Luh Ayu Writing

From mind to words

Bali Nggak Perlu Kasino October 22, 2009

Filed under: Environment, Mind, bali — luhayu @ 3:08 pm

Ketika sedang menghias vihara untuk sebuah acara (seperti biasa saya kebagian merangkai bunga), terjadi pembicaraan berikut:

Ibu A:  “Wah yang baru pulang dari Hongkong, gimana Macau?”

Mas B: “Macau udah banyak berubah….tambah bagus deh. Padahal cuma mengandalkan judi”/

Ibu A: “Iya tuh mestinya Bali seperti Macau, legalkan saja kasino. Bagus deh Bali.”

mas B: “Iya betullll….setuju….”

Saya sih cuma diem aja, padahal saat itu disana cuma bertiga. Saya diam karena saya nggak setuju, tapi saya males berdebat. Apalagi sedang di vihara, dan mereka lupa kali yah Sang Buddha aja menyebutkan ‘Bermata pencaharian yang Benar” sebagai salah satu jalan mencapai kesempurnaan. Tapi apa daya, usaha saya diam karena malas berdebat sepertinya gagal, karena dengan diamnya saya jadinya malah ditanya: “Iya kan Yu…bener kan????” Hmmmmmm hmmmmm saya waktu itu cuma begitu aja, mendengung seperti lebah, karena memang sedang nggak mood berdebat, dan saya juga liat-liat sih mana yang bisa diajak bicara dan mana yang cuma akan berakhir seperti pepesan kosong, jadi buat apa buang-buang energi?

Jadi alasan saya tidak setuju, cukup saya tuliskan disini saja. Ya, saya tidak setuju karena saya ingin Bali itu ya Bali, Bali bukan macau, bukan juga Las Vegas, bukan juga India, Bukan juga Tibet. Tapi Bali ya Bali, yang memiliki keunikan tersendiri, yang sudah selayaknya bangga dengan keunikan yang dia punya, tanpa harus sama dengan daerah lain. Justru karena Bali unik, maka banyak yang berkunjung ke sini bukan? Bahkan banyak yang tidak sekedar berkunjung, tapi kemudian memperoleh pencerahan. Ya di Bali tempatnya, sebuah tempat yang menurut sebuah buku yang pernah saya baca (tapi maaf lupa judul dan yang mengucapkan kalimat ini), bahwa Bali adalah salah satu dari tiga tempat yang aura dan getarannya paling baik dan kondusif untuk bermeditasi. Jadi inginnya saya, yang mau berjudi ya silakan ke macau yang mau mencari ketenangan bathin, datanglah ke Bali. Yang mau dugem, ya silakan dugem, dengan segala resiko ditanggung sendiri tentunya. Bukannya saya sok suci, tapi saya menyadari memang sulit menghilangkan dualitas selama dunia masih ada. Jadi sekarang tinggal kita yang memilih akan ada di sisi mana. Bahagia mana yang akan kita pilih. Begitu aja, dan pokoknya nggak setuju kalo Bali mesti sama dengan tempat lain, apalagi nyamain hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan agama yang kita anut. Katanya umat beragama, tapi kalo udah urusan duit, agamanya ditinggal dulu, begitu kali yaaaa……

BTW, sekarang sedang seru syuting Eat, Pray, Love. Nah kalau bukan karena Bali itu berbeda, si penulis itu nggak akan datang ke Bali untuk menghasilkan karya luar biasa bukan???

 

Dari A ke B kembali ke A June 16, 2009

Filed under: ASI, Environment, Mind — luhayu @ 6:07 am

Cerita 1: Peternak sapi mengeluh karena harga susu sapi terus merosot turun, sementara pemerintah (penguasa??) tetap tidak membatasi impor susu. Di tengah gencarnya iklan susu, iklan ‘4 sehat 5 sempurna’ (yang sebenarnya hanya ada di Indonesia dan tidak diakui di dunia), peternak sapi Indonesia justru tidak menikmati berkahnya.

Cerita 2:  Manusia hanya perlu susu sampai umur 2 tahun, itupun kalau bisa dari Air Susu Ibu. Selebihnya karena kemampuan pencernaan manusia untuk memproses susu semakin menurun seiring bertambahnya usia, maka susu menjadi tidak penting lagi, digantikan dengan makanan sehat bergizi seimbang. Ada kelompok gerakan ‘nomilk’  ada kelompok gerakan ‘ayo minum susu seumur hidup’.

