur. Curhat buat Sahabat, Cecak di Dinding, Aku ada, dan Firasat tentu saja (perasaan hampir semua ya hahaha), juga oke bangets. Khusus lagu Firasat, tanpa bermaksud membandingkan dengan Marcell, beda banget setelah dinyanyikan Dee, mungkin karena dibarengi dengan kisah dari bukunya yang bikin lagu ini jadi daleeem banget dan suara ‘wanita’ Dee bikin saya yang juga wanita ini lebih dipermainkan perasaannya.
Saat saya menulis ini diiringi oleh alunan suara Dee, uuuh rasanya sambil merinding nulisnya. Kapan ya saya bisa bertemu dengan penulis pujaan saya ini. Tanda tangannya untuk saat ini sudah cukup lah. Mungkin nggak ya Dee datang ke Ubud Writer Festival tahun ini? Saya ingin bertemu dengan Dee, sambil mengenalkan Bodhi malaikat kecil saya, yang namanya terinspirasi dari tokoh Supernova. Saya sedang mengirimkan gelombang pikiran saya nih Dee, suatu saat kita pasti bertemu dan semoga untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan dan semesta ini (yang saat ini idenya sedang menari-nari di kepala saya, tapi belum saatnya orang lain tahu, jieeeeh sedikit bermisteri nih).
