Luh Ayu Writing

From mind to words

Bali Buddha February 9, 2009

Filed under: review — luhayu @ 9:19 am

Kali ini saya ingin me-review sebuah tempat yang bernama Bali Buddha. Sebuah cafe/bakery/health food store, yang berlokasi di Kerobokan (karena saya belum pernah mengunjungi cabang nya yang di Ubud).

Tempat yang menyediakan berbagai pilihan makanan dan bahan makanan organik ini, sudah lama menjadi tempat favorite saya. Cake atau roti-roti yang disediakan, pas dengan selera saya apalagi kalau sudah membaca bahan-bahan yang terkandung di dalamnya yang tercantum di setiap wadah kue, hmmm makin menggiurkan karena tidak perlu takut melahapnya mengingat bahannya adalah organik dan gulanya pun kebanyakan menggunakan palm sugar bukan gula pasir. Yes!!! Misalnya nih yang sering jadi pilihan saya, carrot cake, chocolate mud cake, american apple pie crumble. Bali Buddha juga menyediakan pilihan bagel dan cookies yang asli enaaak banget dan tidak bikin eneg karena terlalu manis. Tapi yaaaah saya cuma lebih sering menelan ludah, mahallll.

Kalau untuk salad, saya paling sering beli dressingnya aja untuk dioles dengan roti di rumah. Favorite saya Greek Combo (feta cheese, kalamata olives & sundried tomato). Slurrppp asin asin segerrrr. Dia masih punya banyak pilihan spread (dressing salad) seperti hummus, barcelona, mediterranean, dll. Sedangkan untuk main course tersedia juga pilihan Indonesian food (yang nasinya menggunakan brown/red rice), vegetarian menu, raw vegan food menu, Italian menu. Oh ya soup Tom Yam juga ada, dan yang pasti enak juga menurut saya.

Yang paling seru nyoba-nyobain minumannya.  Misalnya yang sudah saya coba Detox (lemon, honey, aloe vera, ginger, mint or cayenne) juga Ultra Enzyme Drink (papaya, ginger & lemon). Tapi masih banyak lagi pilihan di golongan Super Health Drinks. Kalau yang healthy drink ada bermacam juice dan lassies juga milk shake. Yang belum pernah saya coba dari golongan Fresh Nut Milk, seperti susu beras merah, susu kacang almond, susu mente, susu walnut atau susu biji bunga matahari. Hmmm kira-kira gimana ya rasanya. Tapi susu kedelai atau susu kacang ijo juga ada kok, kalau misalnya rada males mencoba yang agak tidak biasa. Bali Buddha juga punya pilihan jamu-jamuan, seperti jamu tolak angin, jamu beras kencur, dll. Dan saya sudah nyoba jamu tolak anginnya, hehehe seperti minum lumpur tapi setelah ditambah madu dan perasan air lemon, bisa ditenggak habis juga kok. Terakhir ini pas kena flu berat, ke Bali Buddha buat minum Immuni Tea. Saya tertarik nyoba karena membaca penjelasannya sbb: The blend stimulates immun system helping to shorten the duration illness and prevent the development of flu and cold, etc. Waah siapa yang nggak mau mempercepat sakit flu?? hehehe. Pertama kali nyoba langsung pulangnya menguap 27 kali (hahaha berlebihan banget ga sih kalo nguap aja dihitung), sebab sebelumnya karena serangan virus flu itu bikin saya susah tidur. Ya udah besoknya kesana lagi untuk minum dan setelah itu saya benar-benar sembuh. Nggak tahu deh, itu karena tea nya atau sugesti aja ya. Tapi yang jelas flu supaya cepat sembuh ya harus cukup istirahat kan?

Bali Buddha ini juga jadi tempat belanja Bodhi sejak mulai makan padat, dan Bodhi tahu lho mana tempe Bali Buddha dan mana yang bukan. Mungkin dari rasanya udah beda ya, karena yang di pasar kan seringkali nggak murni kedelai. pisang ambon nya juga ok, manis dan legit karena pasti matang pohon bukan karbitan. Jadi, boleh dicobalah sekali-sekali makan disana.

 

Jalan-jalan ke Bebek Bengil September 29, 2008

Filed under: bali, bodhi, foto, review — luhayu @ 2:43 am
Tags:

Kok judulnya jalan-jalan bukannya makan-makan? Secara Bebek Bengil itu kan restoran yang saya yakin buanyaaak banget yang tahu dan memfavoritekan restoran ini. Kenapa jalan-jalan, karena pas hari minggu kemarin kesana memang lebih enjoy suasananya daripada makanannya. Makanannya biasa aja, mungkin memang lebih sesuai ke selera turis yah. Maaf ya buat penggemar fanatik Bebek Bengil, ini hanya masalah selera. Dan yang belum pernah icip-icip dan baru dengar namanya yang melegenda, jangan jadi ragu untuk datang…silakan datang silakan dijajal, selera orang kan beda-beda.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih untuk seorang teman dari Ubud yang mensponsori acara makan-makan kemarin. Tapi kita enjoy banget dengan suasananya, dengan keramahan pelayanan Bebek Bengil, juga untuk jamuan pre lunch di rumahnya yang asri dan sejuuuk (kalau aku orang kaya pengen punya rumah di Ubud juga hueeee). Dan yang paling dinikmati kemarin itu mendengarkan gamelan rindik (kalo saya ga salah) di tepian sawah yang sedang mulai berbulir padinya. Hmmm surga dunia yang sesungguhnya nyam nyam nyam

Papa & anak yg sumringah

Papa & anak yg sumringah

 

Rectoverso – Sentuh Hati dari Dua Sisi September 27, 2008

Filed under: books, review — luhayu @ 4:28 am
Tags: ,

Sepemahaman saya, dharma adalah kehidupan itu sendiri. Segala sesuatu yang terjadi, yang kita alami, yang kemudian kita resapi dan maknai setiap kehadirannya sebagai usaha untuk selalu membawa diri kita dalam kesadaran, itulah dharma. Dharma sebagai alat untuk mencapai pencerahan sejati. Sebagai perahu untuk menyeberangkan kita melewati lautan samsara.