Cerita 3: Bagi yang tidak berhubungan langsung dengan peternak sapi (selanjutnya saya sebut petani susu saja ya) mungkin mudah untuk bilang tidak untuk ajakan minum susu. Tapi bagi yang berhubungan langsung, seperti ketua kelompok peternak sapi seluruh Indonesia misalnya (ini jabatan ngarang saya aja),  tentu tidak semudah itu. Di satu sisi dia sedang belajar dan mencoba menerapkan pola hidup sehat, salah satunya dengan tidak mengantungkan kesehatannya pada susu, apalagi mempertaruhkan kesehatannya dan keluarganya karena susu (ingat kasus bakteri sakazaaki, susu bermelamin, susu kalsium tinggi yang justru menyebabkan osteoporosis?). Tapi disisi lain dia harus memperjuangkan nasib para petani dan keluarganya yang makin terpuruk karena tersisih dari perhatian penguasa berwenang, dan bahkan sekarang makin gencar gerakan nomilk, sudah jatuh tertimpa tangga, ibaratnya begitu.

Banyak cara melihat sebuah kondisi, banyak jalan untuk mencari jalan keluar. Jadi tolong jangan sinisi saya yang kelihatannya cenderung pro nomilk. Seperti saya juga tidak akan mensinisi yang suka minum susu. Kalau ada kata-kata yang kelihatannya seperti itu, mohon maaf ya, bukan maksud hati begitu, hanya kebelummampuan saya untuk menyusun kata-kata, yang bisa bikin semua orang happy. Kalau menurut cara berpikir bodoh saya, dulu kan tidak ada peternak sapi, tidak ada pabrik susu, tapi dulu semua orang bertani, berkebun, orang masih bisa hidup. Lalu mengapa bisa berubah dari petani jadi peternak? Kok sanggup berubah? Pasti usaha yang dibutuhkan untuk mengubah itu tidaklah kecil, bahkan sama besarnya dengan sekarang jika kita ingin mengembalikan para peternak jadi petani. Peternak jadi pengangguran? Nggak juga, bisa kan jadi petani? ‘cuma’ prosesnya dibalik aja sekarang. Sama halnya dengan dulu, penduduk Indonesia yang beraneka ragam makanan sumber karbohidratnya, ada yang makan jagung, sagu, ubi, dll.  Tapi kok berhasil menjadi masyarakat pemakan nasi? Walaupun sekarang saat produksi beras tidak mencukupi lagi karena begitu tergantungnya pada beras, jadi kalang kabut impor beras. Sementara akhirnya sagu hanya jadi makanan eksotis, ubi cuma jadi cemilan keripik, dan jagung cuma makanan hiburan. Tentu tidak bisa dilupakan, usaha penguasa waktu itu yang mengkampanyekan bahwa nasi lebih unggul (dia lupa negara yang penduduknya nggak makan nasi masih bisa hidup dan terkadang lebih sejahtera kehidupannya). Entah ada kepentingan politis apa, saya tidak tahu dan males cari tahu. Jadi ketika dulu bisa mengubah dari A menjadi B, kenapa ketika kita mengetahui bahwa ternyata A lebih baik dari B, kita tidak mau mengakui dan belajar kembali (ilmu pengetahuan selalu berkembang lho dan ada banyak peneliti yang selalu belajar dan bekerja untuk menemukan hal-hal baru, walaupun terkadang hal baru yang ditemukan itu sebenarnya sudah dijalani sejak ratusan tahun lamanya). Seringkali, ketika menerima sesuatu yang dianggap keluar jalur umum, walaupun benar, yang muncul adalah penolakan. Bertahan. Pokoknya kekeuh, ngotot. Sulit…nggak mungkin, ngomong sih gampang, prakteknya susah!!! Ya …. memang iya, dimana-mana kalo praktek diomongin doang bukan dikerjain, ya berasanya susah.

Ya memang sih, selalu akan ada pro kontra, selalu ada yang punya pendapat berbeda. Kan katanya perbedaan itu indah, taman bunga makin indah kalau makin banyak jenis dan ragam warna bunganya. Jadi ya saling menghargai aja kali ya, kalau saya nggak mau minum susu, jangan dong saya dianggap sok!! Disinisi itu paling nggak enak, Ah mungkin saya aja yang nggak berbakat jadi pelopor ya, bisanya ngikut aja, tapi saya sih mencoba menerapkan ehipassiko (datang dan lihat). Saya dengar, saya anggap benar, saya coba praktek, ternyata terbukti benar. Tapi terkadang sulit ngontrol ngomongan nih (termasuk dalam tulisan ini), kadang kalau saya terlalu bersemangat karena saya merasa sudah merasakan manfaat sesuatu, saya jadi menggebu-gebu menjelaskan jika ditanya, sampai akhirnya yang saya ajak ngomong jadi merasa digurui atau disalahkan. Padahal maaf…bener-bener nggak sengaja, saya terkadang lupa bahwa yang saya bicarakan ‘out of the box’.

*maksudnya nulis soal susu dan petani susu tapi jadi curhat karena sering disinisin orang hehehe

 

Bayar KTP pake Kelapa March 4, 2009

Filed under: Environment — luhayu @ 3:14 pm

Kata siapa jaman sekarang udah ga berlaku sistem barter? Buktinya saya bisa bayar biaya urus KTP pake kelapa hahaha. Ceritanya, KTP saya yang udah habis masa berlaku perlu diperpanjang, jadi saya utuslah asisten di rumah untuk mengurusnya. Singkat cerita KTP saya beres dan cukup ditebus dengan duapuluh ribu rupiah saja. Tapi ternyata saudara si asisten yang mengurus perpanjangan KTP saya berminat dengan buah kelapa yang memang banyak banget di rumah (ceritanya sih saya punya empat pohon kelapa berbagai warna di rumah). Dipetiklah 15 buah kelapa, ketika ditanya harga saya bingung juga berapa ya harga per butir. Kalo disamakan dengan harga pasaran yang antara 1500-2000 per butir, kok gak enak ya. Soalnya kan ga niat jualan dan nyari untung. Akhirnya asal aja saya sebut seribu!! Setelah sepakat, maka si pembeli berniat mengeluarkan uang untuk membayar, tapi kemudian saya ingat saya belum bayar biaya perpanjangan KTP. Jadi akhirnya saya cuma bayar 5000 (walaupun kalau saya jual di atas seribu per butir saya malah ga perlu bayar sama sekali ya). Tapi saya sih sudah senang, nggak nyangka cukup bayar 5000 aja.

Lumayan juga ya kalo punya tanaman yang bisa menghasilkan. Jadi siapa takut jadi petani??? Hehehe

 

Ma…aku mau jadi petani… February 18, 2009

Filed under: Baby, Environment, Mind, bodhi — luhayu @ 5:51 am

Dulu… saya sering mikir, pikiran klasik sebenarnya, “mau jadi apa anak saya terserah dia, yang penting jadi orang yang berguna buat dirinya, syukur-syukur buat orang lain.” Gampang banget kesannya. Tapiiii setelah punya anak, sering juga sih terpancing untuk ikut-ikutan dan menjadi seragam dengan yang lain, karena ngeliat kok keren ya kalo anak saya jadi dokter spesialis, wah pasti senang kalo anak saya jadi penulis buku terkenal, di setiap bukunya pasti akan ditulis “thank you to my lovely mom”, bangga juga kali ya kalo anak saya jadi bintang film ngetop di hollywood dan kalo menang oscar nama saya disebut juga di atas panggung, hahaha berlebihan banget ini sih emaknya. Tapi jujur belum pernah mikir “Bahagianya kalau ternyata anak saya memilih menjadi seorang petani.”

Nah belakangan ini saya sering kepikiran tuh kalo seandainya anak saya nanti pengennya jadi petani. Saya udah sibuk mikirin nasehat yang akan saya berikan untuk dia. “Boleh nak, asal jadi petani yang punya lahan sejuta hektar…”. Hmmm tetap terdengar tidak merestui dengan tulus yak, hehe.

Tapi kenapa kok tiba-tiba saya kepikiran seperti itu? Asalnya ya nggak jauh-jauh, dari saya juga sebenarnya. Yang udah lama banget pengen punya lahan sejuta hektar (sekarang sih 100m2 aja belum punya). Yang belakangan ini makin ngebet pengen punya pertanian organik, tapi apa daya uangnya belum punya. Jadi seperti halnya orangtua ‘diktator’ yang lain, saya mulai melirik anak saya, hihihi. Bagaimana kalau seandainya dia yang berhasil mewujudkan pertanian organik sejuta hektar itu. Tapi ya saya nggak mau ah maksa-masa (masa seeeeh….:)) ), biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. tsaah… yakin buuu???