Mendengar buku dan membaca musik Rectoverso karya Dewi Lestari, rasanya saya seperti membaca buku dharma dan mendengar parita yang dilagukan dengan bahasa sehari-hari. Tidak perlu menyebut kata Tuhan beribu kali untuk memberikan label karya ini adalah karya religious. Karena ketika buku ini menceritakan segala hal yang sesungguhnya terjadi dalam keseharian kita, bagi saya inilah karya religious. Dan juga ketika buku ini tidak menghakimi secara hitam putih, dimana kita pembacanya dihormati karena dianggap masih memiliki akal untuk berpikir dan diberikan kesempatan menggunakan akal kita untuk merenung dan memikirkan apa sebenarnya yang sedang terjadi, apakah sesuatu yang hitam, sesuatu yang putih atau (seringkali )sesuatu yang abu-abu. Oleh sebab itu juga bagi saya buku ini adalah buku religious dan album ini adalah album religious. Karena kembali sesuai pemahaman saya, ketika kita tidak lagi menilai sesuatu dengan benar atau salah, ketika kita tidak lagi terpengaruh kondisi untuk memutuskan sesuatu saat itulah pencerahan sedang kita nikmati. Begitulah pengalaman yang saya rasakan saat mendengarkan buku ini dan membaca musiknya.

Ada yang berkomentar, nikmati sekaligus seperti menikmati kopi susu. Baru akan kamu rasakan esensi sesungguhnya dari buku ini. Tapi seperti juga pengalaman bathin yang tidak akan pernah sama yang akan dilalui oleh orang yang berbeda, saya juga punya cara saya sendiri untuk mengerti buku dan musik ini. Pertama saya nikmati dulu musiknya, karena di siang hari saat buku dibubuhi tanda tangan asli Dewi ‘Dee’ Lestari ini saya terima, tidak memungkinkan saya untuk membaca bukunya dengan tenang. Ya karena seperti bukunya yang lainnya, buku dee tidak bisa dibaca sambil lalu untuk bisa dimengerti. Itu bagi saya, mungkin berbeda bagi orang lain yang lebih cepat processor otaknya J Hmmm music dan lagunya daleeem, sentuhan orkestranya terasa, dan bukan saya saja yang menikmatinya, malaikat kecil saya yang baru berusia 10 bulan yang untuk saat ini masih seperti bayangan saya alias nempel hampir di semua aktifitas saya, juga turut menikmatinya. Bodhi tenaaaang sekali mendengarkan lagu ini, sambil bermain dan sesekali menggoyang-goyang tangannya seolah menari. Biasanya kalau tidak sambil mendengarkan lagu??? Jangan harap dia anteng dalam hitungan 5 menit, pasti sedang menjelajah. Selanjutnya di malam hari baru saya bisa nikmati bukunya. Belum sambil mendengarkan albumnya. Mulai terbuka makna setiap lagunya. Ada yang sesuai perkiraan saya, ada yang melenceng jauh. Ada yang saya pikir bahwa tokoh wanita yang sedang bernyanyi, eh ternyata itu tokoh prianya. Hmmmm bahkan setelah say abaca, seperti ada beberapa kisah yang perjalanan hidup Dee ya J Dan banyak juga kalimat yang digunakan dee seperti de ja vu saat membaca kisah dharma. Dan jujur belum semua cerita saya paham, perlu dibaca ulang. Duh jadi malu betapa lemotnya saya ini. Cerita yang jadi juara bagi saya adalah Malaikat Juga Tahu dan Tidur. Curhat buat Sahabat, Cecak di Dinding, Aku ada, dan Firasat tentu saja (perasaan hampir semua ya hahaha), juga oke bangets. Khusus lagu Firasat, tanpa bermaksud membandingkan dengan Marcell, beda banget setelah dinyanyikan Dee, mungkin karena dibarengi dengan kisah dari bukunya yang bikin lagu ini jadi daleeem banget dan suara ‘wanita’ Dee bikin saya yang juga wanita ini lebih dipermainkan perasaannya.

Saat saya menulis ini diiringi oleh alunan suara Dee, uuuh rasanya sambil merinding nulisnya. Kapan ya saya bisa bertemu dengan penulis pujaan saya ini. Tanda tangannya untuk saat ini sudah cukup lah. Mungkin nggak ya Dee datang ke Ubud Writer Festival tahun ini? Saya ingin bertemu dengan Dee, sambil mengenalkan Bodhi malaikat kecil saya, yang namanya terinspirasi dari tokoh Supernova. Saya sedang mengirimkan gelombang pikiran saya nih Dee, suatu saat kita pasti bertemu dan semoga untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan dan semesta ini (yang saat ini idenya sedang menari-nari di kepala saya, tapi belum saatnya orang lain tahu, jieeeeh sedikit bermisteri nih).