Oh ya, emang nggak takut jatuh gengsi kalo ada yang nanya anaknya kerja apa? trus jawabnya jadi petani!! Gengsi??? Saya sih masih punya urat malu, tapi kalo gengsi ga tahu tuh udah sejak kapan saya ga punya. Cieee gaya sejuta!!!

Walaupun mengaku akan membiarkan segalanya mengalir sesuai skenario kehidupan, saya tetep posting di sini dan dan di blog. Sapa tahu nanti-nanti kalo anak saya baca, dia jadi tahu kalo mau jadi petani adalah mulia dan mama nya merestui. Tapi petani tanaman lho ya, bukan petani tambak. Di tulisan ini dia akan lihat, bahwa untuk makan itu kalau tahu prosesnya dari awal akan membuat diri kita semakin mencintai alam dan semesta ini, dan menjadi orang yang bersyukur. Dia bisa lihat fotonya panen labu, menunggu sebulan supaya labunya matang sebelum siap disantap sebagai nugget ikan!!! horeeee

Disini nih tumbuhnya labu parang si orange lezat menggoda itu. Bijinya dari labu parang yang biasa diolah untuk maemnya Bodhi. Tanah tempatnya tumbuh di tanah kosong belakang rumah, punya tante saya hehehe

dsc009071

Baby Farmer. Habis panen gosok minyak telon dulu biar ga masuk angin. tgl 10-Jan-2009.

dsc00909

sebulan kemudian baru menguning!! Pengen buktiin hasil interview ke petani labu, katanya kalo makin lama disimpan makin manis rasanya, dan ternyata benar!!
dsc00844
Ini setelah jadi fish nugget. Dapet resepnya dari mbak Inta, hasilnya emang enyaaak. Ada rasa manis dari labu nya, ga perlu tambah gula kaaan jadinya. Kalo ikannya lebih ke bentuk pesawat, harap maklum karena ga pake cetakan tapi dibentguk pake tangan.Kalo ada juga yang udah sompal, harap maklum juga sebelum dimakan anak, emaknya wajib jadi tester ^_^
dsc00845
Nah ini eksekutor fish nuggetnya. Hap lalu dilahap, hehehe.
dsc00847
 

Tips Ramah Lingkungan July 12, 2008

Filed under: Environment — luhayu @ 2:32 am
Tags:

Sering belanja buah atau sayur di supermarket? Belanjanya kadang cuma 2 buah alpukat, 3 buah jeruk. Atau seikat bayam plus seikat sawi? Biasanya per item dibungkus terpisah kan? Bahkan kadang beli 3 butir kentang dibungkus dengan plastik 2 kg. Nah pernah terpikir nggak dengan cara berbelanja seperti itu kita sudah memboroskan plastik, yang ujung-ujungnya berarti kita nggak ramah lingkungan. Bagaimana kalau cara pengemasannya diubah? 2 buah alpukat digabung dengan 3 buah jeruk. Seikat bayam digabung dengan seikat sawi. Tentunya setelah masing-masing ditimbang ya. Kemudian mintalah kepada petugas untuk membungkusnya dalam satu kantong plastik. Lalu semua label harga ditempel di plastik luar. Jangan lupa ingatkan kasirnya ya, kalau dia mesti scan lebih dari satu kali, biar ngga disangka ngutil hehehe. Nggak usah malu. Kalau sampai ditatap dengan tatapan aneh oleh petugas supermarket, dijawab aja: “save our planet mbak/mas” tentu saja dengan senyum manis ramah lingkungan yang kita punya :P Bahkan sering saya liat (saya juga sering sih :P ) belinya cuma satu biji,secara emang perlunya nggak banyak. Tempel aja langsung harganya di buah atau pengikat sayurnya. Lumayan lho mengurangi sampah plastik di rumah dan mengurangi konsumsi plastik yang sebenarnya nggak perlu. Mau mencoba?

 

sok sibuk June 5, 2008

Filed under: Baby, Environment, bodhi — luhayu @ 5:38 am
Tags: ,

Wiiih lumayan lama ga apdet blog ya. Maklum lagi exciting sama hal baru jadi kalo online sekarang ini lebih sering browsing tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) buat Bodhi. Nyari bahan makanan yang oke dan bisa diberiklan untuk baby umur 6 bulanan.Ternyata mengasyikkan juga. Ngenalin makanan baru ke Bodhi, trus liat reaksinya dia, deg-deg an loh. Suka nggak yaaaa, dilepeh gak ya… kalau ternyata doyan duh rasanya habis dapet undian 100 juta huehehe. Sampe saat ini sih 98% dia doyan makanannya. Yang rada gagal diperkenalkan beetroot, hehehe kalo menurut mamanya sih emang kurang enak rasanya, tapi warnanya cantik, merah menggoda gitu, tapi kurang sukses juga menggoda selera makan Bodhi. Kalo alpukat, biasa-biasa aja tapi habuis kalo dikasi. Tapi kalo pumpkin, sweet potato alias ketela rambat, potato, pisang, bubur susu beras merah, beras putih, brown rice, hajarrrr semuanya :) Apalagi kalo dibuatin puree apple, waaah slurp..slurp…malah sampe ga sabar minta disendokin hihihi. Seneng deh, kaya’nya ga sia-sia masakinnya.

Oh ya karena bertekad sebisa mungkin ngasi home made MPASI, sekarang juga ada kesibukan baru. Belanja khusus buat maemnya Bodhi. Walaupun jaman sekarang di lingkungan saya kok serasa saya jadi orang aneh karena ngasi bayi bukan makanan yang instant. Sampai asisten di rumah bilang,”Bodhi bek tu natur nih Bu?”. Belum lagi keliatan tuh tatapan ‘jijik’ kalo tahu bubur susu nya Bodhi campurannya ASI. Ah biarin aja, toh selain yang ngerasa aneh dan nganggep saya nggak modern, masih ada kok yang jadi pengen tahu gimana sih bikin makanan bayi 6 bulan. Ceritanya miinimal seminggu sekali saya ke toko organic dekat rumah buat beli bahan makanan mulai dari beras sampe ketela rambat. Di situ ketemu temen-temen baru deh jadinya, salah satunya ada yang lagi hamil, ngeliat saya cuma beli seperempat kilo pumpkin, 3 butir kentang, dikit-dikit gitu deh, penasaran juga dia hihihi. Saya cerita aja kalo itu buat bayi, makanya beli dikit-dikit (kalo buat mama papanya seh nggak organic dulu deh, lumayan juga terasa di kantong). Keterusan deh jadi cerita-cerita, kalo pumpkin digimanain masaknya. Bikin puree apel itu gimana. Kenapa ga boleh pake garam, gula apalagi penyedap rasa, dan kenapa saya ngga kasi yang instant aja biar ga repot. Wah seneng deh bisa berbagi ilmu dan jadi bikin si calon ibu itu berniat ngasi home made MPASI juga buat babynya nanti. (Kalau kata ija temen saya seh, saya seneng karena bisa menjelaskan panjang lebar ke ibu itu secara hobi saya emang menjelaskan, hihihi). Trus ama si mbak kasir ditambahin deh,”ada lho yang belanja ke sini karena anaknya ternyata doyannya pumpkin organic, karena sebelumnya dibeliin yang non organic anaknya malah ga mau makan, eh setelah beli di sini malah jadi doyan pumpkin, katanya lebih manis dan legit”. Hehehe mungkin si mbak kasir promosi, tapi kalo menurut saya emang bener seperti itu sih. Anak apalagi bayi punya sense yang lebih sensitif untuk milih mana yang terbaik buat mereka.

Heeee kok jadi ngelantur ya ceritanya. Hmm mudah-mudahan baby Bodhi saya selalu doyan masakan mamanya yang ga pinter masak ini yah. Mudah-mudahan ga sering GTM (gerakan tutup mulut). Yah kalaupun terjadi, semoga mamanya ini tabah hihihi dan bisa melewatinya bersama-sama. Bersama kita bisa ya Nak :)

 

Bervegetarian, sanggupkah saya? May 9, 2008

Filed under: Environment, Mind — luhayu @ 11:12 pm
Tags: , ,

Menarik sekali membaca fakta yang ditulis Dee di blognya. Bahwa dengan bervegetarian kita mampu membantu bumi untuk berhemat :

• 317.520 liter air
• 111 kilogram tanaman biji-bijian
• 693 m2 lahan
• 58 liter bensin
• 183 kg kotoran ternak

Saya jadi ingat dulu saya pernah berkomitmen untuk menjadi seorang vegetarian dan sempat saya jalani beberapa saat. Awalnya saya pernah bervegetarian hanya setiap senin dan kamis. Itu sanggup saya jalani beberapa tahun, mungkin 3 tahunan. Selanjutnya saya ingin maju, menjadi vegetarian full. Aduh susah sekali, secara semakin kuat bertekad kok ya semakin banyak godaan. Dari yang semakin banyak undangan pesta karena mulai banyak teman-teman yang menikah. Dari mulai berpenghasilan yang membuat tergoda untuk membeli makanan yang ‘lebih mahal’ dari kemampuan sebelumnya. Akhirnya gagal total. Tentu bukan salah si penggoda, tapi salah saya kenapa mau tergoda. Akhirnya saya kembali hanya bervegetarian senin dan kamis. Lalu ditambah setiap Purnama dan Tilem. Hush jangan berpikiran saya sedang cari ilmu ya :P Tapi…ya sebenarnya memang sedang menambah ilmu sih, ilmu menahan nafsu :D

Sempat juga sih saya menjadi vegetarian full, yaitu waktu bapak meninggal. Saya disarankan untuk vegetarian oleh Bhikku Nyana Prathama selama 49 hari, untuk melapangkan jalannya Bapak dan sebagai wujud bakti seorang anak. Saya sanggup menjalankannya walaupun 1 minggu saya lewati di Palembang untuk Imlek yang mana berarti berlimpah makanan uenak (pempek siapa yang ga tahu sih enakknya hehehe), kemudian 3 minggu di Sorowako Sulawesi untuk tugas kantor, yang lagi-lagi gudangnya makanan enak berdaging. Pernah makan Sop Konro? Sop Saudara? Ya disana rumahnya hehe. Tapi saya sanggup tuh. Tapi selepas dari 49 hari itu saya kembali menjadi part time vegan. Alasannya susah cari makanan yang betul-betul untuk vegetarian. Kalaupun ada yang berbahan gluten, hiiii saya tidak suka. Lagian makan itu sama saja saya tetap menipu pikiran saya kan? Katanya mo nggak makan daging tapi masih makan yang dimirip-miripkan dengan tekstur daging. Sama juga boong. Sekalian deh daripada boong, makan aja dagingnya, hueeee tetep salah ya saya :P

Tapi saya mau lagi ah mencoba. Karena ternyata nggak cuma buat saya manfaatnya, dan bukan hanya sekedar alasan menuruti ajaran agama. Tapi ada efek yang lebih besar yang ditimbulkannya. Dan efek itu sejalan dengan ajaran selalu berusaha untuk membuat semua mahluk hidup berbahagia.

Sanggupkan saya? Semoga….

 

Baby Green April 28, 2008

Filed under: Baby, Environment, Mind, bodhi — luhayu @ 1:09 am
Tags: , ,

Yang lagi happening sekarang nih segala sesuatunya dihubung-hubungkan dengan warna ijo alias ramah lingkungan. Sebagian karena latah sebagian memang udah dari dulu menerapkan dalam setiap aspek kehidupannya karena rasa tanggung jawab akan kanker yang diderita oleh bumi yang disebabkan oleh manusia.

Kalo saya mau disebut latah atau ikut-ikutan terserah sih. Mumpung lagi ‘panas’ topic nya apalagi belum lama ini tgl 22 april diperingati sebagai hari bumi, yuks ngomongin lagi yang green green ini. Kalau dulu sebatas diri sendiri (+suami) berusaha mengurangi sampah demi bumi yang lebih sehat (walaupun saya sadar usaha saya keciiiiil banget), kemudian bertambah nih sekarang dengan mengusahan bayi saya sebagai bayi ramah lingkungan (waks apa lagi bahasanya nih). Karena kehadirannya nggak dipungkiri akan menambah volume sampah bumi dari buangan yang dia hasilkan. Tapi karena dia masih kecil, maka tanggung jawab orangtuanya lah untuk meminimalkannya. Dan mudah-mudahan usaha kami ini bisa membekas nanti dalam diri dia, untuk menjadi manusia ramah lingkungan bukan manusia penambah beban bumi yang udah sangat merana ini.

Apa aja sih usaha kami? Belum banyak sih, dan masih dari hal-hal kecil seperti….

* Baby Bodhi itu nggak tahan udara panas, dan cuaca belakangan ini makin susah diprediksi. Sebentar panaaas tiba-tiba angin bertiup membawa awan lalu byuuuurrrr hujan tumpah tanpa ampun. AC sih ada di kamar tidur, tapi seminimal mungkin kami menggunakannya. Kami usahakan jendela kamar yang sangat tropis itu (jendela kami lebar dan tinggi, menghadap ke timur dan di lantai 2 sehingga sangat full matahari) ditutup korden sebagian untuk meminimalkan cahaya matahari yang masuk ke kamar terutama setelah di atas jam 8 pagi. Selain jendela dibuka lebar-lebar untuk mengundang udara segar masuk ke kamar. Pintu kamar juga dibuka lebar-lebar. Usaha ini lumayan mampu menahan saya untuk tidak menyalakan AC sampai jam 12.30. Namun semua itu memang sangat tergantung cuaca. Ada kalanya udara sangat panas dan pengap sehingga Bodhi nggak bisa tidur siang, terpaksa AC dinyalakan lebih pagi. Lalu temperatur AC nggak pernah dibawah 25 derajat celcius supaya save energy. Gitu sih dari yang saya baca-baca. Katanya setiap 1 derajat suhu yang kita naikkan akan menghemat 5% dari energi yang digunakan. Kalau satu orang bisa menghemat 5% kalo ada 100 orang aja yang mau melakukan hal yang sama, saya pikir lumayan banget penghematan yang sudah kita lakukan.

* Hemat Diapers

Pemakaian diapers adalah hanya disaat darurat seperti: hujan terus menerus sehingga popok atau celana menipis stocknya. Dan juga hanya saat nggak di rumah karena nggak mungkin kan basah-basahan di jalan atau di mall :D Malam hari juga Bodhi nggak pake diapers, dan beruntung sekali mulai umur 3 bulan dia udah jarang ngompol malem, semua ditabung sampe besok paginya. Jadinya saat bangun tidur, biarpun sudah ditatur (saat ini masih di washtafel, bodhi belum punya potty euy) tetep aja dia pipis di celana berkali-kali. Kenapa saya niat banget nggak membiasakan bodhi pake diapers, karena bahan diapers itu baru hancur ribuan tahun di bumi sama halnya dengan plastik. Jadi sebisa mungkin saya kurangi pemakaiannya, sekalian hemat uang belanja bulanan juga sih hehehe.

* Hemat tissue basah

Sampe umur 2 bulan, sistem pembuangan pada pencernaan bayi masih belum sempurna sehingga sehari bisa pup 6 sampe 10 kali. Di awal-awal kaget juga, seminggu ngga sampe deh udah habis tissue basah sekotak. Wah tahu sendiri kan harga tissue basah minimal 10.000 sekotak refill. Dan juga tissue bahannya dari kayu pohon kaaan, nah berapa banyak pohon ditebang untuk bersihin pup nya Bodhi? hehehehe. Akhirnya ketemu satu cara, satu lembar tissue disobek 3 karena berdasarkan pengalaman dari selembar tissue ga semuanya kepake karena meskipun sering pup kuantitasnya dikit-dikit. Nah setelah pake tissue dilap deh pake lap basah. Nah setelah Bodhi makin gede, pupnya udah teratur sekali atau dua kali sehari, makin hemat deh tuh si tissue basah.

* Hemat air

Bekas air mandi Bodhi nggak langsung dibuang, tapi ditampung dulu. Buat apa? Air mandi pagi untuksikat kamar mandi, air mandi sore untuk cuci kaki mama papanya. Lumayaaan bisa hemat air bersih yang berarti bisa hemat listrik juga.

Usaha kami baru sebatas itu. Kalo ada saran-saran lain dengan senang hati akan kami coba terapkan. Kenapa kami berbuat ini? Karena kami sayang semuaaaaa :)

 

My Baby is the Best April 7, 2008

Filed under: ASI, Baby, Environment, Mind, bali, bodhi, books, friends — luhayu @ 3:56 am
Tags:

Karena tulisan ini lebih cocok sebagai ceritaan ibu-ibu, jadi untuk yang berminat silakan berkunjung ke my motherhood experiences, dan untuk yang ga berminat silakan berkunjung juga huehehehehe….

 

Desa Internasional March 7, 2008

Filed under: Environment — luhayu @ 3:44 pm
Tags:

Duluuuu sekali waktu pertama kali ke desa Kerobokan di tahun 1986, daerah ini boleh dibilang masih “primitive”. Secara masih banyak ibu-ibu bertelanjang dada, jalanan masih jalan tanah berlubang-lubang, masyarakatnya belum punya kamar mandi, yang ada sebuah kolam sumber air (yang disebut bulakan) di tiap rumah dimana semua kegiatan yang memerlukan air dilakukan disana. Tapi dulu itu suasananya indaaaah sekali, hijau, sejauh mata memandang adalah sawah sawah sawah. Masih ingat setiap akhir pekan diajak bapak ke tanah kami di desa Kerobokan. Di tanah yang hanya diisi bangunan semi permanent, tolong jangan bayangkan seperti villa di puncak atau villa yang sekarang banyak bertebaran di sekitar kerobokan. Tapi di bangunan sederhana itu kedamaian sederhana menjadi milik kami. Setiap sabtu siang atau minggu siang kami sekeluarga akan  berkunjung kesana. Setelah melewati jalanan kampung berlubang-lubang kami akan tiba di ‘villa’ kami disambut anak-anak kampung yang sangat amat jarang melihat kendaraan masuk ke desanya. Sedikit ironis, secara daerah ini masih masuk wilayah Kuta yang terkenal di seluruh dunia itu. Begitu sampai kami akan bersih-bersih sedikit kemudian saya menemani ibu mencari bahan masakan untuk makan malam. Iya mencari, bukan membeli. Di sekitar kami begitu banyak jenis bahan yang bisa dipakai untuk makanan. Tapi yang jadi favorite adalah urap daun turi, tahu goreng (yang ini dibawa dari Denpasar sih), sambal goreng, tumis kakul (sejenis keong sawah). Terkadang urap daun turi dicampur dengan kecipir. Kalau sedang musim tanam kedelai berarti ditambah lagi dengan kedelai rebus yang maniiisss sekali karena fresh from kebun. Trus trus bisa makan sirsak sampe puas, secara pohon sirsak tumbuh di sepanjang jalan dan buahnya bisa diambil sesukanya karena tidak ada yang mengclaim bahwa sirsak itu milik perseorangan. Pokoknya makan ala kampung itu bener-bener mak nyusss deh.

Sekarang setelah dua puluh tahun berlalu? Kerobokan sudah menjadi desa international mengikuti saudaranya Kuta, Seminyak dan Legian. Kerobokan menjadi surga tempat villa-villa yang dimiliki kebanyakan oleh orang Jakarta bahkan orang asing yang meminjam nama orang lokal. Sawah? masih ada sih…tapi sudah tidak dipinggir jalan lagi, semuanya ngumpet di belakang restaurant fine dining dan menjadi property mereka untuk dijadikan salah satu nilai plus restaurantnya. Atau ngumpet dibelakang toko-toko souvenir. Sedih? ya iyalah….yang dulu begitu mudah melihat sawah sekarang mesti ngintip-ngintip ke belakang rumah orang.

Kalau dulu jumlah warung bisa dihitung sebelah tangan, sekarang buanyaaak banget. Mini market? mau yang buka 24 jam atau yang buka sesuka hati pemiliknya? Mau yang franchise atau milik orang lokal? tinggal pilih. Mau spa atau gunting rambut, tinggal pilih salon kampung atau spa dengan beragam perawatan ala india, ala jawa, ala jepang, tinggal pilih asal punya duit.  Mau makan tinggal pilih, tipat cantok di warung atau makanan italy berkonsep warung, atau warung makanan organic, ada semuanya. Hmm mau beli tas? Yang payet-payet 30ribuan ada, yang harga setelah diskon 60% masih 400 ribuan juga ada. Mau sekolahin Bodhi nanti dimana? Mau di sekolah national plus, sekolah international, sekolah inpres, tinggal pilih (gaya banget serasa banyak duit hehehe) Begitu banyak pilihan, begitu rame, begitu…begitu…yah begitulah.

Banyak pembangunan dan banyak fasilitas memang enak dan memudahkan, tapi kalau bisa diseimbangkan dong dengan pembangunan lingkungannya. Jangan sawah seenaknya saja diuruk tapi tidak memikirkan efek lingkungannya, sekarang kan jadi banjir tuh jalan raya kerobokan kalau hujan deras seharian. Pokoknya saya kangen dengan bau padi di sawah seperti jaman dulu itu, saya kangen metikin sirsak di pinggir jalan. Sekarang, boro2 bisa metik sirsak, jalan aja kudu waspada, secara jalanan rameee banget dan nggak ada trotoar pula, halah payah payah. Trus saya kangen juga mandi di bulakan yang bening, sejuk….

*yang lagi kangen bau padi